<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1578499656739805162</id><updated>2011-07-28T06:50:54.420-07:00</updated><category term='perjalanan religi'/><title type='text'>Jendela Hati</title><subtitle type='html'>Pikiran-pikiran kita bebas mengembara, siapa yang dapat menerkanya? Mereka bagaikan bayang-bayang malam yang berkelebat di kepala kita</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://sehry.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1578499656739805162/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehry.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Sri Haryati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15482356378009856181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://2.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/S0VZ7pqwnfI/AAAAAAAAAOk/5mumwR-YU24/S220/flower12a.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>40</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1578499656739805162.post-7362335822419220001</id><published>2009-07-05T09:38:00.001-07:00</published><updated>2009-07-05T09:41:42.167-07:00</updated><title type='text'>Beli Sepatu ke Pasar Baru</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/SlDXldSntZI/AAAAAAAAAOc/2635yqyPpfo/s1600-h/pasar+baru-BilBul.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/SlDXldSntZI/AAAAAAAAAOc/2635yqyPpfo/s200/pasar+baru-BilBul.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5355016995461379474" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/SlDXT2qcfUI/AAAAAAAAAOU/govfhfTMeQc/s1600-h/pasar+baru-Sin+Lie+Seng.2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/SlDXT2qcfUI/AAAAAAAAAOU/govfhfTMeQc/s200/pasar+baru-Sin+Lie+Seng.2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5355016693034548546" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hari Minggu kemarin saya ke Pasar Baru. Dalam rangka membeli hadiah sepatu buat keponakan saya, Bulan, yang berhasil masuk SD pilihan (masuk SD aja dua hari tesnya bikin para orangtua mules perut)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau mau beli sepatu identik dengan Pasar Baru. Selalu begitu dari masa ke masa. Soalnya dari zaman kumpeni dulu tuh lokasi yang deketan sama Kali Ciliwung udah dikenal sebagai pertokoan yang jual sepatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebut aja toko Sin Lie Seng, yang sampai hari ini alhamdulillah masih magrong-magrong berdiri. Tuh toko udah bediri dari tahun 1941 (bayangin betapa capeknya berdiri terus? Hihihi) Toko ini sudah dijalankan oleh entah generasi yang ke berapa. Yang jelas, pengelolanya mengalami banget pahit manisnya berniaga sepatu sejak zaman Indonesia dijajah Belanda, Indonesia merdeka, Indonesia kena krismon dan badai reformasi, sampe sekarang Indonesia masih ketar-ketir di sektor ekonomi. Tapi toko-toko sepatu di Pasar Baru masih dikunjungi pelanggan. Baik pelanggan setia yang bias beli di sini dari turunan generasi sebelumnya, sampai pelanggan luar kota yang mungkin juga baru mampir ke sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daerah Passer Baroe (begitu namanya sesuai dengan judul di gapura pas masuk dari seberang Gedung Kesenian Jakarta) dibangun tahun 1820 oleh pemerintah kumpeni untuk orang-orang kaya Batavia (wuiiih zaman dulu orang Batavia udah kaya-kaya, ya?) Orang Betawi asli ato orang Belanda yang tinggal di Betawi?) Dulu-dulunya nih di Passer Baroe ini ada pria Betawi bernama Sapie Ie. Dia warga keturunan Cina yang oleh orang-orang Belanda dipercaya banget buat betulin dan bikin sepatu berhak tinggi. Bisa sepatu dansa, atau sepatu prajurit (kebayang kan gimana sepatu prajurit?) Tapi lama-lama Sapie Ie lebih dipercaya jadi pembuat sepatu dansa. Ya maklum-lah Noni-noni dan Sinyo-sinyo Belanda kan demen dansa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Okelah pokoknya kalau mau beli sepatu atau sandal, di Pasar Baru nggak penasaran deh. Model macem-macem. Kebanyakan emang buatan lokal, tapi bagus-bagus dan awet, kok. Kalau bulan-bulan kayak Juni-Juli ini banyak yang kasih diskon, ya meski enggak semua toko ngasih diskon, sih. Selamet berbelanja ye!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1578499656739805162-7362335822419220001?l=sehry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehry.blogspot.com/feeds/7362335822419220001/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1578499656739805162&amp;postID=7362335822419220001' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1578499656739805162/posts/default/7362335822419220001'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1578499656739805162/posts/default/7362335822419220001'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehry.blogspot.com/2009/07/beli-sepatu-ke-pasar-baru.html' title='Beli Sepatu ke Pasar Baru'/><author><name>Sri Haryati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15482356378009856181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://2.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/S0VZ7pqwnfI/AAAAAAAAAOk/5mumwR-YU24/S220/flower12a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/SlDXldSntZI/AAAAAAAAAOc/2635yqyPpfo/s72-c/pasar+baru-BilBul.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1578499656739805162.post-5279065706831073112</id><published>2009-02-22T20:25:00.000-08:00</published><updated>2009-02-22T20:26:19.059-08:00</updated><title type='text'>Dari Angkot ke Angkot</title><content type='html'>Hari ini saya pagi-pagi sudah berangkat menuju tempat liputan pertandingan futsal antar murid TK di Pondok Gede, Bekasi. Sebagai pemakai angkutan umum yang setia (karena hanya itu pilihannya), rute menuju ke Pondok Gede sudah ada dalam catatan buku kecil saya. Apalagi wilayah yang akan saya tuju ini seingat saya, belum pernah saya injak. Panduan angkot ke sana saya dapatkan dari tanya sana-tanya sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari rumah menuju Klender dulu, untuk mengganti metromini 45 ke Pondok Gede. Arus lalu lintas melewati Pondok Bambu yang di kiri kanan banyak toko furniture yang biasanya tersendat, kali ini lancar. Sampailah akhirnya saya di tujuan akhir metromini 45 di Pondok Gede dan berganti lagi dengan angkot kecil berwarna coklat. Di dalamnya ada tujuh ibu-ibu berkerudung seperti akan berangkat ke pengajian. Eh, setelah saya lihat sepatunya dan kaosnya, ternyata mereka habis berolahraga. Mata saya yang sedang konsentrasi mencari lokasi tempat liputan sepanjang jalan, sempat pecah juga oleh isi obrolan mereka dengan dialek Jawa campur Betawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bayangin aja, gimana enggak sebel kalau istri ketiga tidur-tidur aja enggak ngapa-ngapain terus istri pertamanya kerja?” tanya seorang ibu yang duduk di pojok belakang supir memancing jawaban temannya. “Pulang dari pasar udah capek, dia lihat istri ketiga lagi tidur enak,” lanjut ibu itu karena belum ada jawaban dari teman-temannya. Ditambahin kalimat itu, ibu-ibu lain langsung berkomentar. Dalam hati saya bertanya, kalau istri pertama dan ketiga tinggal dalam satu rumah, kemanakah istri yang kedua? Hush! Kok saya jadi larut dalam gosip ibu-ibu yang kelelahan olahraga? Pertanyaan saya itu enggak terwakilkan oleh salah satu ibu pun di situ. Malah ibu yang duduk di pojok belakang supir mengganti tema obrolan. “Eh, Bu minggu depan saya enggak bisa ikut piknik, ya! Tetangga saya juga mau mantu. Jelas dong saya belain tetangga. Soalnya kalau enggak ada saya ya enggak rame!” Saya senyum-senyum sendiri mendengar pengakuan ibu itu yang mirip iklan rokok ijo, nggak ada lo nggak rame!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Supir angkot memberitahu saya, tempat saya harus turun. Angkot menepi, saya turun. Sampailah saya di tempat liputan. Sekitar hampir dua jam saya di situ, kemudian saya meninggalkan arena dan bersiap-siap menuju kantor. Soal acara liputan enggak akan saya ceritakan, karena kan judul tulisan ini yang disinggung soal kejadian di angkot?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rute berangkat dan kembali dari tempat liputan saya pilih yang tidak sama. Dari Pondok Gede saya ke tempat pool mikrolet yang akan menuju Kampung Melayu. Naiklah saya mikrolet 18. Sudah ada beberapa penumpang. Ketika mikrolet jalan sekian meter, naiklah wanita yang dari pin yang dipasang di bajunya menarik perhatian saya. Pinnya cukup besar, dengan tulisan, “Saya sudah turun 10 kg, tanya saya bagaimana caranya” Wah, boleh juga promosi dengan cara seperti itu. Selain membawa tas kerja, dia juga membawa tas plastik putih bertuliskan “Herbal Life”. Tak lama, naik lagi penumpang wanita berbadan agak montok dan manis, kira-kira sebaya dengan ibu ber-pin itu. Mungkin sekitar 45 tahunan. Ibu ber-pin memberi brosur kecil pada wanita manis agak montok itu. “Ini sehat lho, Bu. Dari bahan-bahan alami dan tidak mengandung zat kimia. Saya duduk di pojok belakang. Sedangkan ibu ber-pin dan ibu manis agak montok itu di pojok belakang supir, sehingga bisa ditarik diagonal dari tempat saya duduk. Oh, ternyata itu brosur obat-obatan dari herbal. Wanita yang ditawarkan agaknya tertarik dengan bisnis herbal life itu. “Ini bukan bisnis jualan biasa. Ini semacam jaringan leadership dan bisa diwariskan ke anak cucu kita nantinya,” kata ibu ber-pin mantap. Wanita di sebelahnya mengangguk-angguk. “Mbak diet ya? Bisa lho pakai herbal!” Wanita manis agak montok itu menjawab, “Ah, saya enggak diet kok. Hanya mengurangi makanan yang tidak sehat.” Kalimat seperti itu sudah saya dengar beberapa kali di lain tempat dari seorang wanita yang ingin langsing. Lucu juga, kok bisa mirip ya kalimatnya? Apakah orang-orang yang melakukan diet, rata-rata punya jawaban kalimat yang seragam? Saya membatin dengan tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah 45 menit perjalanan dengan mikrolet M18, sampailah di terminal Kampung Melayu. Hari sudah siang, sudah waktunya makan siang. Dari Kampung Melayu harusnya saya naik bis 213 menuju Slipi. Tapi saya ingin makan di tempat yang nyaman. Dan siang ini ingin makan di tempat yang nyaman. Saya putuskan tidak naik bis 213, tetapi naik mikrolet 44 ke Mal Ambassador. Nanti dari Mal Ambassador tinggal lurus ke jalan Sudirman. Dari situ banyak kendaraan ke kantor. Ke Mal Ambassador saya pilih mikrolet yang masih baru, bersih. Saya pilih duduk di depan. Siang yang terik di dalam mikrolet ada hiburan musik lagu-lagu lokal yang sedang naik daun. Saya cari-cari, dimana letak tape atau radionya, kok enggak ada ya? “Oh, Abang dengerin musik dari HP ini, ya?” tanya saya pada Abang Supir sambil menunjuk HP miliknya yang diletakkan di dekat kemudi. Abang supir senyum-senyum malu sambil mengangguk. Boleh juga idenya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di Mal Ambassador, saya langsung ke food court, memilih makan yang sesuai selera. Setelah kenyang, cuci mata sebentar, lalu menuju Jalan Sudirman naik mikrolet. Hari yang panas gerah, saya menyambung ke kantor dengan taksi saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan dengan taksi pastinya lebih nyaman dibanding angkot. Pak supir taksi memulai percakapan dengan menanyakan, “Habis bepergian atau sudah pulang kerja, Mbak?” Mungkin dia lihat penampilan saya yang sudah kurang segar diterpa panas matahari.&lt;br /&gt;“Saya baru mau menuju ke kantor, Pak. Jangan lupa kantor saya di sebelah menara Indosiar, ya!” pesan saya pada pak Supir.&lt;br /&gt;“Saya seneng nih dapet penumpang kayak Mbak. Kayaknya enak diajak ngobrol.”&lt;br /&gt;“Wah, saya sih bisa ngobrol sama siapa aja, Pak,” jawab saya enteng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obrolan terus berjalan seiring laju roda taksi memasuki tol menuju Kebun Jeruk dari Slipi. Dia tanya, anak saya sudah berapa. Saya jawab, saya belum punya anak. Dia minta maaf takut menyinggung saya dengan pertanyaan soal anak. Tapi dia kaget hampir setengah mati ketika pertanyaan selanjutnya juga saya jawab dengan jujur, “Saya belum menikah, Pak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“HAH? Masak sih? Saya enggak percaya, pasti banyak laki-laki yang mau sama Neng.” Awalnya saya disapa Mbak, sekarang Neng. Hehehe… Apa bedanya, ya? Ampun, Pak Supir ini kok jadi serius membahas kenapa saya belum menikah? Lalu saya analogikan dengan membeli sepatu yang enggak sama dengan beli pisang goreng. Dia mengangguk-angguk setuju. “Tapi Neng….Saya yakin pasti banyak laki-laki yang seneng sama Neng!” Masih ada ‘tapinya’ juga dalam kalimatnya. Sampai taksi di depan kantor dia masih belum percaya. Gaya bicara Pak Supir itu lucu juga, segar dan polos. Siang yang panas diantar oleh keramahan supir taksi sampai depan kantor, rasanya semua capek dari Pondok Gede nan jauh di sana luluh juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kebon Jeruk ,17 Februari 2009&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1578499656739805162-5279065706831073112?l=sehry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehry.blogspot.com/feeds/5279065706831073112/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1578499656739805162&amp;postID=5279065706831073112' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1578499656739805162/posts/default/5279065706831073112'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1578499656739805162/posts/default/5279065706831073112'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehry.blogspot.com/2009/02/dari-angkot-ke-angkot.html' title='Dari Angkot ke Angkot'/><author><name>Sri Haryati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15482356378009856181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://2.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/S0VZ7pqwnfI/AAAAAAAAAOk/5mumwR-YU24/S220/flower12a.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1578499656739805162.post-5928878163874148484</id><published>2009-02-06T00:17:00.000-08:00</published><updated>2009-02-06T00:18:35.035-08:00</updated><title type='text'>Doa Bersama</title><content type='html'>Pagi ini hujan masih turun membuat banyak orang menunggu dulu sampai reda untuk berangkat ke kantor. Sedangkan saya sudah berencana sejak kemarin akan ke bank dulu sebelum ke kantor. Jadilah hari ini jam 08.00 saya sudah berdiri di depan pintu bank yang belum dibuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Pak Satpam dengan senyum ramah mempersilakan saya masuk ke dalam, mungkin karena kasihan saya menunggu sendirian di luar dalam gerimis. Oh, rupanya para karyawan sedang briefing pagi dipimpin oleh pimpinan cabang bank tersebut. Mereka berdoa bersama, berjanji bersama untuk memberi pelayanan yang terbaik pada semua nasabahnya. Kemudian briefing ditutup dengan membaca Surat Al-Fatihah. Saya yang sedang duduk di tepian dekat dinding, merinding syahdu mendengarkan mereka membaca ummul Qur’an. Tanpa sadar bibir saya pun ikut komat-kamit membaca dan mengangkat tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tergetar karena baru kali itu saya ‘ikut sebentar’ briefing sebuah bank syariah meski hanya di penghujung acara, meski hanya ikut membaca Al-Fatihah. Kapan ya saya membaca doa bersama sebelum aktivitas kerja? Doa bersama dilakukan bila akan memulai rapat, atau akan makan bersama bila ada teman yang berulang tahun. Tetapi doa bersama sebelum kerja? Yang saya dan teman-teman lakukan sehari-hari hanya doa individu saat shalat Dhuha begitu sampai kantor. Atau mengucap “Assalamualaikum” dalam hati ketika masuk kantor. Itu saja. Kenangan kembali ke masa sekolah, setiap pelajaran akan dimulai, bapak atau ibu guru akan meminta kita berdoa bersama dipimpin ketua kelas. Kenapa kegiatan itu tidak dilakukan di kantor-kantor?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doa adalah senjata dalam kehidupan orang beriman dan merupakan tiang agama serta cahaya dan langit dan bumi (hadits riwayat Hakim dan Abu Ya’la). Sudah selayaknya apa pun yang akan kita lakukan kita awali dengan doa. Doa adalah harapan yang menjadi nafas kita atas berkat rahmat Allah. Saya teringat ucapan seorang mantan menteri yang pernah saya dengar ceramahnya dalam acara buka puasa bersama. “Doa adalah alat penyambung atau penghubung antara permintaan kita dan takdir Allah. Jika kita hanya minta dalam hati tanpa doa, tentu bukan bentuk permintaan yang sempurna,” kata-katanya masih mengiang dalam ingatan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentunya kita juga ingat janji Allah, “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Hai Muhammad) tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya aku adalah dekat; Aku kabulkan permohonan yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu dalam kebenaran (QS Al-Baqarah : 186)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan apa pun bila dimulai dengan doa, serasa lebih ringan. Terasa Allah selalu menemani kita kemana saja kita berada. Terlebih untuk memulai pekerjaan yang melibatkan klien, relasi, tamu, narasumber, dan orang-orang lain yang bukan tidak mungkin menuntut kesabaran kita. Bila dimulai dengan harapan lewat doa yang baik kepada Allah, tempat bergantung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Briefing pagi selesai, semua karyawan menempati posisi masing-masing. Saya mendapat nomor urut pertama, dan transaksi yang diiringi keramahan di bank syariah itu berjalan lancar. Sekeluarnya saya dari bank tersebut, saya berandai-andai. Andai saja setiap pagi di semua tempat kita berdoa bersama, dan didengar para malaikat untuk dibawa ke langit. Ah, indanya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga betapa indahnya bila waktu luang kita isi dengan berdoa, sesuai anjuran Rasulullah SAW, “Barang siapa yang menginginkan doanya dipenuhi Allah ketika ia dalam kesulitan, maka hendaklah ia memperbanyak doa di waktu lapangnya.” (Hadits Riwayat Tirmidzi dan Hakim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati dan kepala saya penuh harap kepada Allah SWT, semoga doa-doa kita dikabulkan. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Rawamangun, 4 Februari 2009&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1578499656739805162-5928878163874148484?l=sehry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehry.blogspot.com/feeds/5928878163874148484/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1578499656739805162&amp;postID=5928878163874148484' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1578499656739805162/posts/default/5928878163874148484'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1578499656739805162/posts/default/5928878163874148484'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehry.blogspot.com/2009/02/doa-bersama.html' title='Doa Bersama'/><author><name>Sri Haryati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15482356378009856181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://2.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/S0VZ7pqwnfI/AAAAAAAAAOk/5mumwR-YU24/S220/flower12a.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1578499656739805162.post-6000316000739517304</id><published>2009-02-04T02:17:00.000-08:00</published><updated>2009-02-05T20:52:06.226-08:00</updated><title type='text'>Bajaj Tua di Antara Sedan-sedan Mewah</title><content type='html'>Malam ini seusai pengajian di Masjid Sunda Kelapa, saya ingin cepat-cepat sampai rumah. Selain takut keburu hujan turun, juga saya merasa lelah. Di depan pintu gerbang masjid saya cari taksi tidak ada. Selain mobil pribadi yang parkir, ada satu buah bajaj oranye sedang nganggur menunggu penumpang. Supir bajaj yang sedang berdiri membuat saya mengambil keputusan untuk memakai jasanya mengantar ke rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Penampilan pak supir bajaj yang sudah sepuh, membuat saya masygul. Usianya mungkin sudah hampir atau lebih dari 70 tahun. Perkiraan saya itu berdasarkan patokan ayahnya teman yang setua dia dan umurnya sudah 73 tahun. Setelah sepakat harga dari Menteng ke Rawamangun, bajaj pun bergerak. Sebelumnya sudah saya beri arahan jalan yang harus dilewati agar cepat dan menghindari macet. Lurus dari Jalan Halimun, terus ke Pasar Rumput sampai Matraman, tinggal lurus terus sampai Jalan Pramuka-Jalan Pemuda belok kanan, sampailah sekitaran rumah saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Bajaj melewati perumahan mewah Menteng melaju di Jalan Halimun. Entah muter-muter bagaimana, lha kok bukannya ke arah Pasar Rumput, malah tiba-tiba keluar di Jalan Diponegoro yang jelas-jelas terlarang dilewati kendaraan roda tiga oranye ini. Untung tidak ada polisi, bajaj melenggok-lenggok nyebrang ke arah bioskop Metropole XXI. Bajaj roda tiga ini menyelinap di antara sedan-sedan mewah di jalan raya. Owalaaah… Si Mbah nyupir-nya kok sekarepe dhewe!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Saat berhenti di persimpangan Salemba, aku perhatikan Pak Tua ini dari kursi belakang. Semua rambutnya sudah putih, sudah keriput kulitnya termakan usia. Tetapi dia mengemudikan bajajnya dengan lincah. Ketika sepeda motor mendahuluinya dengan ngebut, Pak Tua tak kalah gesit berkelit ke kiri. Interior bajaj ini sama tuanya seperti supirnya. Bagaian atasnya di bawah terpal dilapisi tripleks bekas warna putih yang disanggah kawat besi yang diikat dengan tali rafia (kebayang enggak?). Di sebelah atas kanan depan Pak Supir, tergantung jam tempel kecil bergambar boneka dengan jarum menunjukkan jam 18.30 (jarumnya jalan, pertanda beterei-nya bertenaga). Padahal saat itu arloji saya sudah pukul 20.35. Pak Tua sesekali batuk-batuk kering. Entah karena dia perokok, karena disergap cuaca dingin belakangan ini, atau akibat dampak polusi sepanjang jalan mengingat bajaj sangat terbuka ruangannya dan asap kendaraan yang mengepul hitam menggerogoti saluran pernapasan Pak Tua ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Bajaj sudah sampai perempatan By Pass Jalan Ahmad Yani, perbatasan Jakarta Pusat dan Jakarta Timur. Pak Tua ingin membelokkan ke kanan, menuju Jalan Rawamangun Muka. Menurut saya, lewat situ muter-muter. Saya beri tahu lurus saja, dari Arion baru belok kanan ke arah Cipinang. Tapi dia tak mendengar usulan saya. Bajaj belok ke sana-sini, melewati jalan yang menurut saya menghabiskan bensin, tenaga, dan waktu. Sampai akhirnya tiba di depan rumah saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadi ketika saya diajak muter-muter Pak Tua yang tidak mengikuti usulan saya,  saya diam saja. Tadi di masjid Sunda Kelapa dalam pengajian Husnul Khatimah, Pak Ustadz menyampaikan tema tentang komunikasi, di antaranya adalah komunikasi dengan orang yang sudah tua. Berkomunikasi dengan orang yang sudah tua, kadang-kadang kita yang muda harus menanggalkan logika. Orang yang sudah tua yang bermain adalah perasaannya sehingga hal itu bisa membuatnya mudah sensitif. Oh, pantas saja ketika tadi saya arahkan jalannya, Pak Tua ini sedikit menggerutu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa pun, saya salut kepada Pak Tua supir bajaj ini. Meski tua, dia membawa penumpangnya dengan hati-hati. Dia bekerja sampai malam hari menembus cuaca yang kurang ramah untuk raganya demi pemenuhan kebutuhan hidup yang diibaratkan ibadah. Semoga Allah SWT memberinya rezeki yang cukup. Cukup rezeki bila dia sedang memerlukannya, misalnya untuk berobat mengingat bagi kaum miskin di Jakarta kesehatan amatlah mahal harganya. Semoga Tuhan yang Maha Pemberi juga memberikan rahmat kesehatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Rawamangun, 2 Februari 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah dimuat di Eramuslim tanggal 5 Febr 09&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1578499656739805162-6000316000739517304?l=sehry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehry.blogspot.com/feeds/6000316000739517304/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1578499656739805162&amp;postID=6000316000739517304' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1578499656739805162/posts/default/6000316000739517304'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1578499656739805162/posts/default/6000316000739517304'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehry.blogspot.com/2009/02/bajaj-tua-di-antara-sedan-sedan-mewah.html' title='Bajaj Tua di Antara Sedan-sedan Mewah'/><author><name>Sri Haryati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15482356378009856181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://2.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/S0VZ7pqwnfI/AAAAAAAAAOk/5mumwR-YU24/S220/flower12a.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1578499656739805162.post-5843507406488866447</id><published>2009-01-29T23:59:00.000-08:00</published><updated>2009-01-30T00:01:06.510-08:00</updated><title type='text'>showbis</title><content type='html'>Pagi ini perjalanan ke kantor relatif lancar-lancar aja. Bis Patas AC11 datang tepat waktu jam 07.30, mengantar saya sampai ke Slipi. Alhamdulillah, saya dapat kursi enak dan nyaman : deket jendela di sisi kanan. Bisa asyik baca buku yang kemarin baru dibeli di Gunung Agung Arion, “Sejarah Bangsa Israel dalam Bibel dan Al-Qur’an” karya Dr Louay Fatoohi dan Prof Sheta Al-Dargazelli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak lama bis bergerak, saya langsung buka buku seperti kebiasaan sehari-hari jika merasa nyaman untuk membaca di bis. Selepas jalan Pramuka, pengamen masuk. Showbis alias show dalam bis. Kali ini menyodorkan lagu-lagu Iwan Fals.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Kumenanti seorang kekasih&lt;br /&gt;Yang tercantik yang datang di hari ini&lt;br /&gt;Adakah ia selalu setia, bersanding hidup penuh pesona?&lt;br /&gt;Harapanku….”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Suaranya cukup bagus, penumpang terhibur. Lagu berikutnya berlanjut, “Ku Suka Kamu”. Bis juga melaju melewati Jalan Diponegero terus ke Imam Bonjol. Ketika sudah mendekat Dukuh Atas, terdengar suara lembut tapi meyakinkan, “Mbeeezzz…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Wah, ada yang enggak beres sama mobil. Bener saja, Pak Kondektur dari pintu belakang teriak ke arah supir, “Ban belakang kempes!” Pengamen langsung tahu diri. Dia berhenti menyanyi sambil menutup showbisnya, “Berhubung ada kekacauan teknis, maka show dalam bis berhenti dulu sampai di sini. Kita ketemu lagi di bis pada acara yang sama.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Mobil berhenti sebentar, para penumpang saling berpandangan seolah-olah saling bertanya, “Ini mobilnya kempes, ya? Eh, bukan mobilnya yang kempes, tapi ban mobilnya. Terus kita dioper ke bis lain yang bukan AC? Jangan mau, ah!” Hehehe… itu sih bukan pertanyaan para penumpang, tapi pertanyaan saya dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Untung Pak Kondektur bisa meyakinkan Pak Supir untuk terus melanjutkan perjalanan, karena ban masih dalam kondisi aman buat jalan sampai ke Grogol. Yup, bis akhirnya bisa merambat sampai di Slipi, pemberhentian tempat saya turun setiap hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Untuk sampai ke kantor Kebun Jeruk, dari Slipi saya nyambung mikrolet M11. ketika masuk mikrolet, langsung disambut lagu Ebiet G Ade berjudul “Kintamani”. Lagi-lagi ada showbis. Tetapi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;tape&lt;/span&gt; si supir mikrolet rada sember, jadi suara Ebiet sesekali diiringi bunyi, “Mbweeerrr…. Mbweeerrr…” Enggak enak didengar. Tapi the show must go on. Lagu Ebit terus berputar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Perhatian saya tidak ke lagu yang sedang diputar, karena bikin kuping ikut bergetar mbweeerrr-mbweeerrr. Mikrolet melambat jalannya di depan pasar Palmerah. Ada tukang ayam yang siap menguliti kulit ayam setelah disembelih. Di sebelahnya seorang nenek tua sedang semangat menawar harga satu sisir pisang ambon. Tak jauh dari situ anak kecil meleleh air liurnya karena kerepotan ngemut permen kojek. Bertepatan dengan lirik lagu Ebit, “Merebut tumpah darah merdekaaa….mbweeerrr… mbweeerrr…” (katanya cuek sama lagu dari tape mikrolet yang suaranya sember, kok masih ngikutin liriknya?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Mobil bergeral lambat. Suara Ebiet kalah keras dengan suara mobil mini bus yang memropagandakan obat bebas, “Bila Anda gatal-gatal kok belum sembuh juga, inilah obatnya! Boleh dicoba sekarang juga!” Mikrolet saya terus bergerak maju. Tampak di sepanjang jalan, sampah-sampah sayuran menumpuk dalam banyak gerombol belum diangkut. Ada labu siam, tomat, kol, bayem, juga kulit jagung dan remah-remah lainnya. Pemandangan yang kurang elok sebenarnya untuk menyambut pagi seperti lagu Ebiet, “Elegi Esok Pagi”. Tetapi apa mau dikata, itulah sepenggal area Jakarta yang katanya sudah megapolitan. Akhirnya, sampai juga saya di pemberhentian dekat kantor. Sampai juga di tujuan. Showbis berhenti dulu, saya mau kerja dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kebon Jeruk 29 Januari 2009.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1578499656739805162-5843507406488866447?l=sehry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehry.blogspot.com/feeds/5843507406488866447/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1578499656739805162&amp;postID=5843507406488866447' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1578499656739805162/posts/default/5843507406488866447'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1578499656739805162/posts/default/5843507406488866447'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehry.blogspot.com/2009/01/showbis.html' title='showbis'/><author><name>Sri Haryati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15482356378009856181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://2.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/S0VZ7pqwnfI/AAAAAAAAAOk/5mumwR-YU24/S220/flower12a.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1578499656739805162.post-5269159735996358342</id><published>2009-01-26T21:38:00.000-08:00</published><updated>2009-01-26T21:40:38.268-08:00</updated><title type='text'>wanita yang sangat tegar di mataku</title><content type='html'>Kalau ada wanita yang sangat tegar di mataku,&lt;br /&gt;Tegarnya seperti gunung karang,&lt;br /&gt;Meski dihempas angin dan gelombang kehidupan,&lt;br /&gt;Wanita itu masih perkasa bagi bagi semua anak-anaknya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keringat yang menetes adalah ikhtiarnya menyenangkan&lt;br /&gt;permata hatinya,&lt;br /&gt;Air matanya adalah tanda keikhlasannya&lt;br /&gt;terhadap semua yang dia terima dan dia berikan dalam hidup,&lt;br /&gt;tak pernah henti, silih berganti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita itu adalah Ibuku,&lt;br /&gt;Wanita itu adalah wanita yang diagungkan Allah,&lt;br /&gt;Yang doa-doanya diangkat malaikat ke langit,&lt;br /&gt;Yang harapan-harapannya adalah penyemangat sanubari kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita itu adalah wanita pilihan dari semua wanita yang ada di Bumi,&lt;br /&gt;Yang dari rahimnya Allah menakdirkan aku untuk hidup&lt;br /&gt;Yang dari hatinya aku mendengar bisikan-bisikan merdu di alam ruh,&lt;br /&gt;Yang dari ketulusannya aku bisa merasakan kasih sayang Allah,&lt;br /&gt;Ya Rahman, Ya Rahiim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita sederhana itu adalah Ibuku,&lt;br /&gt;Sesederhana kehidupan dan pikiran-pikirannya,&lt;br /&gt;Tapi sangat berlimpah segala doa-doa yang dia pinta kepada Penciptanya,&lt;br /&gt;Untuk segala kebaikan anak-anaknya.&lt;br /&gt;Lewat ‘pertemuannya’ dalam Subuh, Zuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah Ya Robbi,&lt;br /&gt;Kasihanilah Ibuku sebagaimana Engkau Mengasihani aku sejak kecil&lt;br /&gt;Ampunilah dosa-dosa dan kekhilafannya,&lt;br /&gt;Jadikan dia tetap sebagai mentari dalam tata surya hari-hariku.&lt;br /&gt;Selama hayat bersemayam dalam hidupku.&lt;br /&gt;Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sri Haryati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kebon Jeruk, 12 Januari 2009&lt;br /&gt;Puisi ini didedikasikan untuk Ibuku dan Mirna&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1578499656739805162-5269159735996358342?l=sehry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehry.blogspot.com/feeds/5269159735996358342/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1578499656739805162&amp;postID=5269159735996358342' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1578499656739805162/posts/default/5269159735996358342'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1578499656739805162/posts/default/5269159735996358342'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehry.blogspot.com/2009/01/wanita-yang-sangat-tegar-di-mataku.html' title='wanita yang sangat tegar di mataku'/><author><name>Sri Haryati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15482356378009856181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://2.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/S0VZ7pqwnfI/AAAAAAAAAOk/5mumwR-YU24/S220/flower12a.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1578499656739805162.post-1614391981247908337</id><published>2009-01-02T18:27:00.000-08:00</published><updated>2009-01-02T18:31:01.441-08:00</updated><title type='text'>Malam Tahun Baru Tanpa Terompet dan Kembang Api</title><content type='html'>Hari terakhir di tahun 2008 saya masih ngantor karena tak mau cuti berkurang lagi. Dan baru tahu kalau hari itu jam kantor setengah hari ketika waktu menjelang makan siang. Alhamdulillah. Dengan begitu saya bisa mempersiapkan diri untuk acara tutup tahun. Pulang dulu ke rumah, mandi, dan memakai dress code yang telah diumumkan panitia acara penutupan tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehabis shalat Isya, saya siap-siap berangkat, tentu dengan membawa perlengkapan ‘begadang’ semalaman agar tak masuk angin mengingat cuaca Jakarta belakangan ini sering bertiup angin kencang. Juga sudah merasa rapi dengan pakaian serba putih dari kerudung hingga celana panjang sesuai dengan dress code dari panitia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang perjalanan ke venue acara tutup tahun, suara terompet sudah bergema. Seperti berlomba, terompet siapa yang paling keras dan bisa memekakkan telinga pendengarnya. Taburan kembang api pun sesekali menghiasi langit malam dari Rawamangun ke daerah Menteng. Juga suara letupan mercon pun melengkapi hingar bingar perayaan tahun baru yang malam itu dirayakan seluruh antero dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taksi yang membawa saya menepi di tujuan tepat jam 21.00, sebuah tempat yang buat saya pribadi jauh menyejukkan dan menenangkan dibanding mendengar suara terompet dan petasan dar-der-dor-jeblug! “Kok malam tahun baru, masjid ini penuh dan ramai, Mbak?” tanya Pak Supir taksi ketika saya membayar tarif. “Iya, Pak. Beginilah cara kami bermuhasabah di akhir tahun,” jawab saya sambil pamit dan turun dari taksi dan melangkah ke pintu gerbang Masjid Agung di bilangan Menteng. Seperti yang sudah-sudah, acara tutup tahun diisi dengan muhasabah dan itikaf semalaman di masjid. Selain pengajian, qiyamul-lail (mengerjakan shalat-shalat malam), doa, juga siraman rohani. Dan tak lupa tentunya kami diajak flash back, apa saja dosa-dosa dan kesalahan yang dilakukan setahun ini diiringi dengan doa mohon pengampunan kepada Yang Maha Pengampun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ambil tempat di lantai bawah yang tidak jauh dari toilet dan tempat wudhu supaya lebih mudah. Ketika mau masuk ruangan itu, “Hai Mbak! Apa kabar?” Alhamdulillah, saya bertemu Mbak Ima, rekan sesama rombongan haji dari masjid ini juga. Kami berpelukan, saling mengucapkan salam. Lalu berpisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untung saya masih punya wudhu dari rumah. Lalu saya buka Al Qur’an dan membaca Surat Ibrahim yang terdiri dari 52 ayat. Terdengar suara pembawa acara mengumumkan bahwa kita akan mengadakan Shalat Ghaib lalu diteruskan dengan doa bersama untuk rakyat Palestina yang menjadi korban Israel. Termasuk juga anak-anak yang tak berdosa, dan ibu-ibu mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Shalat Ghaib, tak terasa air mata mengembang di pelupuk mata. Mengingat wajah-wajah mungil tak berdosa harus meregang nyawa dihantam roket dan senjata pasukan Israel yang tanpa pandang bulu. Ketika doa dipanjatkan sehabis shalat untuk mendoakan para korban, air mata meleleh tak terbendung. Dalam hati saya berdoa,&lt;br /&gt; &lt;em&gt;Semoga salju bisa menyejukkan hati para ibu yang kehilangan anak dan&lt;br /&gt;        suaminya.&lt;br /&gt;        Semoga doa-doa kami untuk mereka menjadi teman pengiring mereka menghadap&lt;br /&gt;        Allah Sang Pencinta dan Maha Kasih.&lt;br /&gt;        Semoga anak-anak yang menjadi korban roket-roket Israel menjadi pelipur lara &lt;br /&gt;        Ayahanda dan Bunda-bunda di surga kelak, dan menjadi bidadari.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya menyeka mata, terbayang bagaimana suasana sanak saudara yang kehilangan kerabat, anak-anak, cucu, dan orangtua. Air mata yang tumpah sama derasnya dengan curah hujan yang turun belakangan ini di tanah air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam tahun baru yang kami rayakan memang tanpa terompet dan kembang api. Tanpa nyanyian lagu-lagu pesta yang biasa dilakukan di tempat-tempat hiburan. Kalau sepanjang jalan dari rumah tadi langit tampak terang oleh meriahnya kembang api yang menjulang, juga suara petasasn dan terompet, di Palestina juga ada suara riuh rendah yang membelah langit, namun suara itu mengundang maut, ketakutan, dan air mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, malam tahun baru kami memang tanpa terompet dan kembang api warna-warni.&lt;br /&gt;Malam akhir tahun kami tutup dengan doa dan pengharapan, semoga dunia bisa damai, semoga anak-anak layak hidup. Terutama anak-anak Palestina yang hati dan pengalaman hidupnya terkoyak suara-suara roket dan senjata api.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga anak-anak tak berdosa tidur tenang di haribaan yang damai. Saya yakin akan janji Allah, bahwa siapa pun yang menempuh jalan kefasikan akan merugi seperti janji-Nya dalam Surat Asy-Syam (Matahari), &lt;br /&gt; &lt;em&gt;Demi Matahari dan cahayanya di pagi hari,&lt;br /&gt; dan bulan apabila mengiringinya,  &lt;br /&gt; dan siang apabila menampakkannya,&lt;br /&gt; dan malam apabila menutupinya (malam-malam yang gelap)&lt;br /&gt; dan langit serta pembinaannya,&lt;br /&gt;        dan bumi serta penghamparannya,&lt;br /&gt;        dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya)&lt;br /&gt;        maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya,&lt;br /&gt;        sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu,&lt;br /&gt;        dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya&lt;/em&gt;        ……&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Menteng, 1 Januari 2009&lt;br /&gt;Selamat tahuh baru Hijriyah 1430 H dan selamat tahun baru 1 Januari 2009&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1578499656739805162-1614391981247908337?l=sehry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehry.blogspot.com/feeds/1614391981247908337/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1578499656739805162&amp;postID=1614391981247908337' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1578499656739805162/posts/default/1614391981247908337'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1578499656739805162/posts/default/1614391981247908337'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehry.blogspot.com/2009/01/malam-tahun-baru-tanpa-terompet-dan.html' title='Malam Tahun Baru Tanpa Terompet dan Kembang Api'/><author><name>Sri Haryati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15482356378009856181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://2.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/S0VZ7pqwnfI/AAAAAAAAAOk/5mumwR-YU24/S220/flower12a.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1578499656739805162.post-2304170729907552589</id><published>2008-12-28T08:35:00.000-08:00</published><updated>2008-12-28T08:39:13.531-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Malam ini adalah malam yang indah, malam yang akan dirayakan oleh kaum muslim sedunia. Ya, malam pergantian tahun dalam penanggalan Hijriah yang umurnya lebih muda dari penanggalan Masehi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hijriah bersimilar dengan hijrah. Istilah itu digunakan untuk mengenang peristiwa Nabi Muhammad berhijrah dari Mekkah ke Madinah di tahun 622 Masehi. Rasul hijrah atau pindah ke kota Yatsrib (nama lain Madinah) untuk kehidupan yang lebih baik dalam berdakwah dan mengajarkan agama baru yang merupakan agama terakhir di dunia, Islam. Hijrah berarti pindah dari tempat yang satu ke tempat lain. Namun dalam Al-Qur’an yang menggunakan kiasan kata-kata nan indah, hijrah bisa berarti luas maknanya. Di antaranya contohnya adalah pindah dari lingkungan yang buruk ke lingkungan yang lebih baik dan kondusif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingat menjelang tahun baru Hijriah 1428 lalu, perasaan saya sangat bergejolak. Dua tahun sebelum 1428 H, sudah ada niatan untuk menutup aurat secara sehari-hari. Tetapi niat itu sering saja pasang surut berbarengan dengan naik turunnya keimanan yang memang harus sering di-&lt;em&gt;recharge&lt;/em&gt;. Ada beberapa buku yang saya baca untuk memperkuat keinginan berhijab, plus tanya ke banyak teman seputar suka-duka menutup kepala dan seluruh badan dalam keseharian. Dari teman-teman saya dapat jawaban, mereka fun-fun saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya merenung, dan setiap sehabis shalat selalu minta petunjuk, bila berjilbab ini hanya ikut-ikutan saja, gugurkan saja niat saya. Tetapi bila semata-mata ibadah, mohon dikuatkan tekad saya. Dan saya pikir, menutup aurat dan berjilbab adalah kebiasaan perempuan muslim yang universal. Muslimah di tanah Arab, di Eropa, Afrika, Asia, bahkan di Jawa juga mengenakan jilbab atau kerudung. Urusan cantik atau tidak setelah berkerudung, serahkan saja kepada Allah Sang Maha Pencipta. Bukankah Allah juga mencintai keindahan, seperti tertuang dalam hadits yang diriwayatkan Bukhari?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, saya tetapkan 1 Januari 2006 sebagai awal menutup aurat, yang tentunya masih perlu proses. Ketika mencanangkan titik waktunya, masih di bulan November 2005. Demi waktu, sesungguhnya manusia selalu kerugian, salah satu penggalan Surat Al-Ashr selalu terngiang-ngiang. Kenapa harus menunda sampai 1 Januari 2006? Jika belum sampai tanggal itu umur tidak cukup, bagaimana? Alhamdulillah, &lt;em&gt;kun fa yakun&lt;/em&gt;. Waktu itu, tahun baru Masehi dan Hijriah berjarak sekitar semingguan. Malam tahun baru Masehi saya ikut merayakan dengan itikaf dan muhasabah di Masjid Sunda Kelapa, langsung berjilbab dari rumah. Sampai besok paginya ketika pulang, jilbab masih melekat. Sampai-sampai Ibu saya heran, kenapa nih anak tidak mencopot kerudungnya saat keluar rumah? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah hampir dua tahun saya ‘berhijrah’ tanpa kendala. Banyak teman mengucapkan selamat ketika saya berpenampilan ‘lain’, baik di kantor, pengajian, dan teman-teman lama. Nyaman, itulah yang saya rasakan setelah berjilbab. Nyaman di hati, nyaman di jalan karena sering disapa dengan ucapan salam. Semoga hati saya juga bisa berhijrah ke arah yang lebih baik. Amin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat tahun Baru 1 Muharram 1430 H&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rawamangun, 29 Desember 2008&lt;br /&gt;(akhir tahun 1429, malam tahun baru 1430 H)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1578499656739805162-2304170729907552589?l=sehry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehry.blogspot.com/feeds/2304170729907552589/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1578499656739805162&amp;postID=2304170729907552589' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1578499656739805162/posts/default/2304170729907552589'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1578499656739805162/posts/default/2304170729907552589'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehry.blogspot.com/2008/12/malam-ini-adalah-malam-yang-indah-malam.html' title=''/><author><name>Sri Haryati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15482356378009856181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://2.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/S0VZ7pqwnfI/AAAAAAAAAOk/5mumwR-YU24/S220/flower12a.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1578499656739805162.post-1599018300808783264</id><published>2008-12-25T18:26:00.000-08:00</published><updated>2008-12-25T18:31:31.163-08:00</updated><title type='text'>Doa Akhir dan Awal Tahun Hijriah</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/SVRB1Dte7NI/AAAAAAAAAL0/6xDzubn1YaI/s1600-h/sunset+laut+merah.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/SVRB1Dte7NI/AAAAAAAAAL0/6xDzubn1YaI/s320/sunset+laut+merah.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5283920642597383378" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Do’a Akhir Tahun Hijriah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doa Akhir Tahun dibaca 3 kali pada akhir waktu Ashar atau sebelum masuk waktu Maghrib pada akhir bulan Zulhijjah.&lt;br /&gt;Barangsiapa yang membaca doa ini, syaitan berkata “Kesusahan bagiku dan sia-sia lah pekerjaanku menggoda anak Adam pada setahun ini dan Allah binasakan aku suatu saat jua. Dengan sebab membaca doa ini, Allah ampunkan dosanya setahun”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.&lt;br /&gt;Allah SWT berselawat ke atas junjungan kami Muhammad SAW, ahli keluarga dan sahabat-sahabat baginda dan kesejahteraan ke atas mereka.&lt;br /&gt;Ya Allah Wahai Tuhan Kami, apa yang telah aku lakukan dalam tahun ini terhadap hal-hal yang Engkau larang aku untuk melakukannya dan aku masih belum bertaubat. Sedangkan Engkau tidak ridha dan tidak melupakannya. Dan aku telah melakukannya di dalam keadaan di mana Engkau berupaya untuk menghukumku, tetapi Engkau mengilhamkanku dengan taubat atas kelalainku melakukan dosa-dosa itu semuanya. Sesungguhnya aku memohon keampunan-Mu, maka ampunilah aku. Dan tidaklah aku melakukan yang demikian atas apa yang Engkau ridhai dan Engkau menjanjikanku dengan pahala atas yang sedemikian itu. Maka aku memohon kepada-Mu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah Wahai Tuhan Kami, Wahai yang Maha Pemurah, Wahai Yang Maha Agung dan wahai Yang Maha Mulia agar Engkau menerima taubat itu dariku dan janganlah Engkau menghampakan harapanku kepada-Mu Wahai Yang Maha Pemurah. Dan Allah bersalawat ke atas junjungan kami Muhammad, ke atas ahli keluarga dan sahabat-sahabatnya dan mengaruniakan kesejahteraan ke atas mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Do’a Awal Tahun Hijriah&lt;br /&gt;Doa Awal Tahun dibaca 3 kali sesudah maghrib pada malam satu Muharram.&lt;br /&gt;Barangsiapa yang membaca doa ini, Syaitan berkata “Telah amanlah anak Adam ini daripada godaan pada tahun ini karena Allah telah mewakilkan dua Malaikat memeliharanya daripada fitnah syaitan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.&lt;br /&gt;Allah SWT berselawat ke atas junjungan kami Muhammad SAW, ahli keluarga dan sahabat-sahabat baginda dan kesejahteraan ke atas mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah Wahai Tuhan Kami, Engkaulah yang kekal abadi, yang qadim. Yang awal dan atas kelebihan-Mu yang besar dan kemurahan-Mu yang berlimpah dan ini adalah tahun baru yang telah muncul di hadapan kami. Kami memohon pemeliharaan dari-Mu di sepanjang tahun ini dari syaitan dan para pembantunya dan dari bala tentaranya dan juga pertolongan terhadap diri yang diperintahkan melakukan kejahatan dan usaha yang mendekatkanku kepada-Mu Wahai Tuhan Yang Maha Agung dan Maha Mulia.&lt;br /&gt;Ya Allah Wahai Tuhan Kami, Yang Maha pengasih dari mereka yang mengasihi dan Allah berselawat ke atas junjungan kami Muhammad. Nabi yang ummi dan ke atas ahli keluarga dan sahabat-sahabatnya dan kesejahteraan ke atas mereka.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1578499656739805162-1599018300808783264?l=sehry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehry.blogspot.com/feeds/1599018300808783264/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1578499656739805162&amp;postID=1599018300808783264' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1578499656739805162/posts/default/1599018300808783264'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1578499656739805162/posts/default/1599018300808783264'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehry.blogspot.com/2008/12/doa-akhir-dan-awal-tahun-hijriah.html' title='Doa Akhir dan Awal Tahun Hijriah'/><author><name>Sri Haryati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15482356378009856181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://2.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/S0VZ7pqwnfI/AAAAAAAAAOk/5mumwR-YU24/S220/flower12a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/SVRB1Dte7NI/AAAAAAAAAL0/6xDzubn1YaI/s72-c/sunset+laut+merah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1578499656739805162.post-8431444455564269677</id><published>2008-12-03T01:31:00.000-08:00</published><updated>2008-12-03T01:38:57.505-08:00</updated><title type='text'>selamat Jalan Mas Satoni....</title><content type='html'>Hari ini jam sebelas lebih di kantor, saya mendapat telepon dari adik. Dia mengabarkan bahwa Mas Satoni tetangga kami meninggal dunia. Saya mengucap innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Kematian bagi Mas Satoni mungkin jalan terbaik dari Allah SWT setelah hampir setahun menahan sakit. Usianya masih muda, di bawah saya beberapa tahun. Namun penyakit yang menggerogotinya, seperti memakan sisa-sisa umurnya menjadi seseorang yang lain. Dia seperti banyak melamun. Mungkin memang banyak yang dia pikirkan. Anaknya tiga. Yang sulung masuk pesantren, yang dua masih kecil-kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir saya melihat dia begitu senang ketika acara &lt;span style="font-style:italic;"&gt;halal bi halal&lt;/span&gt; RT kami ke Anyer. Dia membawa istri dan dua anaknya. Anak sulungnya yang perempuan bersekolah di salah satu pesantren di Cirebon. Saya perhatikan, dia tampak bahagia saat itu. Tak dinyana itulah pesiar terakhir kami bersamanya, karena sebulan setengah setelah acara itu (yakni hari ini) Sang Maha Kuasa memanggilnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sebelum jatuh sakit parah, Mas Satori mencari nafkah sebagai driver jemput-antar di salah satu cabang Sekolah Muhammadiyah di Jakarta Timur. Dia sangat menikmati pekerjaannya. Dan kedua anaknya bisa bersekolah di sekolah bermutu baik tersebut. Sampai akhirnya dia jatuh sakit dan tak dapat bekerja lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Semalam sepulang kerja, Bapak saya tergopoh-gopoh mendapat kabar dari adik yang menunggu Mas Satoni di rumah sakit. Dia dalam keadaan kritis, dan banyak tetangga menjenguknya. Saya kaget, dan beristighfar. Baru tadi pagi kami membahas bagaimana susahnya mengurus kartu gakin agar mendapat pelayanan rumah sakit. Ternyata tak mudah. Malam ini dapat kabar, bahwa seharusnya Mas Satoni masuk ruang ICU mengingat kondisinya yang semakin parah dan napasnya tinggal satu-satu. Tetapi ruang ICU tidak bisa ‘diraih’ dengan kartu gakin dengan sejuta macam alasan yang membuat keluarga pasien sudah lelah mental terlebih dulu mendengar penjelasan pihak rumah sakit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Saya jadi ingat film &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Patch Adams&lt;/span&gt;. Tokoh mahasiswa idealis yang diperankan Robin William itu tidak gampang dilupakan. Apalagi kalau melihat kasus-kasus pelayanan rumah sakit yang memilukan bagi kaum miskin. Mungkin rumah sakit ideal hanya ada di dunia fiksi, ya? Apakah pelayanan rumah sakit hanya milik orang-orang berduit? Bandingkanlah bila kaum berpunya yang sakit. Pelayanan begitu mudah tinggal menggesek kartu kredit atau kartu debet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Menurut situs Fraksi PKS DPRD Jakarta per Agustus 2008 lalu, kartu gakin banyak ditolak rumah sakit karena tagihan pengelola rumah sakit kepada Pemda atas biaya pengobatan pemegang kartu gakin belum dibayarkan.  Para wakil rakyat sudah mengetahui masalah ini. Mereka menyayangkan, bagaimana warga miskin harus mendapat pelayanan kesehatan yang layak? Apalagi jika harus dirawat di rumah sakit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Bagaimana pun, Mas Satoni sudah berpulang. Sore ini dimakamkan. Saya tak sempat melihatnya diantar ke peristirahatan terakhir. Saya akan mengunjungi keluarganya yang masih tinggal satu lingkungan. Saya jadi ingat kejadian bertahun-tahun lalu. Ketika Mas Satoni masih SMP, pakai baju putih-biru. Saya keget ketika ketemu dia di ajang pameran pers nasional di Balai Sidang Senayan Jakarta. Ketika itu saya datang bersama teman satu SMA, Novi namanya. Mas Satoni bergabung dengan kami berjalan di arena pameran. Dia senang sekali karena Novi membawa kamera dan dia pun kena bidik. Saya dan Novi memakai seragam putih-abu-abu, dan dia putih-biru. Keduanya, baik Novi atau Mas Satoni sekarang sudah tiada. Keduanya sudah menghadap Sang Khalik karena sakit. Novi berpulang setahun lalu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat jalan Mas Satoni…&lt;br /&gt;Selamat menjalani hari-hari damai di tempatmu…&lt;br /&gt;Serahkanlah anak-anak dan istrimu kepada Kekuatan Allah SWT, sebab hanya Dialah Maha Penjaga yang tak pernah tidur, tak pernah lalai, dan selalu sayang pada hamba-hambaNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kebon Jeruk, 3 Desember 2008&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1578499656739805162-8431444455564269677?l=sehry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehry.blogspot.com/feeds/8431444455564269677/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1578499656739805162&amp;postID=8431444455564269677' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1578499656739805162/posts/default/8431444455564269677'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1578499656739805162/posts/default/8431444455564269677'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehry.blogspot.com/2008/12/selamat-jalan-mas-satoni.html' title='selamat Jalan Mas Satoni....'/><author><name>Sri Haryati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15482356378009856181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://2.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/S0VZ7pqwnfI/AAAAAAAAAOk/5mumwR-YU24/S220/flower12a.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1578499656739805162.post-4316244095730875572</id><published>2008-11-24T19:35:00.000-08:00</published><updated>2008-11-25T21:59:20.084-08:00</updated><title type='text'>menghadapi  pelecehan</title><content type='html'>Pekan lalu saya mendapat email dari milis SMA saya. Perihal pelecehan terhadap Rasulullah SAW, Al Qur'an dan Hadits yang dimuat dalam salah satu blog, saya telat. Ketika akan membukanya tempo hari, blog tersebut sudah keburu ditutup demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Minggu, headline Harian Republika mengulas tentang penghinaan tersebut. Diduga, isi pelecehan tersebut di-hosting dari Amerika. Sampai sekarang pelakunya sedang dicari oleh kepolisian Indonesia, karena hal itu sudah termasuk tindak pidana/kejahatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya setuju untuk tidak mem-forward isi pelecehan itu bagi yang sudah membacanya. Mungkin teman-teman sesama muslim setuju juga, kalau kita tidak menghiraukan para peleceh dan penghina Rasul, Al-Qur’an, dan agama demi keselamatan dunia dan akhirat. Seperti yang tertera dalam perintah Allah SWT :&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pelimpah Kasih itu (adalah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata perpisahan (demi menuju keselamatan) (QS. Al-Furqon : 63)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Jadilah engkau pema'af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh (jahil).” (QS Al-A’raf : 199)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Prof Quraish Shihab di Masjid Sunda Kelapa pernah memberikan ceramah sehubungan dengan beredarnya film Ayat-Ayat Fitna buatan Geert Wilders yang melecehkan Islam. Ujarnya, kita tidak bisa menuntut hal yang sulit-sulit dari orang yang bodoh, juga jangan mengharap cinta dari para pembenci. Juga sulit mengharap perilaku baik dari orang yang jahat, karena ibaratnya setiap bejana hanya bisa mengeluarkan apa yang dikandung di dalamnya. Kita tak bisa berharap susu dari bejana yang berisi air tawar.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kedua ayat suci tersebut bisa kita jadikan tuntunan untuk mengajak hal-hal yang baik. Kita diperintahkan untu berpaling dari siapa pun yang jahil, juga untuk tetap rendah hati. Sabar, dalam arti bukan menerima penghinaan itu. Tetapi menahan gejolak emosi demi mendapat sesuatu yang lebih baik. Sebab sabar bukan kelemahan. Sabar merupakan salah satu sifat Allah, yang juga tercantum dalam Asmaul Husna (Ya Shobur)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam Kitab Suci Al Qur’an surat Ali Imran ayat 186 juga disebutkan, “Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Gangguan dan pelecehan itu yang sedang kita alami belakangan ini. Setelah kasus komik kartun Nabi Muhammad SAW yang dibuat oleh kartunis Denmark, kemudian film Ayat-ayat Fitna dari Belanda oleh Geert Wilders, minggu lalu heboh penghinaan lagi terhadap Rasulullah. Mereka yang melakukan pelecehan dan penginaan bisa karena macam-macam alasan. Bisa karena memang sengaja karena dirinya merasa sok tahu, bisa karena benar-benar tidak tahu (yang seperti ini perlu mendapat pemahaman dan informasi yang benar) seperti ayat berikut :&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk (mengerjakan) sembahyang, mereka menjadikannya buah ejekan dan permainan. Yang demikian itu adalah karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau mempergunakan akal.” (QS Al Maidah : 58)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Karenanya Rasulullah seringkali berdoa, “Ya Allah, Ampunilah kaumku karena mereka tidak mengetahui.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di Eropa dan Amerika sebagian masyarakatnya memang tidak mengenal Islam dan Nabi Muhammad SAW. Kalau pun mereka tahu, bisa jadi informasinya salah dan sangat keliru. Untuk itulah, kita perlu meningkatkan informasi yang benar, terus berdakwah, menjelaskan ajaran Islam sebagai ajaran yang penuh toleransi tanpa mengorbankan akidah, tanpa kekerasan, dan penuh cinta damai. Bukankah kita sejak kecil sudah dibiasakan untuk menghormati agama lain dalam Surat Al Kafirun, “....Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku".  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sejak dulu agama dan pembawa ajaran agama (para Nabi dan Rasul) dan para penganutnya senantiasa menerima pelecehan, penghinaan, dan hujatan yang sangat melukai hati dan perasaan. Kalau yang namanya penghinaan saja sudah dialami sejak Rasul dan Nabi-nabi sebelumnya, apalagi kita yang sebagai manusia biasa?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Allah SWT berfirman :&lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS Al Baqarah : 153)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS Al Baqarah : 155)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdo'a): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma'aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami dari kaum kafir." (QS Al Baqarah : 286)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1578499656739805162-4316244095730875572?l=sehry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehry.blogspot.com/feeds/4316244095730875572/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1578499656739805162&amp;postID=4316244095730875572' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1578499656739805162/posts/default/4316244095730875572'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1578499656739805162/posts/default/4316244095730875572'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehry.blogspot.com/2008/11/pekan-lalu-saya-mendapat-email-dari.html' title='menghadapi  pelecehan'/><author><name>Sri Haryati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15482356378009856181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://2.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/S0VZ7pqwnfI/AAAAAAAAAOk/5mumwR-YU24/S220/flower12a.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1578499656739805162.post-655534266673174056</id><published>2008-11-20T02:51:00.000-08:00</published><updated>2008-11-20T02:56:38.451-08:00</updated><title type='text'>Hari Ini Setahun yang Lalu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/SSVCI6eJePI/AAAAAAAAAJ8/vQwK5EhWFmI/s1600-h/Dscn0694.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/SSVCI6eJePI/AAAAAAAAAJ8/vQwK5EhWFmI/s200/Dscn0694.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5270691659809126642" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hari ini setahun yang lalu,&lt;br /&gt;Adalah hari yang amat bersejarah dalam hidupku,&lt;br /&gt;Labaik Allahumma labaik, Labaik La sharikala ka labaik,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupenuhi panggilanMu, Ya Allah,&lt;br /&gt;Walau dengan unta yang kurus dan hari-hari panjang menunggu,&lt;br /&gt;Di sela-sela hari-hariku yang penat akan urusan dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini setahun yang lalu,&lt;br /&gt;Air mata kedua orang tua dan keluarga mengiringi kepergianku,&lt;br /&gt;Mereka menangisi seolah-olah aku tak akan kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini setahun yang lalu,&lt;br /&gt;Penggojlogan bathin dimulai,&lt;br /&gt;Untuk mengukur keikhlasan atas semua ketentuan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini setahun yang lalu,&lt;br /&gt;Sembilan belas November dua ribu tujuh,&lt;br /&gt;Seribu satu macam perasaan yang tak pernah kualami sebelumnya,&lt;br /&gt;Hadir jadi satu dalam waktu yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini,&lt;br /&gt;Aku ingin mengulang pengalaman bathin seperti setahun yang lalu,&lt;br /&gt;Aku ingin berkunjung ke RumahMu, Ya Robbi,&lt;br /&gt;Alhamdulillah Ya Allah,&lt;br /&gt;Atas indahnya hidup yang Engkau Berikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rawamangun, 19 November 2008&lt;br /&gt;Puisi ini dibuat setelah azan Subuh di Masjid belakang rumah berkumandang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1578499656739805162-655534266673174056?l=sehry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehry.blogspot.com/feeds/655534266673174056/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1578499656739805162&amp;postID=655534266673174056' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1578499656739805162/posts/default/655534266673174056'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1578499656739805162/posts/default/655534266673174056'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehry.blogspot.com/2008/11/hari-ini-setahun-yang-lalu_20.html' title='Hari Ini Setahun yang Lalu'/><author><name>Sri Haryati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15482356378009856181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://2.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/S0VZ7pqwnfI/AAAAAAAAAOk/5mumwR-YU24/S220/flower12a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/SSVCI6eJePI/AAAAAAAAAJ8/vQwK5EhWFmI/s72-c/Dscn0694.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1578499656739805162.post-2690359788442582602</id><published>2008-11-04T04:52:00.000-08:00</published><updated>2008-11-04T05:20:59.685-08:00</updated><title type='text'>Di Balik Kisah Sech Puji</title><content type='html'>&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;Tadinya saya tidak tahu kalau Ibu dan adik saya membicarakan orang yang bernama Sech Puji yang mau menikah dengan gadis bau kencur. Saya baru tahu pekan lalu ketika pagi-pagi di acara berita televisi, berita besar itu ditayangkan. Sosok laki-laki paruh baya yang lehernya diganduli tasbih ukuran besar itulah yang diberitakan akan menikahi Ulfa, gadis kecil berumur 12 tahun yang baru tamat SD.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;    &lt;p style="color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Beberapa saat sebelum berangkat ke kantor, dan televisi belum dimatikan, kehebohan berita itu masih berlanjut. Tapi saya merasa aneh, sebab bukan lagi di acara berita, melainkan sudah masuk ke acara gosip yang isinya kebanyakan isyu-isyu yang belum tentu benar dan cenderung &lt;i&gt;ghibah&lt;/i&gt;. Padahal Sech Puji bukan selebriti. Yang masuk acara infotainment biasanya golongan seleb. Sang Sech baru terkenal karena berniat mengawini gadis 12 tahun yang katanya demi mengikuti perbuatan Rasul. Masya Allah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;Saya bukan hendak membela Sech Puji, karena saya juga tidak setuju eksploitasi anak dalam bentuk apa pun, termasuk menyuruhnya menikah dini. Kalau mau obyektif, coba deh ke daerah-daerah yang masih dalam zona negara kita juga. Banyak gadis kecil di bawah 17 tahun yang harus rela dikawin laki-laki yang mungkin jauh lebih tua dari dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Sekitar awal tahun 2000, dari bus kota yang saya naiki setiap hari pergi dan pulang kerja, saya sering memerhatikan para pedagang minuman asongan di persimpangan lampu merah By Pass Jakarta Timur. Kebetulan saat-saat itu saya diserahi rubrik di majalah tempat saya bekerja untuk menulis reportase kehidupan orang-orang marjinal yang masih remaja, berhubung majalah saya pasarnya adalah usia remaja putri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Ketika ngobrol-ngobrol (sambil wawancara sebenarnya) saya kaget juga. Usia mereka sekitar 14-15 tahun. Tetapi di usia segitu beberapa orang sudah menjanda. Yang usianya di bawah itu sekitar 13 tahunan juga siap-siap untuk dinikahkan, makanya ada yang mengadu nasib di Jakarta ikut dagang minuman di jalan ikut kerabatnya. Kejadian itu sekitar 8 tahun lalu. Apalagi di jaman susah seperti sekarang, praktek menikahkan anak di bawah umur mungkin meningkat jumlahnya. Entahlah, saya tidak punya data khusus tentang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;    &lt;p style="color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Kali yang lain saya membuat reportase kehidupan gadis-gadis buruh di Tangerang. Mereka bekerja di pabrik-pabrik setamat SD atau putus sekolah saat SMP. Usia yang muda, tetapi harus memikul tanggungjawab mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan hidup primer sehari-hari. Belum lagi saat haid datang, mereka harus bekerja berdiri sepanjang waktu bila pekerjaannya mengharuskan berdiri. Selain melawan kerasnya hidup, mereka juga harus melawan sakit dan ketidaknyamanan setiap datang tamu bulanan didera setoran pabriknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Menurut Konvensi Hak Anak yang dikeluarkan oleh Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) tahun 1989 tercantum, bahwa setiap anak berhak atas kehidupan yang layak, dan pelayanan kesehatan. Artinya, anak berhak mendapat gizi yang baik, tempat tinggal yang layak, dan perawatan kesehatan yang baik bila anak jatuh sakit. Indonesia adalah salah satu negara yang ikut meratifikasi konvensi tersebut. Tetapi pada kenyataan sehari-hari konvensi hak anak seakan tak digubris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;    &lt;p style="color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Kembali lagi ke kasus Sech Puji yang ‘divonis’ mengeksploitasi anak di bawah umur untuk dinikahi. Apa bedanya dengan pedagang asongan yang menjanda sebelum usia 17 tahun. Dan mirip juga dengan gadis buruh di Tangerang. Belum lagi di banyak anak terpaksa putus sekolah dan bekerja asal-asalan demi menyambung hidup. Jika mata jeli, di sebuah  bawah jalan layang di Jakarta Timur bila malam merayap, gadis-gadis muda yang masih &lt;i&gt;kinyis-kinyis&lt;/i&gt; pun ikut ‘bekerja’ dengan caranya sendiri sesuai kemampuannya yang hanya bisa (maaf) melayani laki-laki hidung belang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Tawaran kerja Sech Puji untuk calon istrinya yang masih 12 tahun untuk menduduki jabatan di kantornya masih terbilang terhormat dibanding mereka, meski kenyataan itu tetap membuat kita miris. Bukannya membela Pak Puji yang mungkin senang ‘daun muda’, tapi lihat saja layar kaca. Baik iklan, sinetron, dan tayangan-tayangan lainnya jelas banget menampilkan anak-anak yang tidak wajar. Mereka didandani seperti orang dewasa, memromosikan produk-produk orang dewasa pada banyak iklan. Kalau mau jujur, siapa sih yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ngebet&lt;/span&gt; banget ingin jadi terkenal dengan mengorbankan anak kerja (baca : syuting) sampai kelelahan? Anaknya atau orangtuanya? Dalam Konvensi Anak PBB tahun 1989 juga disebutkan setiap anak punya hak kebebasan menyatakan pendapat, berserikat, berkumpul, serta ikut serta dalam pengambilan keputusan yang menyangkut dirinya. Jadi seharusnya orang dewasa atau orangtua tidak boleh memaksakan kehendaknya karena bisa menyebabkan beban psikologis (kejiwaan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p style="color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Eksploitasi anak prakteknya sudah ada sejak dulu dan sekarang begitu dibesar-besarkan lewat media (bahkan acara gosip di TV!) mengundang tanya. Ada apa sebenarnya? Kita sudah biasa disodori kenyataan, kalau ada kejadian penting di negeri ini, akan tertutupi kejadian lain yang sebenanya kelasnya ‘ece-ece’ dan enggak penting banget. Kalau persoalan eksploitasi anak mau dibesar-besarkan, harusnya yang digugat negara dong? Sudah berapa banyak anak-anak terlantar putus sekolah karena terpaksa bekerja demi menyambung hidup? Berapa banyak anak-anak yang diam-diam senang menonton &lt;i&gt;blue film&lt;/i&gt; lewat VCD murah karena ketidaktahuan mereka tentang &lt;i&gt;sex education&lt;/i&gt;? Berapa banyak anak-anak menjadi korban kekerasan tanpa ada yang membela? Kenapa begitu banyak anak menjadi korban didiamkan saja seperti ditelan angin kemiskinan dan seolah-olah sudah nasib mereka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;    &lt;p style="color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Kenapa kisah asmara Sech Puji jadi menyedot perhatian, bahkan bagi Komnas Perlindungan Anak? Apakah karena di luar sana ada kenyataan-kenyataan pahit semisal lumpur Lapindo menurut geologist adalah kesalahan teknis dan bukan bencana nasional, pembesar yang menjadi besan presiden terseret ke meja hijau karena kasus korupsi, krisis ekonomi global yang susah payah diredam, banjir yang sudah menghadang, dan seabreg PR yang belum tuntas-tas. Wallahualam. Kita memang tak boleh curiga. Tapi kita harusnya juga proposional, jangan sampai masalah kecil jadi besar, dan masalah besar jadi menghilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;Semoga kejadian Sech Puji meminang gadis belia tidak cuma jadi berita besar sesaat tanpa ada penyelesaian dan pembelaaan anak-anak lainnya yang tidak setenar Ulfa.&lt;/p&gt;       &lt;p style="color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;       &lt;p style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;Sri Haryati&lt;br /&gt;Rawamangun, 2 November 2008&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1578499656739805162-2690359788442582602?l=sehry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehry.blogspot.com/feeds/2690359788442582602/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1578499656739805162&amp;postID=2690359788442582602' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1578499656739805162/posts/default/2690359788442582602'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1578499656739805162/posts/default/2690359788442582602'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehry.blogspot.com/2008/11/di-balik-kisah-sech-puji.html' title='Di Balik Kisah Sech Puji'/><author><name>Sri Haryati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15482356378009856181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://2.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/S0VZ7pqwnfI/AAAAAAAAAOk/5mumwR-YU24/S220/flower12a.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1578499656739805162.post-1244319925431921346</id><published>2008-10-27T01:10:00.000-07:00</published><updated>2008-10-27T01:39:48.834-07:00</updated><title type='text'>Bu Retty Dalam Kenangan</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;Innalillahi wa inna ilaihi roji’un….&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kabar wafatnya Bu Retty seakan mendadak. Padahal kita sudah dengar kalau beliau sudah sakit-sakitan. Baru kemarin seusai halal bi halal saya, Nela, Tusi dan Mirna ngobrol-ngobrol. Salah satu temanya adalah bertanya-tanya bagaimana kabar Bu Retty Surdjanah. Terakhir kali dapat kabar dari Ibu Syafrida kalau almarhumah dirawat di salah satu rumah sakit di Jalan Kramat Raya.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kalau kembali mengenang ke tahun-tahun di mana kita menghabiskan masa sekolah di SMA yang dikomandani oleh Bu Retty, saya pribadi begitu naif. Ketika awal-awal masuk sekolah, saya enggak mengira kalau wanita paruh baya berkaca mata dan selalu mengenakan atasan dan rok rempel itu adalah kepala sekolah. Penampilannya yang sederhana mengingatkan saya pada Budhe saya di kampung di Jawa Tengah sana. Karenanya ketika dia mondar-mandir di koridor sekolah meski saya berpapasan, saya diam saja tak memberinya selamat. Dosa sekali saya waktu itu, ya? Mengukur standar seorang wanita kepala sekolah dari penampilan saja.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;Tetapi ketika upacara pertama kali dan Sang kepala Sekolah tampil di podium, pahamlah saya. ‘Budhe’ yang kemain-kemarin tak saya sapa itu adalak Ibu Kepala Sekolah yang sudah membawa nama bagi sekolah kita. &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;Waktu demi waktu, bulan demi bulan, bersekolah yang dia pimpim memiliki kebanggaan tersendiri. Benar Pak Marwis bilang, “Kamu-kamu yang bersekolah di sini pasti bangga memakai baju seragam sekolah yang di lengan atasnya tertulis SMA 31.” &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kembali kepada Ibu Retty yang berkarakter tegas, disiplin, tak tebang pilih (meminjam kosa kata era sekarang). Saya pun pernah kena plintiran cubitannya di perut sebelah atas karena terlambat datang ke sekolah. Walau mohon-mohon agar bisa masuk kelas, justru disuruh lari lapangan sekian kali. Dan baru boleh masuk setelah pergantian pelajaran. Kali yang lain hukumannya selain cubit perut, disuruh ‘latihan menulis’ seratus kali di buku tulis yang bunyinya, “saya berjanji tidak akan terlambat ke sekolah lagi” Meski demikian, kita terima saja risiko hukuman itu sebagai konsekwensi pelanggaran aturan sekolah. &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;Penampilannya yang bersahaja dan sederhana tidak goyah meski ibu-ibu guru yang lebih muda saat itu sering gonta-ganti model baju dan sepatu. Sebagai gadis belia, saya sering memerhatikan baju-baju yang dipakai ibu-ibu guru, plus sepatunya. Saya membathin saat itu, apa mereka janjian ya, kok model bajunya mirip-mirip, sih? Beberapa guru juga punya sepatu yang sama. Tetapi Bu Retty tak berubah. Kualitas seseorang tidak dilihat dari penampilan saja, bukan?&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;Bu Retty dalam kenangan. Ketika saya mengutarakan pindah dari jurusan A2 ke A3, dia juga memberi jawaban yang lugas tapi sangat logis. “Biarkan saja anak ini pindah jurusan sesuai dengan keinginannya, daripada ditahan-tahan nanti bisa stres.”&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kepiawaiannya menjadi komandan sebuah sekolah di jalan kampung Jakarta Timur memang terbukti. Dia bisa membawahi sekian banyak guru dan lebih dari 1000 murid-murid yang berangkat bersama-sama menjadi manusia dewasa muda dengan segala problematikanya. Angkatan kita banyak yang diterima di perguruan tinggi negeri. Ketika almarhumah pindah ke SMA 36 Rawamangun, memang makin membuktikan bahwa Ibu kita ini memang jempolan. SMA 36 sedikit demi sedikit prestasinya naik dan menyaingi SMA kita. &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;           &lt;p class="MsoNormal"&gt;Bu Retty dalam kenangan&lt;br /&gt;Siapa bilang wanita tak bisa jadi komandan?&lt;br /&gt;Selamat jalan Ibu…&lt;br /&gt;Semoga Allah SWT menyinarimu di alam sana.&lt;br /&gt;Amien.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kebon Jeruk, 27 Oktober 2008&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1578499656739805162-1244319925431921346?l=sehry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehry.blogspot.com/feeds/1244319925431921346/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1578499656739805162&amp;postID=1244319925431921346' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1578499656739805162/posts/default/1244319925431921346'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1578499656739805162/posts/default/1244319925431921346'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehry.blogspot.com/2008/10/bu-retty-dalam-kenangan.html' title='Bu Retty Dalam Kenangan'/><author><name>Sri Haryati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15482356378009856181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://2.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/S0VZ7pqwnfI/AAAAAAAAAOk/5mumwR-YU24/S220/flower12a.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1578499656739805162.post-3624920023592504484</id><published>2008-10-24T03:24:00.000-07:00</published><updated>2008-10-26T21:22:34.688-07:00</updated><title type='text'>wanita cantik</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold; color: rgb(141, 174, 148);"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 128, 255);"&gt;Wanita cantik...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 128, 255);"&gt;Melukiskan kekuatan lewat masalahnya,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 128, 255);"&gt;Tersenyum saat tertekan,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 128, 255);"&gt;Tertawa di saat hati sedang menangis,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 128, 255);"&gt;Tabah saat terhina,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(192, 128, 255);"&gt;Memesona karena memaafkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(64, 160, 255);"&gt;Wanita cantik...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(64, 160, 255);"&gt;Mengasihi tanpa pamrih,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(64, 160, 255);"&gt;Dan bertambah kuat dalam doa dan pengharapan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(157, 114, 146);"&gt;Pesan ini dikirim khusus untuk semua wanita cantik kepunyaan Allah SWT.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(157, 114, 146);"&gt;Amien....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber : anonim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(191, 0, 95);font-family:verdana;" &gt;&lt;span style="color: rgb(127, 0, 63); font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;em style="color: rgb(0, 127, 127);"&gt;&lt;/em&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:7;"  &gt;&lt;em style="color: rgb(255, 127, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(188, 110, 110);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1578499656739805162-3624920023592504484?l=sehry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehry.blogspot.com/feeds/3624920023592504484/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1578499656739805162&amp;postID=3624920023592504484' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1578499656739805162/posts/default/3624920023592504484'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1578499656739805162/posts/default/3624920023592504484'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehry.blogspot.com/2008/10/wanita-cantik.html' title='wanita cantik'/><author><name>Sri Haryati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15482356378009856181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://2.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/S0VZ7pqwnfI/AAAAAAAAAOk/5mumwR-YU24/S220/flower12a.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1578499656739805162.post-5937587792761538954</id><published>2008-10-21T20:37:00.000-07:00</published><updated>2008-10-21T21:02:23.790-07:00</updated><title type='text'>Kala Kau Merasa Sedih</title><content type='html'>&lt;p style="color: rgb(153, 51, 153); font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kala kau merasa sedih,&lt;br /&gt;Karena orang yang mencintaimu pergi,&lt;br /&gt;Ingatlah Allah Yang Maha Pengasih,&lt;br /&gt;Tak akan meninggalkanmu dan selalu menemani.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="color: rgb(153, 51, 153); font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p style="color: rgb(153, 51, 153); font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Jika kau dirundung kecewa,&lt;br /&gt;Ditinggalkan seseorang yang kaucinta,&lt;br /&gt;Allah Yang Penyayang selalu ada,&lt;br /&gt;Menghiburmu dengan ayat-ayat-Nya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="color: rgb(153, 51, 153); font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p style="color: rgb(153, 51, 153); font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kala kau terombang-ambing tak tenang,&lt;br /&gt;Itulah dunia fana tempat suka dan duka bergelimang,&lt;br /&gt;Pastinya tak akan lama akan berselang,&lt;br /&gt;Kedatangan kehidupan abadi yang akan kita jelang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="color: rgb(153, 51, 153); font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p style="color: rgb(153, 51, 153); font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Janganlah berduka,&lt;br /&gt;Allah lebih dekat dari urat leher kita,&lt;br /&gt;Saat kita mendatangi seratus langkah kepada-Nya,&lt;br /&gt;Dia menyambut dengan seribu langkah kepada kita.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="color: rgb(153, 51, 153); font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p style="color: rgb(153, 51, 153); font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Apa yang kita inginkan, belum tentu kita butuhkan,&lt;br /&gt;Allah Maha Tahu apa yang harus Dia Berikan,&lt;br /&gt;Hanya ridho dan keikhlasan yang kita harapkan,&lt;br /&gt;Maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="color: rgb(153, 51, 153); font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p style="color: rgb(153, 51, 153); font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Rawamangun, 21 Oktober 2008 (00.00)&lt;br /&gt;Untuk seseorang yang menjauh dariku…&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1578499656739805162-5937587792761538954?l=sehry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehry.blogspot.com/feeds/5937587792761538954/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1578499656739805162&amp;postID=5937587792761538954' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1578499656739805162/posts/default/5937587792761538954'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1578499656739805162/posts/default/5937587792761538954'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehry.blogspot.com/2008/10/kala-kau-merasa-sedih.html' title='Kala Kau Merasa Sedih'/><author><name>Sri Haryati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15482356378009856181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://2.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/S0VZ7pqwnfI/AAAAAAAAAOk/5mumwR-YU24/S220/flower12a.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1578499656739805162.post-8562023935520564272</id><published>2008-10-08T00:12:00.000-07:00</published><updated>2008-10-08T02:08:02.965-07:00</updated><title type='text'>Pelajaran-pelajaran Di Bus Kota</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;            &lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Setiap habis lebaran, moda angkutan umum biasanya belum normal. Belum semua armada turun ke jalan. Dan seperti yang sudah-sudah, saya naik bus seadanya ke kantor, yang penting sampai di tujuan. Sebab mengandalkan bus yang sehari-hari dinaiki pastinya makan waktu lebih panjang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Jadilah tiga hari ini saya naik bus AC yang ke arah Lebak Bulus, dan transit di Jalan Sudirman. Wajah-wajah di bus ini jelas berbeda dengan bus yang saya tumpangi setiap hari. Secara iseng saya rekam beberapa kejadian yang mampir di benak saya dalam beberapa aline berikut ini.&lt;/p&gt;   &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Hari Senin ada kejadian yang enggak enak dilihat. Bangku-bangku bus hampir penuh. Di Jalan Pramuka halte Pasar Genjing naik seorang wanita. Dia ingin duduk di kursi depan saya yang masih kosong di dekat jendela. Tetapi wanita yang duduk di tengah tak mau memberinya tempat duduk. Dia menyuruh penumpang yang baru naik itu duduk di belakang. Alasannya lucu, cuma karena dia harus meletakkan bawaannya berupa kotak kue di kursi kosong sebelahnya. Karuan saja wanita yang mau duduk di situ sewot dan memanggil kondektur. Tetapi kondektur berada di belakang sedang punya urusan memungut uang sewa. Jadilah dua perempuan itu adu mulut.&lt;/p&gt;   &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Hei, dengar ya! Saya ini bayar. Masa saya mau duduk saja tak boleh!”&lt;/p&gt;   &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Kan masih ada kursi kosong di belakang!”&lt;/p&gt;   &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Saya mau duduk di situ, tidak mau di belakang!” &lt;/p&gt;   &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Akhirnya dia dengan jengkel ke bangku belakang yang memang rata-rata sudah terisi dan ngomel, “Huh! Dasar belagu!” &lt;/p&gt;   &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Saya yang duduk di belakang dan melihat adegan itu hanya bisa mengucap dalam hati, “Kenapa sih sama-sama sebagai penumpang yang cuma membayar satu kursi, tetapi merasa berkuasa?” Penumpang di sekitar kursi itu mungkin juga punya kalimat yang sama, karena kami saling berpandangan. Ternyata wanita dewasa juga mirip-mirip anak kecil yang rebutan kursi di kelas TK. &lt;/p&gt;   &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Pelajaran pertama di bus hari ini : Seharusnya awak atau perusahaan bus menempelkan kertas pengumuman berbunyi “Tarif Bus Rp 6.000 untuk satu kursi”&lt;/p&gt;   &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; font-family: trebuchet ms;" align="center"&gt;&lt;b&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Hari ini hari kedua saya masih menggunakan bus jurusan Lebak Bulus. Dapat duduk di deratan ke empat di gang. Orang yang duduk di sebelah saya atau di tengah sibuk banget ngutak-ngatik lubang AC. Dia kedinginan kayaknya. Karena buntu akal, akhirnya dinginnya AC diarahkan ke kepala dan wajah penumpang yang duduk di depan deretan bangku kami. Sudah bisa ditebak. Kesibukan karena urusan AC bus ini berpindah ke bangku itu. Dia juga merasa terganggu. Karena buntu akal juga harus bagaimana, akhirnya dia menegur si Mbak yang duduk sebelah saya, “Tolong dong Mbak, ACnya jangan diputar ke arah saya! Dingin, nih!” &lt;/p&gt;   &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Si Mbak sebelah saya berdiri lagi, memutar-mutar AC lagi. Pendek kata, akhirnya seperti ada kesepatakan antara mereka berdua, bahwa akhirnya keduanya tidak lagi terganggu dengan serbuan dinginnya AC. AC diputar sedemikian rupa sehingga menjadi nyaman bagi keduanya.&lt;/p&gt;   &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Pelajaran kedua di bus : Seharusnya saling pengertian dipupuk antarpenumpang meski tak saling kenal, agar penumpang lain tak terganggu dengan keributan-keributan. Atau, jika penumpang tak tahan dinginnya AC sebaiknya naik bus Patas Reguler atau Ekonomi saja. Titik.&lt;/p&gt;   &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; font-family: trebuchet ms;" align="center"&gt;&lt;b&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Kemarin, transit di Jalan Sudirman saya melanjutkan ke Slipi dengan bus patas reguler yang arah Cikokol. Huh, bus ini jauh banget kebersihannya dibandingkan dengan bus AC Lebak Bulus. Saya duduk di deretan nomor dua dari belakang karena di situ yang masih kosong. Di deretan belakang cowok semua. Enggak lama saya naik, mereka turun. Lho kok turunnya kompakan begitu? Tanya saya dalam hati. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;“Mbak, mereka tuh copet! Ati-ati, Mbak!” kata Mbak yang duduk di sebelah saya yang naik dari terminal Pasar Senen. “Tadi ada cowok bule tasnya hampir digerayangi, tapi si bulenya keburu sadar.”&lt;/p&gt;   &lt;p face="trebuchet ms" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Saya enggak percaya kalau mereka rombongan tangan panjang dan tangan terampil. Sebab, salah satu dari mereka tadi bersin dan sambil mengucap “Alhamdulillah!” Saya pikir, kok orang jahat, saat bersin masih memanggil nama Allah. Jadi saya enggak curiga.&lt;/p&gt;   &lt;p face="trebuchet ms" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Tapi ternyata dugaan saya salah!&lt;/p&gt;   &lt;p face="trebuchet ms" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Pelajaran ketiga di bus dua hari ini : Saat saya naik dan copet turun berbarengan, bukan berarti mereka takut sama saya. Mereka pikir, sudah tidak ada lagi sasaran empuk yang bisa dirogoh saku atau tasnya. Atau, jangan kira copet-copet itu tak kenal Tuhan. Mereka tetap ingat, hanya saja ketika ‘bekerja’ mereka lupa. Dan lagi, Tuhan itu milik semua orang, bahkan orang jahat sekali pun minta pertolongan pada Tuhan pada saat-saat dia membutuhkan-Nya.&lt;/p&gt;   &lt;p face="trebuchet ms" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; font-family: trebuchet ms;" align="center"&gt;***&lt;/p&gt;   &lt;p face="trebuchet ms" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Ini hari ketiga saya (lagi-lagi) menggunakan bus arah Lebak Bulus sebab bus jurusan Grogol yang biasa saya tumpangi belum bisa diharapkan. Saya duduk paling depan. Saya sedang tidak mau terganggu oleh ulah penumpang yang aneh-aneh dan mau menang sendiri.&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Sampai halte Dukuh Atas perjalanan lancar. Naiklah pedagang sandal akupunktur. Dia sendiri yang menamakan sandal dagangannya demikian. Sandal itu adalah sandal yang bertonjol-tonjol dan banyak dijual di mal-mal atau ITC-ITC. &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; font-family: trebuchet ms;"&gt;“Di mana toko Anda membelinya dengan harga sesuai label di sandal ini, yakni 29.900 Rupiah. Di bis ini Anda cukup membayar dengan harga 10.00 Rupiah saja. Anda bisa gunakan sebagai sandal kesehatan, seperti pijat akupunktur yang fungsinya bisa memperlancar peredaran darah dan menyehatkan Anda. Bukankah mencegah penyakit lebih baik dari mengobati?” Demikian celoteh pedagang sandal itu. &lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Ketika memamerkan sandal-sandalnya, wah… ada yang warna merah! Saya langsung tertarik! Sandal itu bisa saya gunakan di kantor saat berwudhu untuk shalat, pikir saya. Saya beli satu, ah! Lalu si Mbak yang duduknya di seberang saya mencolek dan berbisik tanya berapa harganya. Ketika saya kasih tahu harganya 10.000 Rupiah, dia ambil dua, warna biru dan hitam. Lalu Mbak di depannya juga membeli yang warna coklat. Juga penumpang wanita lainnya ikutan membeli sandal. Alhasil, pedagang sandal di Bus AC jurusan Lebak Bulus itu laris manis. Pedagang senang, pembeli pun senang, karena masing-masing mendapatkan sandal sesuai warna kesukaan masing-masing.&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Pelajaran ke empat di bus hari ini : Tak susah membuat perempuan senang. Cuma dengan dagang sandal warna-warni berbontol-bontol seharga sepuluh ribu sudah membuat banyak hati perempuan senang menuju kantor.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kebon Jeruk, 8 Oktober 2008&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1578499656739805162-8562023935520564272?l=sehry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehry.blogspot.com/feeds/8562023935520564272/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1578499656739805162&amp;postID=8562023935520564272' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1578499656739805162/posts/default/8562023935520564272'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1578499656739805162/posts/default/8562023935520564272'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehry.blogspot.com/2008/10/pelajaran-pelajaran-di-bus-kota.html' title='Pelajaran-pelajaran Di Bus Kota'/><author><name>Sri Haryati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15482356378009856181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://2.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/S0VZ7pqwnfI/AAAAAAAAAOk/5mumwR-YU24/S220/flower12a.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1578499656739805162.post-1143011206409871281</id><published>2008-09-08T20:36:00.000-07:00</published><updated>2008-09-10T20:57:50.129-07:00</updated><title type='text'>Ramadhan Istimewaku yang Pertama</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 0, 204);"&gt;Ramadhan seribu empat ratus dua puluh sembilan Hijriah&lt;br /&gt;Bulan puasa pertamaku yang terbilang istimewa&lt;br /&gt;Sangat istimewa buatku sebagai seorang hamba&lt;br /&gt;Sebagai anugrah dari Allah Yang Maha Bijaksana.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 204);"&gt;Ya, ini kali Ramadhan pertamaku&lt;br /&gt;Setelah kutunaikan kewajibanku&lt;br /&gt;Berhaji ke Tanah Suci memenuhi rukun Islamku&lt;br /&gt;Ya Allah, Engkaulah yang mengatur, Wahai Maha Penentu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);"&gt;Ramadhan istimewaku yang pertama&lt;br /&gt;Setelah melewati perjalanan religi ke Baitullah&lt;br /&gt;Setelah mengalami pergolakan bathin yang menguras air mata&lt;br /&gt;Dan Engkau mengujiku dengan tuntunan iman dan taqwa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);"&gt;Ya Robbi, Ya Allah, Sesembahanku yang Maha Satu&lt;br /&gt;Selalu saja ada bisikan ajakan ke relung hatiku&lt;br /&gt;“Kapankah kau akan datang lagi ke Rumah-Ku?&lt;br /&gt;Masihkah kau simpan rindumu padaKu?”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Wahai Tuhanku yang sangat kucintai&lt;br /&gt;Selalu ada harapan di dalam munajatku padaMu Yang Maha Kasih,&lt;br /&gt;Antarkan aku suatu saat suatu hari kembali ke Tanah Suci&lt;br /&gt;Demi mengagungkan asmaMu, ya Illahi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 51);"&gt;Teguhkan imanku, Ya Allah Yang Maha Perkasa&lt;br /&gt;Agar aku tak goyah walau apa pun yang menerpa&lt;br /&gt;Panjangkan umurku, Ya Robbi Yang Maha Mulia&lt;br /&gt;Agar sisa-sisa hayatku hanya untukMu lewat taqwa.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"  &gt;&lt;em&gt;Cipinang, 6 September 2008&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:85%;"  &gt;23.35&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1578499656739805162-1143011206409871281?l=sehry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehry.blogspot.com/feeds/1143011206409871281/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1578499656739805162&amp;postID=1143011206409871281' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1578499656739805162/posts/default/1143011206409871281'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1578499656739805162/posts/default/1143011206409871281'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehry.blogspot.com/2008/09/ramadhan-istimewaku-yang-pertama_08.html' title='Ramadhan Istimewaku yang Pertama'/><author><name>Sri Haryati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15482356378009856181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://2.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/S0VZ7pqwnfI/AAAAAAAAAOk/5mumwR-YU24/S220/flower12a.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1578499656739805162.post-2340126170082563636</id><published>2008-07-16T00:47:00.000-07:00</published><updated>2008-12-11T09:39:53.903-08:00</updated><title type='text'>Hepi Bezdey To Me!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/SH2quaS8uMI/AAAAAAAAAEw/oIlCufPdNSo/s1600-h/birthday+cake.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/SH2quaS8uMI/AAAAAAAAAEw/oIlCufPdNSo/s200/birthday+cake.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5223518857129146562" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;            &lt;span style="font-family:verdana;"&gt;    &lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;&lt;br /&gt;Hari ini umur saya tambah lagi setahun. Semoga bukan berarti jatah umur menjadi berkurang, sebab sehabis shalat lima waktu selalu saya minta kepada Allah agar dipanjangkan umur. Tujuannya, ya supaya bekal di akhirat mencukupi untuk hidup kekal di sana. Plus, selama masih di dunia bisa ibadah dengan maksimal.Wah, enggak terasa udah ultah lagi. Waktu seperti berlomba antara umur yang nambah terus, dan seberapa besar modal kita untuk hidup setelah hari kemudian? Perlombaan antara kedewasaan dan kelakuan sebagai orang dewasa : kira-kira udah klop belum, ya?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Kalau ingat tanggal 16 Juli, kan biasanya itu adalah pekan awal tahun ajaran baru dimulai. Dulu, waktu sekolah, ultah selalu ‘lolos’ dari kejaran traktiran teman-teman (hehehe) karena fokus kita semua juga  ke awal ajaran baru (kelas baru, teman baru, guru-guru yang baru kita kenal, et cetera). Ya, ibarat kata, di umur saya yang baru mabha, saya dapat suasana baru di sekolah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 102, 0);"&gt;Lagian, bukan kebiasaan dalam keluarga saya kalau ultah ada perayaan kayak tiup lilin, kue tart, kado-kado, dan sejenisnya. Kita hanya saling mendoakan semoga yang ulang tahun dipanjangkan umurnya, dan munajat-munajat kebaikan lainnya.&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 102);"&gt;Di judul tulisan ini, kesannya memang saya narsis banget, ya? hehehe. Bayangin aja, masak sih ngasih ucapan selamat kepada diri sendiri? Tetapi itulah yang terjadi setiap tahun. Selain dapat ucapan dari teman-teman, saya juga mengucapkan untuk diri sendiri. Setiap bulan mungkin kita beberapa kali memberi ucapan manis plus kecupan pipi pada teman dan sahabat yang ulang tahun (selain juga kepada keluarga). Masak sih, untuk diri sendiri tidak kita kita lakukan? Diri kita pun berhak mendapatkannya. Juga berhak dapat hadiah. Makanya jangan heran, kalau ulangtahun saya juga beli kado misalnya baju baru, atau sesuatu yang baru yang dipakai saat hari ‘H’.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 153);"&gt;Tetapi kado paling istimewa dari semua yang saya dapat, adalah kado dari Sang Maha Pemilik saya. Dia-lah yang telah memberi hadiah saya istimewa, berupa nikmat umur sampai hari ini, sehingga masih merasakan nikmatnya dunia, nikmatnya tertawa, dan detak jantung yang masih bergerak. Trus, ultah kali ini juga adalah ultah yang istimewa karena kali pertama saya alami setelah saya menunaikan rukun Islam ke-5. Kan ibadah haji (jika Insya Allah mabrur), kita seperti dilahirkan kembali? Jadi inilah ultah pertama setelah saya ‘dilahirkan’ kembali, dan setelah saya 'bersyahadat' kembali di depan Ka’bah. Subhanalla. Maka nikmat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p  style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 102);font-family:verdana;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Cipinang, 16 Juli 2008&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1578499656739805162-2340126170082563636?l=sehry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehry.blogspot.com/feeds/2340126170082563636/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1578499656739805162&amp;postID=2340126170082563636' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1578499656739805162/posts/default/2340126170082563636'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1578499656739805162/posts/default/2340126170082563636'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehry.blogspot.com/2008/07/hepi-bezdey-to-me.html' title='Hepi Bezdey To Me!'/><author><name>Sri Haryati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15482356378009856181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://2.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/S0VZ7pqwnfI/AAAAAAAAAOk/5mumwR-YU24/S220/flower12a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/SH2quaS8uMI/AAAAAAAAAEw/oIlCufPdNSo/s72-c/birthday+cake.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1578499656739805162.post-2249438561987591013</id><published>2008-07-12T09:59:00.000-07:00</published><updated>2008-07-12T10:02:54.324-07:00</updated><title type='text'>kampanye sembilan bulan</title><content type='html'>&lt;em&gt;&lt;span style="color:#6666cc;"&gt;Sabtu pagi tadi, di salah satu acara radio Sonora, ngangkat tema tentang 'Kampanye 9 bulan".&lt;br /&gt;Musim kampanye menjelang pemilu 2009 udah mulai Juli ini.&lt;br /&gt;Banyak pendengar kirim opini lewat sms dan telepon.&lt;br /&gt;Cuma aku aja pendengar yang 'nyleneh', kirimnya berupa puisi berima. Yang lainnya sih kirim dikirim dan dibacain cuma dua bait pertama.&lt;br /&gt;Bait ketiga dan seterusnya isinya mulai aneh ya?&lt;br /&gt;Heheheheeee...&lt;br /&gt;(Ssst... siap2 kampanye 9 bulan deh!)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#000066;"&gt;Kampanye sembilan bulan terasa panjaaang,&lt;br /&gt;Apa enggak buang-buang uang?&lt;br /&gt;Di jalan pakai motor dengan klakson kencang&lt;br /&gt;Kalau sudah jadi dewan cuma senang-senang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dipikirin cuma harta dan tahta,&lt;br /&gt;Waktu kerja diselingi dengan wanita,&lt;br /&gt;Apa jadinya Indonesia kita?&lt;br /&gt;Kampenya hura-hura ngumbar kata-kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesiaku, dari Aceh sampai Papua&lt;br /&gt;Yang pulau-pulaunya bagai jamrut katulistiwa&lt;br /&gt;Kenapa seperti tenggelam dalam samudera?&lt;br /&gt;Kita pernah jaya lho, sebagai negeri Nusantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, kampanye lagi-kampanye lagi!&lt;br /&gt;Cuma jual obral janji-janji&lt;br /&gt;Kita semua pada pegel hati&lt;br /&gt;Mana janjinya enggak ditepati?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sembilan bulan puas deh kampanye!&lt;br /&gt;Bagi-bagi kaos dari warna merah sampai oranye&lt;br /&gt;Biasanya sih programnya enggak ada yang oke&lt;br /&gt;Semuanya ngaku, “Partaiku pancen oyyye!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal janji-janji? Cape deee…&lt;br /&gt;Reformasi sudah satu dekade&lt;br /&gt;Tapi kok masih begini-begini aje,&lt;br /&gt;Banyak orang makin tidak pe-de.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yuk-yak-yuk, mending kita kerja yang benar&lt;br /&gt;Terserah deh kampanye yang hingar bingar&lt;br /&gt;Yang penting jangan ada yang bikin onar.&lt;br /&gt;Bisa bikin pusing kepala dan pandangan jadi nanar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kayaknya sudah cukup puisi berima ini.&lt;br /&gt;Saya mau undur diri.&lt;br /&gt;Kalau ada kata yang salah, jangan taro di peti.&lt;br /&gt;Kalau ada kata salah, buang jauh-jauh dari hati.&lt;br /&gt;(hihihihi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(eits! Tetep inget prinsip sepakbola! Jangan menyerah meski yang disuguhkan cuma janji-janji surga)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;color:#000066;"&gt;&lt;br /&gt;Cipinang, 12 Juli 2008&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1578499656739805162-2249438561987591013?l=sehry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehry.blogspot.com/feeds/2249438561987591013/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1578499656739805162&amp;postID=2249438561987591013' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1578499656739805162/posts/default/2249438561987591013'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1578499656739805162/posts/default/2249438561987591013'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehry.blogspot.com/2008/07/kampanye-sembilan-bulan.html' title='kampanye sembilan bulan'/><author><name>Sri Haryati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15482356378009856181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://2.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/S0VZ7pqwnfI/AAAAAAAAAOk/5mumwR-YU24/S220/flower12a.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1578499656739805162.post-5254758436845320026</id><published>2008-07-10T23:08:00.000-07:00</published><updated>2008-07-11T02:29:55.899-07:00</updated><title type='text'>Undangan setelah enam bulan berhaji</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"  style="text-indent: 0.5in; color: rgb(0, 102, 0);font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Pulang kerja semalam setelah melewati kepenatan, mendapat kejutan berupa undangan yang terbungkus dalam amplop. Tertera tulisan : Kepada Hj.Sri Haryati berikut alamat rumah. Sejenak hati tercenung membaca namaku dengan tambahan “Hj”. Karena undangan biasanya tanpa embel-embel nama.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"  style="text-indent: 0.5in; color: rgb(0, 102, 0);font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Ketika dibuka, wow! Undangan pertemuan rombongan Haji 2007 Sunda Kelapa yang akan diadakan besok di salah satu gedung UNJ Rawamangun. Senangnya! Di undangan tertulis, “Setelah enam bulan pulang dari haji dan kembali ke pekerjaan sehari… dan seterusnya…”&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Waktu terasa berjalan cepat. Siang memburu malam, malam mengejar pagi. Begitu terus. Enam bulan sudah lewat. Sekembali dari ibadah haji, gurita rutinitas melilit lagi. Berangkat kerja, berpacu dengan waktu di kemacetan Jakarta, mengejar &lt;i&gt;deadline&lt;/i&gt;, menghadapi orang-orang yang kadang-kadang membuat kita harus istighfar berkali-kali demi menahan kesabaran, dan kegiatan lain yang kesannya itu lagi-itu lagi.&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"  style="text-indent: 0.5in; color: rgb(0, 102, 0);font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Pagi tadi dalam perjalanan ke kantor, kembali undangan pertemuan besok membayang. Kita akan ketemu dengan teman-teman yang satu perjalanan ke Tanah Suci. Masih ingat bagaimana kami senasib bersama dalam pesawat rusak menuju Madinah dan terpaksa harus menunggu 14 jam di bandara untuk dapat pesawat pengganti. Ujian kesabaran terasa sudah. Belum lagi goncangan di udara ketika dalam perjalanan ke Madinah. Waktu itu saya tercekat, memohon kepada Allah, apabila kami mati semua, apakah Allah tidak kasihan kepada kami yang ingin melaksanakan rukun Islam ke-5? Permintaan yang kalau dikenang sekarang terasa lucu, tapi itulah yang saya panjatkan saat penerbangan itu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"  style="text-indent: 0.5in; color: rgb(0, 102, 0);font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Kenangan yang indah. Ditambah lagi dengan kejadian-kejadian yang bagi saya sudah memenuhi syarat disebut keajaiban selama di Tanah Suci, terus berkelabat dalam benak pagi tadi. Enam bulan sudah lewat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"  style="text-indent: 0.5in; color: rgb(0, 102, 0);font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Amunisi dari Tanah Suci semestinya belum habis, bahkan harusnya semakin bertambah ketika kita terjun ke rutinitas sehari-hari yang kalau tak sabar bisa bikin jemu. Ujian memang selalu ada. Setelah ditempa 40 hari di sana, dalam kehidupan nyata pun mengalami cobaan mental. Jika selama ibadah haji merasa disayang oleh Yang Maha Kuasa, kembali di dunia nyata berhadapan dengan masalah-masalah duniawi yang bisa bikin capek hati. Perkara sepele yang kalau diingat bisa menjadi ‘kentang busuk’ dalam makanan kita sehari-hari. Justru masalah-masalah duniawi itulah yang menyadarkan kita bahwa kita belum pindah ke ‘alam lain’. Alhamdulillah, masih diberi waktu untuk ibadah dna memperbaiki diri. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"  style="text-indent: 0.5in; color: rgb(0, 102, 0);font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Jadi teringat bagaimana bulan lalu ikut training ESQ 165. Betapa masalah-masalah sepele bisa jadi makin sekecil biji sawi bila dibandingkan dengan seluruh alam semesta. Kenapa harus bersedih? Tak ada artinya sama sekali. Atau bandingkan, ketika ketakutan akan kematian saat pesawat terhempas di udara menuju Madinah. Atau ketika seusai thawaf terlempar desakan arus manusia yang tinggi besar tetapi Allah masih melindungi selama kita yakin bahwa Dia akan menolong kita.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Ah, jadi tak sabar menanti pertemuan besok dengan teman-teman satu rombongan haji.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;br /&gt;Kebon Jeruk, 11 Juli 08&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1578499656739805162-5254758436845320026?l=sehry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehry.blogspot.com/feeds/5254758436845320026/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1578499656739805162&amp;postID=5254758436845320026' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1578499656739805162/posts/default/5254758436845320026'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1578499656739805162/posts/default/5254758436845320026'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehry.blogspot.com/2008/07/undangan-setelah-enam-bulan-berhaji.html' title='Undangan setelah enam bulan berhaji'/><author><name>Sri Haryati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15482356378009856181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://2.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/S0VZ7pqwnfI/AAAAAAAAAOk/5mumwR-YU24/S220/flower12a.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1578499656739805162.post-8302401705085064617</id><published>2008-04-21T20:35:00.000-07:00</published><updated>2008-12-11T09:39:54.272-08:00</updated><title type='text'>Timun is leaving</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/SA1dslNgopI/AAAAAAAAAEo/wUnbwfRJPKE/s1600-h/foto3.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/SA1dslNgopI/AAAAAAAAAEo/wUnbwfRJPKE/s200/foto3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5191908965912453778" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/SA1dclNgooI/AAAAAAAAAEg/kW3C8arm-xA/s1600-h/foto2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/SA1dclNgooI/AAAAAAAAAEg/kW3C8arm-xA/s200/foto2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5191908691034546818" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Hari Kamis 17 April 2008 kemarin &lt;i&gt;Timun is leaving&lt;/i&gt;.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Yap, Timun memang benar-benar akan meninggalkan kantornya, yang letaknya di seberang ruangan saya. Timun-Terong-Tomat adalah satu keluarga yang bentuk &lt;i&gt;body&lt;/i&gt;-nya berukuran keluarga SiBerat. Asli, seasli-aslinya keluarga Timun dalam dunia nyata memang subur-subur dan gemuk-gemuk.&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Pak Rahmat Riyadi yang juga sering saya sebut Papi adalah pribadi yang &lt;i&gt;easy going&lt;/i&gt;, santai, tetapi selalu berisi. Selalu ada ide-ide di kepalanya yang enggak pernah habis-habis. Kita-kita yang notabene lebih muda saat &lt;i&gt;deadline&lt;/i&gt; dan dikejar waktu sering stres, tapi dia sebaliknya. Masih bisa tetap main &lt;i&gt;hang-man&lt;/i&gt; di sebelah saya. Masih bisa tertawa lepas bila saya berceloteh.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Awal-awal mengenal Papi Rahmat lucu juga. Sebagai anak baru di tahun 90-an, saya masih kikuk-kikuk berada di tempat yang namanya kantor. Maklum waktu itu setamat kuliah baru kerja kantoran. Saat itu saya belum tahu, siapa pemred atau bos di kantor? Karena di situ yang paling tua cuma Pak Rahmat, ya jadilah waktu itu aku mengira beliaulah pemimpin redaksi atau bos saya. Soalnya, menurut saya yang masih awam, bos adalah yang paling tua. Di kemudian hari anggapan itu ternyata tak benar. Bos tak harus paling tua, tetapi harus paling bijaksana, paling bertanggungjawab, paling duluan datang dan paling belakangan pulang karena harus menyelesaikan banyak kerjaan dan tanggungjawab di kantor (tetapi kriteria ini pun ternyata masih salah, karena tidak dimiliki oleh beberapa bos perkantoran negeri Indonesia Raya hehehe). &lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 102, 0);" class="MsoBodyTextIndent"&gt;Kembali ke Pak Rahmat. Saya sangat mengagumi pembawaannya yang kalem tetapi memenuhi syarat sebagai ‘bos’. Kenapa saya menggunakan tanda petik? Sebab meski selama saya sekantor dengan Papi dan bukan bos, beliau menjadi tempat bernaung bila teman-teman menghadapi masalah (terutama masalah pribadi yang diceritakan dalam media curhat). Saya lihat, teman-teman yang curhat padanya, setelahnya kembali tenang. Hahaha! Saya pernah mengangkat diri saya sebagai asisten Papi, kalau ada yang mau curhat harus lapor saya dulu. Soalnya tempat duduk saya tepat di sampingnya. Meja kerja kami bersebelahan. Tentu saja itu dalam koridor bercanda. Kalau sungguhan, mana berani? Bagi saya, mendengarkan keluhan dan menolong yang bermasalah yang dilakukan Papi, adalah salah satu bentuk keikhlasan menolong sesama.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;Ketika saya dan teman-teman satu redaksi dengannya, setiap menjelang akhir tahun, Papi akan membuat ‘ramalan’ buat para Jojoba alias Jomblo-Jomblo Bandel. Bandel karena kadang-kadang kami suka nyleneh, slengekan, khas anak-anak muda semau gue yang konyol. Ramalan saya gunakan tanda petik, karena sebenarnya bukan ramalan. Isinya adalah motivasi dan dorongan agar para Jojoba segera mengakhiri masa lajangnya, dan menikah dengan pilihan hati. Cuma, cara mengemasnya seolah-olah berdasarkan zodiak, tanggal lahir, shio, dan lain-lain. Lucu-lucuan saja. Tetapi begitulah kebersamaan Papi bersama kami-kami yang masih muda. Menyemangati kami dengan cara yang berbeda, &lt;i&gt;fun, enjoy&lt;/i&gt;, tanpa kesan menggurui. Di antara saya dan teman-teman, satu per satu melepas masa lajang karena sudah menemukan tambatan hati. Tetapi ada juga saya dan beberapa teman yang masih &lt;i&gt;single&lt;/i&gt;, bukan lagi termasuk geng Jojoba, tetapi sudah berganti nama menjadi Ijo Lumut alias Ikatan Jomblo Lutju dan iMut. Hahaha…. Apa bedanya sama Jojoba, coba? &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 102, 0);"&gt;&lt;i&gt;Beidewei and eniwei&lt;/i&gt;, Papi sudah melepas masa purnakarya. Papi sudah tidak satu gedung lagi bersama kita. Papi sudah pensiun. Tetapi menurut istilah &lt;i&gt;retired&lt;/i&gt;, maknanya adalah ganti ban supaya kendaraan bisa melaju lebih cepat, lebih aman, lebih seimbang. Begitu pun Papi. Meski sudah pensiun secara sistem kantor, tetapi beliau masih tetap banyak ide di kepalanya yang masih bisa dituangkan dalam banyak media. Memang sih, kami sudah tak bisa lagi curhat-curhat seperti masa-masal lalu. Kami tidak bercanda lagi kayak dulu. Tetapi kami masih bisa menikmati coretan-coretan tangan dan buah pikir Papi. &lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);font-family:trebuchet ms;" &gt;Hidup Timun!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0);font-family:trebuchet ms;" &gt;          The soldiers never die….&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(255, 153, 102);font-family:lucida grande;" &gt;Foto :&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="javascript:void(0)" tabindex="10" onclick="return false;"&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 102, 51);font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(255, 102, 0);font-family:lucida grande;" &gt;Kiri : Saya, Papi Rahmat 'Timun', dan Mas Eddy.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:lucida grande;" &gt;Kanan : Anna, Bu Rahmat, Papi, saya sendiri, dan Wining. Anna, saya, dan Wining dulu gabung dalam satu redaksi. Sekarang kami bertiga masing-masing sudah beda tempat, beda redaksi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1578499656739805162-8302401705085064617?l=sehry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehry.blogspot.com/feeds/8302401705085064617/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1578499656739805162&amp;postID=8302401705085064617' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1578499656739805162/posts/default/8302401705085064617'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1578499656739805162/posts/default/8302401705085064617'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehry.blogspot.com/2008/04/timun-is-leaving.html' title='Timun is leaving'/><author><name>Sri Haryati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15482356378009856181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://2.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/S0VZ7pqwnfI/AAAAAAAAAOk/5mumwR-YU24/S220/flower12a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/SA1dslNgopI/AAAAAAAAAEo/wUnbwfRJPKE/s72-c/foto3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1578499656739805162.post-7761991122286937017</id><published>2008-04-13T23:35:00.000-07:00</published><updated>2008-04-13T23:37:30.741-07:00</updated><title type='text'>Apa yang Dilihat Bulan?</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;            &lt;span style="color: rgb(102, 51, 51);font-size:100%;" &gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Sore tadi saya mengajak Bulan, keponakan saya yang berusia lima tahun ke apotek. Jarak apotek dari rumah hanya sekitar 500 meter, kami naik angkot pergi-pulang. Keponakan saya yang masih duduk di TK A itu termasuk anak yang senang diajak naik kendaraan umum, sebab bisa bersosialisasi dengan sesama penumpang beragam usia dan dandanan. Kadang-kadang jika melihat seseorang yang dimatanya aneh, dia akan cerita sesampainya di rumah, atau berbisik-bisik saat itu juga.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(102, 51, 51);" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(102, 51, 51);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Ketika pulang dari apotek dengan angkot, ada empat penumpang yang sudah berada di dalamnya. Seperti biasa, Bulan berceloteh. Kali itu dia berceloteh tentang kelinci dan hamster yang baru saja dilihatnya di seberang apotek ketika menunggu angkot. Lalu dia berujar ingin memakai kuteks warna hitam. Saya heran, kenapa tiba-tiba ia ingin seperti itu? Kemarin-kemarin dia mencoba pacar kuku warna jingga yang saya belikan di butik Al Fath. Tapi kenapa dia ingin kukunya dicat hitam? Oooh, setelah saya perhatikan penumpang wanita muda di depan saya memakai kuteks hitam, makanya Bulan tercetus ide itu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(102, 51, 51);" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(102, 51, 51);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Si wanita muda nampak manja bersandar di badan laki-laki di sisinya. Bulan terus saja memerhartikan mereka. Tiba-tiba, si lelaki mencium tangan si wanita, kemudian keningnya. Bulan, yang selalu berkomentar apa pun yang dilihatnya, apalagi bila bagi dia merupakan kejadian aneh, berbisik di telinga saya. “Iiih, dia itu pacalan, ya?” dengan suaranya yang masih cadel. Karena anak kecil hanya punya norma atau nilai-nilai hitam-putih, maka saya pun meluruskan pendapat anak kecil itu. “Mereka kan suami istri, jadi boleh dekat-dekatan duduknya dan boleh cium karena ayahnya sayang sama bundanya.” Padahal saya yakin kalau pasangan itu bukan pasangan suami istri, karena si wanita masih belia, belasan tahun dan mungkin masih sekolah di SLTA, sedangkan laki-lakinya mungkin masih kuliah. Bulan, murid TK Aisyiah tentu akan bingung jika saya terangkan bahwa mereka pacaran di tempat umum dan saling cium.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(102, 51, 51);" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(102, 51, 51);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Belum habis rasa penasaran Bulan, si wanita muda turun, sedangkan si laki-laki tidak. Kontan Bulan berbisik lagi, “Kok ayahnya ditinggal bundanya. Lihat tuh, bundanya tulun sendilian.” Mungkin Bulan ingin bilang, bahwa mereka adalah pasangan kekasih dan bukan suami istri. Sekali lagi saya tenangkan dia, “Ya, ayahnya mau beli sesuatu dulu kali di sana…” Bulan seolah-olah mengerti sambil memerhatikan si laki-laki, entah apa yang ingin diketahuinya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(102, 51, 51);" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(102, 51, 51);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Saya pribadi sih, tidak mau campur tangan urusan pribadi orang yang berpacaran. Tapi kalau sampai demonstratif di tempat umum dan ada anak kecil, tentu menjadi risih. Anak-anak yang masih polos akan bertanya-tanya, apakah boleh laki-laki dan perempuan yang belum menikah bebas cium kening atau tanga, yang notabene tidak diperbolehkan oleh agama?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(102, 51, 51);" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(102, 51, 51);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Tayangan-tayangan atau adegan semacam di angkot tadi bukan hal yang baru sebenarnya. Kalau belum muak dengan sinetron-sinetron televisi, perhatikan saja adegan yang lebih seram banyak disuguhkan, bahkan pada jam-jam &lt;i&gt;prime time&lt;/i&gt;, di mana anak-anak kecil belum tidur. Kita tak bisa menyalahkan dengan mudah, kenapa orangtuanya menonton acara-acara televisi. Media elektronik TV adalah salah satu media hiburan paling murah yang bisa dinikmati semua kalangan. Dari rumah mewah sampai rumah sempit di kolong jembatan, pesawat televisi sudah menjadi inventaris rumah tangga. Saat kepenatan datang, hiburan layar kacalah yang menjadi nomor urut satu menjadi pilihan rata-rata rumah tangga.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(102, 51, 51);" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(102, 51, 51);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Di sinema elektronik, adegan seks bebas, kumpul kebo, pacaran di usia SMP dan SMA, narkoba, saling menggencet, saling mencaci dan memaki dengan kata-kata kasar, sudah menjadi menu sehari-hari di rumah kita. Karena sudah dianggap biasa, orang-orang awam yang tak pakai filter pun meniru mentah-mentah apa yang mereka lihat di televisi. Kemungkinan besar pasangan kekasih di angkot tadi menganggap, bahwa unjuk kemesraan di tempat umum juga adalah hal yang lumrah dan tak perlu malu-malu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(102, 51, 51);" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(102, 51, 51);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Okelah, mereka tak malu (atau mungkin memang tak tahu malu?) Tetapi bagaimana dengan anak-anak kecil yang menonton adegan itu? Baik di TV atau di tempat umum? &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(102, 51, 51);" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(102, 51, 51);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Andai kedua orang muda itu paham, bahwa kelakuan mereka sudah mendekati zina. Andai para produser dan stasiun televisi sadar, bahwa mereka sedang dalam proses perusakan akal budi anak-anak. Tapi pengandaian-pengandaian itu hanyalah angan-angan. Padahal dalam Al-Qur’an Surat Al-Isro ayat 32 ditegaskan oleh Allah : &lt;i&gt;“Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah sesuatu yang keji dan suatu jalan yang buruk.”&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(102, 51, 51);" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(102, 51, 51);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Subhanallah, mendekati saja tak boleh, apalagi jika melakukan? Islam memang agama yang santun dan halus. Sebelum melangkah lebih jauh, Allah SWT sudah menuntun dan mengingatkan agar tidak mendekatinya. Sayangnya banyak orang yang notabene muslim tidak menghiraukan ayat suci tersebut. Semoga Bulan dan anak-anak kecil lainnya akan menyadari bahwa Allah sangat sayang pada umat-Nya sehingga perlu diperingatkan sejak dini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(102, 51, 51);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Wallahu’alam bisawab.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 51, 51);font-size:100%;" &gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;  &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(102, 51, 51);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Cipinang, Minggu malam 13 April 2008&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1578499656739805162-7761991122286937017?l=sehry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehry.blogspot.com/feeds/7761991122286937017/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1578499656739805162&amp;postID=7761991122286937017' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1578499656739805162/posts/default/7761991122286937017'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1578499656739805162/posts/default/7761991122286937017'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehry.blogspot.com/2008/04/apa-yang-dilihat-bulan.html' title='Apa yang Dilihat Bulan?'/><author><name>Sri Haryati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15482356378009856181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://2.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/S0VZ7pqwnfI/AAAAAAAAAOk/5mumwR-YU24/S220/flower12a.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1578499656739805162.post-4000074860083006055</id><published>2008-04-11T03:49:00.000-07:00</published><updated>2008-04-11T03:53:06.509-07:00</updated><title type='text'>Bika Ambon yang Bukan Dari Ambon</title><content type='html'>&lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(204, 153, 51); font-weight: bold;" class="MsoBodyText"&gt;Kalau abis berkunjung ke suatu daerah pastinya akan pulang dengan membawa oleh-oleh khas daerah tersebut, dong? Misalnya wingko babat dari Semarang, bakpia pathuk dari Jogja, kerupuk dari Surabaya, dan bika ambon dari Medan. Lucu juga nih, pakai nama kota Ambon, tapi justru sangat terkenal dari Medan.&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 51, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;h2 style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(255, 204, 0);"&gt;Bika Ambon Khas Medan&lt;/h2&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 51, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Coba lihat ketika kita sedang antri menunggu bagasi di bandara sepulang dari Medan. Hampir 80 persen penumpang pesawat membawa oleh-oleh bika ambon atau sirup markisa. Kalau kita berkunjung ke Medan, enggak susah mencari oleh-oleh bika ambon yang sudah menjadi khas Medan. Pusat penjualan kue ini ada di ruas jalan Majapahit, wilayah Medan Petisah. Banyak banget toko penjual bika ambon di sini, lengkap dengan jenis kue-kue lain seperti bolu gulung, teng-teng, dan sirup markisa.&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 51, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Bika ambon sudah identik dengan Medan. Tetapi kenapa nama kue yang berembel-embel Ambon, tapi justru sangat terkenal di Medan, bukan di Ambon? Konon dulu ada riwayat orang-orang Ambon merantau ke Malaysia membawa kue bika. Begitu tahu rasa kue ini sangat enak, mereka tidak kembali ke Ambon, malah singgah di Medan. Di kota ini mereka membuat kue bika yang enak, dan menjadi sangat terkenal di Medan sampai hari ini. &lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 51, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Sekarang bika ambon sudah berkembang. Bukan hanya bika biasa, tetapi ada bika ambon pandan yang berwarna hijau. Ada bika keju atau coklat, ada juga bika keju campur coklat. Tergantung bagaimana selera kita yang ingin membelinya. Tetapi semua rasanya enak dan khas tidak mudah terlupakan. Harganya pun bervariasi. Di toko bika ambon “Zulaikha” di Jalan Mojopahit, bika ambon harganya antara 23.000 Rupiah sampai 30.000 Rupiah. &lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 51, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Yang ingin membawa oleh-oleh markisa, di Jalan Mojopahit ini juga banyak tersedia. Kita tidak perlu repot-repot membawanya sendiri. Bisa bayar di tempat, lalu di ambil di wilayah tempat kita tinggal sesuai dengan daftar kota yang tersedia. Misalnya kita tinggal di Jakarta Timur, ada banyak toko tempat pengambilan sirup ini di wilayah ini.&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 51, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;h2 style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(153, 153, 0);"&gt;Pasar Busana Muslim di Pajak Ikan&lt;/h2&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 51, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Waktu pertama kali mendengar kata Pajak Ikan, saya membayangkan jejeran tukang ikan beraroma amis dan tempatnya becek. Tetapi jangan salah duga! Namanya memang Pajak Ikan, tetapi kita tidak akan menjumpai penjual-penjual ikan. Pajak adalah kata lain untuk pasar. Di sinilah pusat penjualan busana muslim dari telekung (mukena), baju koko, peci, jilbab, kerudung, bahan-bahan pakaian, sampai pakaian ibadah haji pun tersedia. Banyak pembeli dari Malaysia dan negara tetangga datang berbelanja di sini.&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 51, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dulu di tahun 1950-an, Pajak Ikan Lama adalah tempat grosir ikan asin yang dibawa dari Tanjung Balai melalui Pelabuhan Belawan. Masa itu kawasan ini cukup penting sebagai pusat perniagaan. Masa-masa peralihan kekuasaan dari pemerintahan Belanda ke Pemerintah RI, pada pedagang ikan asin pindah berjualan ke Pasar Sentral. Lalu, sejak tahun 1970, Pajak Ikan mulai berganti dengan pedagang-pedagang tekstil dan pakaian jadi. Kini menjadi pusat pasar tekstil terbesar di Medan. Saya&lt;i&gt; &lt;/i&gt;sempat membeli kerudung dan memilih mukena. Modelnya memang bagus-bagus enggak ketinggalan zaman, dan bordirannya halus banget. Khusus untuk mukena, ada yang didatangkan dari Bukittinggi yang terkenal dengan bordirannya yang halus, selain mukena-mukena bordiran Medan. Keduanya memiliki ciri khas yang berbeda bila kita melihatnya langsung.&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 51, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Kata pedagang di Pajak Ikan ini, menjelang bulan Ramadhan suasananya akan ramai banget. Dari pagi sampai menjelang Magrib, jalanan di kawasan ini padat oleh pembeli yang bukan saja dari Medan dan sekitarnya, juga dari kota-kota lain seperti Pekanbaru, Padang, dan lain-lain.&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 51, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;h2 style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 153, 0);"&gt;Pasar Sentral&lt;/h2&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 51, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Oh ya, satu lagi oleh-oleh yang tak lepas dari embel-embel kata Medan adalah teri Medan. Sebenarnya ikan kecil-kecil ini bisa kita jumpai di kota-kota lain di luar Medan. Tetapi bila ingin membawanya sebagai oleh-oleh dari Medan, kita bisa membelinya di Pasar Sentral. Bangunan ini terletak di belakang Medan Mall. &lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 51, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Selain ikan teri yang terkenal gurih dan enak itu, Pasar Sentral juga tempat perdagangan garment. Ketika saya&lt;i&gt; &lt;/i&gt;berjalan-jalan sampai bagian belakang blok penjualan garment, menemukan kios yang khusus menjual bahan-bahan hasil tenunan Sumatera Utara. Dari ulos, taplak meja, sarung, juga perlengkapan pesta khas Tapanuli Utara. Toko milik Pak Sianipar ini nampak menarik dengan pajangan bahan-bahan tenunan yang berwarna-warni. &lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 51, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Jadi, jika kita kebetulan datang ke ibukota Sumatera Utara ini, tinggal pilih saja mau membawa oleh-oleh apa?&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 51, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 51, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Sri Haryati&lt;/i&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1578499656739805162-4000074860083006055?l=sehry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehry.blogspot.com/feeds/4000074860083006055/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1578499656739805162&amp;postID=4000074860083006055' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1578499656739805162/posts/default/4000074860083006055'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1578499656739805162/posts/default/4000074860083006055'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehry.blogspot.com/2008/04/bika-ambon-yang-bukan-dari-ambon.html' title='Bika Ambon yang Bukan Dari Ambon'/><author><name>Sri Haryati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15482356378009856181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://2.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/S0VZ7pqwnfI/AAAAAAAAAOk/5mumwR-YU24/S220/flower12a.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1578499656739805162.post-8441961388653913581</id><published>2008-04-11T02:46:00.000-07:00</published><updated>2008-09-15T22:27:16.266-07:00</updated><title type='text'>Cobain Deh Becak Motor di Medan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/SM9DG_wg5vI/AAAAAAAAAFU/Pi1_w1AC2Ok/s1600-h/becak+kayuh.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/SM9DG_wg5vI/AAAAAAAAAFU/Pi1_w1AC2Ok/s200/becak+kayuh.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5246485878383109874" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/SM9C7QZnz-I/AAAAAAAAAFM/pvvZL2likFg/s1600-h/sihombing1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/SM9C7QZnz-I/AAAAAAAAAFM/pvvZL2likFg/s200/sihombing1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5246485676692066274" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/SM9CxnbHZWI/AAAAAAAAAFE/OYZq-bshR3w/s1600-h/betor1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/SM9CxnbHZWI/AAAAAAAAAFE/OYZq-bshR3w/s200/betor1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5246485511073654114" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="font-family: verdana; font-weight: bold; color: rgb(153, 153, 255);" class="MsoBodyText"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: verdana; font-weight: bold; color: rgb(153, 153, 255);" class="MsoBodyText"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: verdana; font-weight: bold; color: rgb(153, 153, 255);" class="MsoBodyText"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: verdana; font-weight: bold; color: rgb(153, 153, 255);" class="MsoBodyText"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: verdana; font-weight: bold; color: rgb(153, 153, 255);" class="MsoBodyText"&gt;Kalau Jakarta zaman dulu ada kendaraan roda tiga yang namanya helicak. Namanya begitu katanya singkatan dari helikopter dan becak. Bentuknya memang mirip helikopter, tapi enggak bisa terbang. Cuma bisa didarat dan dengan tenaga motor. Di Sumetera Utara umumnya dan Medan khususnya, ada betor atau becak motor. Serombongan anak sekolah bahkan menjadikan betor antar-jemput mereka dari dan ke sekolah.&lt;/p&gt;    &lt;p face="verdana" style="color: rgb(102, 0, 204);" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; font-family: verdana; color: rgb(102, 0, 204);"&gt;Selintas, bentuk becak motor mirip-mirip motor Harley Davidson. Ada motor roda dua sebagai penggerak utama, dan tambahan untuk penumpang (semacam &lt;i&gt;sespan&lt;/i&gt;, yang menempel di samping kiri motor) dengan tambahan satu roda lagi. Jadi, becak motor pun beroda tiga. Selain betor atau becak motor, ada lagi ‘saudaranya’, yaitu becak dayung atau becak kayuh. Becak kayuh bentuknya sama-sama roda tiga, hanya tenaganya memakai tenaga genjotan manusia. Bedanya dengan becak-becak biasa di Jawa, becak kayuh Sumatera Utara ini penumpangnya tidak di depan tempat duduknya, tetapi di samping, sama seperti pada becak motor. Kendaraan becak kayuh bisa dibilang model angkutan yang ramah lingkungan, karena tidak menimbulkan polusi udara. Becak motor disebut juga becak bensin. Ada-ada saja ya, sebutannya!&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: verdana; color: rgb(102, 0, 204);" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; font-family: verdana; color: rgb(102, 0, 204);"&gt;Suatu sore saya sengaja berkeliling sebentar mengelilingi jalan-jalan kota Medan dengan betor yang dikemudikan Bang Ulil. Si Abang ini lincah sekali berkelit di antara mobil-mobil yang lalu lalang di jalan. Sampai-sampai penumpangnya harus menahan napas ketika betor yang dibawa Bang Ulil berhadapan dengan angkutan umum yang juga tak kalah lincah. Sudah setahun Bang Ulil menarik betor. Sebelumnya ia bekerja di Malaysia sebagai TKI. Lelaki asli Medan ini sehari ia harus setor pada pemilik betor sejumlah 25.000 Rupiah. Bensin yang ia apakai selama menarik sekitar 20.000 Rupiah. Sisa pembelian bensin dan makan ia bisa bawa pulang sebagai penghasilan satu hari. Tarif betor bervariasi, tergantung hasil negoisasi antara pengemudi betor dan calon penumpangnya. Untuk jarak sekitar lima sampai 10 meter sekali jalan berkisar 5.000 Rupiah hingga 10.000 Rupiah. Jarak jauh bisa mencapai 25 ribu Rupiah.&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: verdana; color: rgb(102, 0, 204);" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; font-family: verdana; color: rgb(102, 0, 204);"&gt;Tidak cuma sekali itu saya naik betor selama di Medan. Mumpung di Medan, saya pun naik betor yang dikemudikan Pak Nurlah ke tempat penangkaran buaya di Asam Kumbang, Kecamatan Meda Selayang. Dibanding taksi, naik betor lebih murah. Lagipula kemarinnya saya naik taksi malah dikibulin sama Bang Supir. Saya pikir jaraknya jauh, mau aja digetok 50 ribu. Tak tahunya, jarak yang sama dengan betor cuma delapan ribu rupiah saja. &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; font-family: verdana; color: rgb(102, 0, 204);"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; font-family: verdana; color: rgb(102, 0, 204);"&gt;Oh ya, betor termasuk angkutan umum yang fleksibel. Dia bisa mengantar penumpangnya kemana saja, sepanjang jalan yang dilaluinya bukan larangan untuk betor dan becak kayuh. Pak Nurlah baru sembilan bulan menarik betor di usianya yang tidak muda lagi, sekitar 50-an tahun. Pria separuh baya asal Minang ini bahkan sebelumnya lama tinggal di Jakarta, ikut membantu kerabatnya yang membuka Rumah Makan Padang di Pondok Gede. Sama seperti Bang Ulil, Pak Nurlah pun setor sehari 25.000 Rupiah kepada pemilik betor.&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: verdana; color: rgb(102, 0, 204);" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; font-family: verdana; color: rgb(102, 0, 204);"&gt;Yang lebih beruntung mungkin Pak Sihombing. Lelaki tua yang mengaku berumur lebih dari 60 tahun ini sudah 40 tahun menjadi penarik betor. Kendaraan yang sekarang dipakainya ini adalah miliknya pribadi, sehingga ia tidak merasa dikejar-kejar setoran. Sehari-hari Pak Sihombing mangkal di depan hotel Danau Toba, Medan. Dia menarik betor sejak usia belasan tahun, sehingga sudah hapal seluk-beluk jalan-jalan di kota Medan. &lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: verdana; color: rgb(102, 0, 204);" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; font-family: verdana; color: rgb(102, 0, 204);"&gt;Namun disayangkan, beberapa tukang betor yang ugal-ugalan membuat beberapa pihak tidak simpatik terhadap keberadaan betor. Mereka dianggap pengganggu kelancaran lalu lintas. Padahal banyak kaum ibu dan anak-anak yang menggunakannya. Entah ke pasar, toserba, atau sekolah. Banyak murid TK dan SD dalam rombongan kecil menggunakan betor untuk ke sekolah atau pulang ke rumah mereka. Dalam satu betor bisa lima sampai enam murid SD atau TK.&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: verdana; color: rgb(102, 0, 204);" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; font-family: verdana; color: rgb(102, 0, 204);"&gt;Becak motor dan becak kayuh bagaimanapun sudah menambah ciri khas kota Medan khususnya, dan Sumatera utara umumnya. Seperti halnya delman sebagai ciri khas kendaraan tradisional di Jawa yang makin lama makin berkurang jumlahnya karena terlindas kemajuan zaman. Uniknya, ada beberapa becak motor atau kayuh di Medan yang bagian belakangnya tertulis “Becak Motor Wisata”.&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: verdana; color: rgb(102, 0, 204);" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p  style="color: rgb(51, 51, 255);font-family:verdana;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt;(Sri Haryati) &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: verdana; color: rgb(102, 0, 204);" class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;foto-foto : Sri Haryati&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 0, 204);font-family:verdana;" &gt; &lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1578499656739805162-8441961388653913581?l=sehry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehry.blogspot.com/feeds/8441961388653913581/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1578499656739805162&amp;postID=8441961388653913581' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1578499656739805162/posts/default/8441961388653913581'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1578499656739805162/posts/default/8441961388653913581'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehry.blogspot.com/2008/04/cobain-deh-becak-motor-di-medan.html' title='Cobain Deh Becak Motor di Medan'/><author><name>Sri Haryati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15482356378009856181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://2.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/S0VZ7pqwnfI/AAAAAAAAAOk/5mumwR-YU24/S220/flower12a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/SM9DG_wg5vI/AAAAAAAAAFU/Pi1_w1AC2Ok/s72-c/becak+kayuh.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1578499656739805162.post-3549042923684738306</id><published>2008-04-02T03:36:00.000-07:00</published><updated>2008-12-11T09:39:55.950-08:00</updated><title type='text'>Makassar, Kota Hembusan Angin Sepoi-sepoi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/R_Nn2X9hQvI/AAAAAAAAAEA/OVDCwbomYPs/s1600-h/Dscn5417.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/R_Nn2X9hQvI/AAAAAAAAAEA/OVDCwbomYPs/s200/Dscn5417.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5184601779876217586" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/R_Nn2n9hQwI/AAAAAAAAAEI/FVms041v8lA/s1600-h/Dscn5390.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/R_Nn2n9hQwI/AAAAAAAAAEI/FVms041v8lA/s200/Dscn5390.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5184601784171184898" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/R_Nn239hQxI/AAAAAAAAAEQ/ySyWqx0HjAM/s1600-h/pantai+losari2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/R_Nn239hQxI/AAAAAAAAAEQ/ySyWqx0HjAM/s200/pantai+losari2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5184601788466152210" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt; &lt;p style="font-weight: bold; font-family: verdana;" class="MsoBodyText"&gt;Tidak salah bila Makassar disebut kota Anging Mamiri yang artinya hembusan angin sepoi-sepoi basah. Letaknya yang di tepi Pantai Losari memiliki keindahan tersendiri. Makassar juga sebagai pintu gerbang Indonesia Timur.&lt;/p&gt;   &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:verdana;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Masih ingat kan, kota ini sempat bernama Ujungpandang? Nama Makassar mulai dikenal sejak abad ke-15, sebelum Belanda masuk ke Indonesia di abad ke-16. Pada tahun 1640 Makassar telah menjadi nama ibukota kerajaan kembar Gowa-Tallo. Gowa-Tallo adalah simbol kerajaan terbesar di kawasan timur Nusantara. Ketika Republik Indonesia merdeka, Makassar menjadi ibukota Propinsi Sulawesi (saat Sulawesi dibagi menjadi 4 propinsi). &lt;/p&gt;   &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:verdana;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p  class="MsoNormal" style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dalam perjalanan waktu, Makassar diubah menjadi Ujungpandang tanggal 31 Agustus 1971. Tetapi setelah 28 tahun diperjuangkan berbagai kalangan, kota ini kembali bernama Makassar. Perubahan kota berpenduduk sekitar 1,7 juta jiwa ini tertuang lewat Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomo 86 Tahun 1999. &lt;/p&gt;   &lt;p face="verdana" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p face="verdana" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Warga masyarakat pun banyak yang gembira dengan kotanya yang kembali menyandang nama Makassar. “Saya senang, sebab sejak dulu memang sudah bernama Makassar,” ujar Amir, seorang warga Makassar. Warga lainnya, M.Darling yang pernah merantau 10 tahun di Kendari juga lebih bangga dengan nama Makassar daripada Ujungpandang. “Aslinya, namanya memang Makassar,” demikian alasan M.Darling yang sehari-hari bekerja sebagai supir taksi.&lt;/p&gt;   &lt;p face="verdana" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p face="verdana" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Kota Makassar yang cukup panas ini diapit dua sungai, yaitu Sungai Jeneberang yang bermuara di bagian selatan kota, dan Sungai Tallo yang bermuara di utara kota. Di kota ini bermukim masyarakat yang terdiri dari beberapa etnis yang hidup berdampingan dengan damai seperti etnis Bugis, Makassar, Toraja, Mandar, dan lain-lain. &lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: verdana;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: verdana;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Makassar juga sebagai pintu gerbang bagi para pelancong yang akan mengunjungi Tana Toraja dan tujuan-tujuan wisata lainnya di Sulawesi Selatan. Selain itu, di sekitar kota Makassar pun banyak obyek wisata yang bisa kita kunjungi. Antara lain Pulau Kayangan, Pulau Samaloma. Belum lagi obyek wisata sejarah seperti Benteng Rotterdam, Museum Lagaligo, Makam Pangeran Diponegoro, Makam Syech Yusuf, Makam Sultan Hasanuddin, Makam Raja-raja Tallo, Benteng Somba Opu, dan lain-lain.&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: verdana;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: verdana;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Pantaslah jika di zaman penjajahan Belanda, kota ini menjadi incaran, sebab sejak abad ke-16 Makassar sudah dikenal sebagai pusat perdagangan yang dominan di Indonesia bagian timur. Bahkan, menjadi salah satu kota terkenal dan diperhitungkan di Asia Tenggara pada masa itu. Raja-raja Makassar pun menerapkan kebijaksanaan perdagangan yang bebas namun ketat, tetapi menolak VOC melakukan praktek monopoli.&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: verdana;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: verdana;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Letak kota yang berada di tepi laut membuat kita selalu merasakan sepoi-sepoinya angin bertiup meski cuaca sangat panas di atas 30 derajat Celcius. Tak heran dijuluki kota &lt;i&gt;anging mamiri&lt;/i&gt;, yang artinya hembusan angin sepoi-sepoi. Pantai Losari terletak di dekat jantung kota, adalah kebanggaan masyarakat Kota Makassar. Pemandangan laut dari Losari terbilang indah. Di sore hari banyak warga masyarakat datang ke Pantai Losari untuk menikmati &lt;i&gt;sunset&lt;/i&gt; tanpa dipungut bayaran. Saya pun saban sore selama tugas di sana beberapa hari tak mau melewatkan melihat terbenamnya sinar matahari di ufuk barat.&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: verdana;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: verdana;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Sebagai kota terbesar di wilayah Indonesia Timur, Makassar memiliki Monumen Mandala. Monumen ini merupakan bangunan segituga yang menjulang tinggi, terletak di Jalan Jenderal Soedirman. Monumen Mandala dibangun di zaman Orde Baru oleh Soeharto sebagai peringatan perjuangan operasi Mandala dalam membebaskan Irian Barat dari penjajah Belanda. Makassar menjadi pusat komandi operasi ini. &lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: verdana;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: verdana;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;(Sri Haryati)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;foto-foto : Sri Haryati&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt;Teks foto :&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;1.Tugu Mandala, lambang pembebasan Irian Barat dalam Operasi Mandala.&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;2..Benteng Rotterdam, saksi sejarah dari Kota Makassar.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt;3.Pantai Losari, menarik perhatian warga Kota Makassar di sore hari.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1578499656739805162-3549042923684738306?l=sehry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehry.blogspot.com/feeds/3549042923684738306/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1578499656739805162&amp;postID=3549042923684738306' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1578499656739805162/posts/default/3549042923684738306'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1578499656739805162/posts/default/3549042923684738306'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehry.blogspot.com/2008/04/makassar-kota-hembusan-angin-sepoi.html' title='Makassar, Kota Hembusan Angin Sepoi-sepoi'/><author><name>Sri Haryati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15482356378009856181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://2.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/S0VZ7pqwnfI/AAAAAAAAAOk/5mumwR-YU24/S220/flower12a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/R_Nn2X9hQvI/AAAAAAAAAEA/OVDCwbomYPs/s72-c/Dscn5417.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1578499656739805162.post-2836307853319283913</id><published>2008-04-02T03:02:00.000-07:00</published><updated>2008-12-11T09:39:56.358-08:00</updated><title type='text'>Masjid Al Markaz Al Islami</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/R_NeG39hQuI/AAAAAAAAAD4/5XN9s6RHtjA/s1600-h/masjid2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/R_NeG39hQuI/AAAAAAAAAD4/5XN9s6RHtjA/s200/masjid2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5184591068227781346" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/R_NdPn9hQtI/AAAAAAAAADw/Oq2vHKKf9RA/s1600-h/masjid1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/R_NdPn9hQtI/AAAAAAAAADw/Oq2vHKKf9RA/s200/masjid1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5184590119040008914" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="font-weight: bold; font-family: trebuchet ms;" class="MsoBodyText"&gt;Warga Makassar boleh berbangga memiliki masjid terbesar dan paling megah di Asia Tenggara. Bangunannya terdiri dari tiga lantai terbuat dari granit. Mombi berkesempatan mengunjungi masjid besar ini.&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; font-family: trebuchet ms;"&gt;Masjid Al Markaz berada di Jalan Mesjid Raya, kecamatan Bontala, Makassar, Sulawesi Selatan. Dari kejauhan, masjid ini memang nampak megah dan berarsitektur indah. Arsitektur Al Markaz Al Islami memang dipengaruhi oleh Masjidil Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah Al Munawwarah. Arsitek Ir. Achmad Nu’man yang merancang Al Markaz juga menambahkan unsur arsitektur Masjid Katangka Gowa dan rumah adat Bugis-Makassar pada umumnya. Karenanya masjid ini tidak memiliki kubah atau atap bundar, tetapi kuncup segi empat meniru kuncup Masjid Katangka dan rumah Bugis-Makassar.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; font-family: trebuchet ms;"&gt;Nuansa warna hijau yang sejuk dan teduh, Masjid Al Markaz Al Islami diharapkan menjadi salah satu pusat peradaban dan pengkajian Islam di Kawasan Indonesia Timur. Sekaligus juga menjadi kebanggan masyarakat Sulawesi Selatan.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; font-family: trebuchet ms;"&gt;Masjid ini mulai didirikan 8 Mei 1994 dan dinyatakan selesai tanggal 12 Januari 1996 dengan memakan biaya 12 miliar rupiah. Bangunan utama terdiri dari tiga lantai, diperuntukkan untuk ruang kantor sekretariat, aula, perpustakaan, pendidikan, koperasi, dan kantor MUI Sulsel. &lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;h2  style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style=";font-size:14;color:green;"  &gt;Sejarah Berdirinya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; font-family: trebuchet ms;"&gt;Ide awal lahir dari Almarhum Jenderal M. Jusuf yang ketika tahun 1989 menjadi Amirul Hajj (pimpinan perjalanan haji) menyampaikan keinginannya mendirikan masjid yang monumental di Makassar. Yang mendengarkan cetusan ide tersebut salah satunya adalah M. Jusuf Kalla, yang sekarang menjadi Bapak Wakil Presiden kita. Masjid besar ini sengaja ditempatkan di Makassar bukan karena almarhum M. Jusuf berasal dari Sulawesi Selatan. Alasan tepatnya adalah, karena Makassar merupakan titik sentral kawasan timur Indonesia, dan masyarakatnya cukup agamis, terlihat dari jumlah jemaah haji yang cukup banyak dari sini. Saat awal pembangunannya, disepakati nama masjid ini adalah Al Markaz Al Islami.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; font-family: trebuchet ms;"&gt;Seiring perkembangan waktu, nama pun berubah. Setelah digunakan selama sepuluh kali Bulan Ramadhan, Masjid Al Markaz Al Islami menggunakan nama barunya, yakni Masjid Al Markaz Al Islami Jenderal M. Jusuf. Penggantian nama tersebut sebagai penghargaan kepada almarhum M. Jusuf yang telah memprakarsai berdirinya masjid terbesar di Asia Tenggara. &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; font-family: trebuchet ms;"&gt;Masjid besar yang bernaung di bawah Yayasan Islamic Center ini mampu menampung sampai 10.000 jamaah. Keberadaannya sangat terkenal ke seluruh nusantara, bahkan hingga manca negara dengan nama Al Markaz Al Islami. Selain sebagai tempat ibadah, Al Markaz Al Islami juga menjadi pusat pengembangan dan penelitian serta pendidikan. Di sini terdapat TK Islam Al Markaz, pelatihan-pelatihan, kuliah dhuha, dan perkemahan remaja.&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;(Sri Haryati)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Foto – foto : Sri Haryati&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1578499656739805162-2836307853319283913?l=sehry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehry.blogspot.com/feeds/2836307853319283913/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1578499656739805162&amp;postID=2836307853319283913' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1578499656739805162/posts/default/2836307853319283913'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1578499656739805162/posts/default/2836307853319283913'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehry.blogspot.com/2008/04/masjid-al-markaz-al-islami.html' title='Masjid Al Markaz Al Islami'/><author><name>Sri Haryati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15482356378009856181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://2.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/S0VZ7pqwnfI/AAAAAAAAAOk/5mumwR-YU24/S220/flower12a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/R_NeG39hQuI/AAAAAAAAAD4/5XN9s6RHtjA/s72-c/masjid2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1578499656739805162.post-547442744706049134</id><published>2008-03-19T04:25:00.000-07:00</published><updated>2008-03-25T23:59:21.958-07:00</updated><title type='text'>Surga Penggemar Makan di Makassar</title><content type='html'>&lt;p style="font-weight: bold; font-family: trebuchet ms;" class="MsoBodyText"&gt;Konon, Makassar adalah surga bagi para penyantap ikan. Selain harganya lebih murah dibanding Jakarta, jenisnya pun macam-macam. Tetapi makanan di Makassar bukan hanya ikan saja. Ada banyak, dari cemilan sampai minuman segar.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Begitu menyusuri perjalanan dari Bandara Hasanuddin ke hotel, di pinggir jalan bertebaran warung-warung makanan yang menyajikan makanan khas Makassar. Misalnya coto Makassar, sop konro, pallu basa, bandeng bakar, dan lain-lain yang tentunya menggugah selera. Terbayang menu makanan dengan kuah segar yang panas ditambah sambal. Wah, membayangkan saja bisa menerbitkan air liur, ingin cepat-cepat mencicipi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Di malam hari saya&lt;i&gt; &lt;/i&gt;sempat makan ikan di Rumah Makan Bahari, di Jalan Yosep Latumahina. Macam-macam ikan tersedia di sini. Sebelum menyantap, saya berkesempatan memilih ikan-ikan mana saja yang mau ‘disulap’ jadi santapan lezat. Ada ikan sunu atau kerapu. Motif kulitnya lucu-lucu, ada yang garis-garis oranye, dan ada yang totol-totol hitam. Oh ada juga ikan yang bentuknya mirip setrikaan besi model lama. Namanya ikan kudu-kudu. Tetapi, apa pun motif dan bentuknya, bila sudah diolah dan siap disantap di meja makan, yang terlihat adalah daging ikan yang gurih dan nikmat. Dengan tambahan aneka sambal, wah… dijamin puas! Tempat makan ikan lainnya yang cukup terkenal di Makassar adalah di Jalan Datu Museng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dari makanan ikan, kita coba makanan berkuah yang penuh dengan bumbu-bumbu. Saya&lt;i&gt;&lt;/i&gt; singgah di Rumah Makan Sop Karebossi di Jalan Gunung Lompobatang yang terkenal itu. Cabang rumah makan ini ada juga di dua tempat di Jakarta. Ah, tak ada salahnya mencoba di tempat asalnya, bukan? Di sini tersedia sop konro bakar dan sop konro biasa. Ada juga pallu basa. Tidak banyak yang menjual sop konro bakar, dan Rumah Makan Karebossi ini, konro bakarnya sungguh-sungguh lezat. Nama makanan pallu basa tadinya sempat membuat penasaran. Jenis apa ya kira-kira, makanan itu? &lt;i&gt;Pallu&lt;/i&gt; artinya makanan atau masakan, sedangkan &lt;i&gt;basa&lt;/i&gt; artinya basah. Jadi maksudnya adalah makanan basah atau berkuah, sejenis sup. Masakan ini mirip &lt;i&gt;coto&lt;/i&gt; atau soto tetapi bumbu dasarnya tidak memakai kacang tanah. Di atas kuahnya ditaburi parutan kelapa halus seperti serundeng yang menambah pallu basa menjadi gurih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Di sepanjang Gunung Lompobatang ini banyak juga warung kecil penjual makanan. Saya sempat makan siang di salah satu warung yang menyediakan sup saudara. Kuahnya gurih enak dengan bumbu rempah-rempahnya. Isinya daging dan hati dicampur sedikit bihun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Coba deh jalan ke Pantai Laguna di malam hari. Di sana sepanjang jalan penuh deretan makanan berupa warung-warung. Mereka menjual aneka makanan khas Makassar. Saya memesan pisang epe dan minuman saraba. Pisang epe banyak variasinya. Ada yang rasa gula, keju, cokelat. Sebenarnya pisang epe mirip dengan pisang penyet karena prosesnya memang dipenyet. Pisang kepok yang belum terlalu matang dipenyet dengan alat dari kayu, lalu dibakar di atas arang. Kemudian, pisang epe dihidangkan dengan ditambah siraman gula aren cair. Ada juga kue pisang yang disebut barongko. Pisangnya dilumat, dibungkus daun pisang, kemudian dikukus. Mungkin nama dan jenisnya diilhami bongko dari Jawa Tengah. Oh ya, minuman saraba yang saya inikmati  juga cocok dihidangkan malam hari. Saraba sejenis wedang jahe hangat tetapi ada rasa sodanya. Apalagi jika disruput saat hujan sore-sore, wah nikmatnya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Pokoknya rugi, bila sedang berada di Makassar tanpa mencicipi makanannya. Semuanya enak-enak dan harga terjangkau.&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: verdana;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;(Sri Haryati)&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1578499656739805162-547442744706049134?l=sehry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehry.blogspot.com/feeds/547442744706049134/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1578499656739805162&amp;postID=547442744706049134' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1578499656739805162/posts/default/547442744706049134'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1578499656739805162/posts/default/547442744706049134'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehry.blogspot.com/2008/03/surga-penggemar-makan-di-makassar.html' title='Surga Penggemar Makan di Makassar'/><author><name>Sri Haryati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15482356378009856181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://2.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/S0VZ7pqwnfI/AAAAAAAAAOk/5mumwR-YU24/S220/flower12a.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1578499656739805162.post-5145509371777870019</id><published>2008-03-11T00:03:00.000-07:00</published><updated>2008-03-11T00:11:22.621-07:00</updated><title type='text'>Kumis</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Beberapa hari lalu saya menemani teman membeli sesuatu di sebuah pusat perbelanjaan. Meski cuma menemani, saya juga ikut-ikutan tertarik mendengarkan penjelasan Mas pramuniaga. Dan seperti sudah hukum alam pribadi saya, tanya-tanya pun mengalirlah.&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 102);" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Di sela-sela teman saya fokus kepada pilihannya, Mas pramuniaga tersenyum ke arah saya. Tapi kok senyumnya rada aneh, pikir saya. Ternyata saya tahu jawabannya ketika dia berucap ke saya begini, “Mbak nih sebenarnya manis, tetapi kok ada kumisnya?”&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 102);"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 102);"&gt;HAHAHAAAA….&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Berarti saya enggak manis, dong? Bukan masalah manis atau tidaknya yang mau saya utarakan di sini. Biar saja soal manis menjadi hak sepenuhnya Sang Pencipta Yang Maha Pemberi. Yang mau saya bahas di sini adalah soal kumis. Hah? Kumis? Kenapa harus kumis yang notabene milik kaum cowok? Jangan salah, tulisan pembuka saya di atas adalah, saya gagal dibilang manis lantaran ada kumis tipis hihihihi….&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 102);"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Kumis memang jadi semacam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;trade merk&lt;/span&gt; seorang cowok. Tapi sebagian cewek juga ada yang punya. Jangan samakan ketebalan dan jenis rambutnya dengan kumis cowok. Yang cewek punya jauuuh lebih halus (mungkin sesuai dengan karakter cewek yang jauh lebih lembut dari cowok). Kumis cewek juga tidak begitu kelihatan, kecuali kalau dilihat dari dekat dengan cara&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bertatapan. Tapi kadang-kadang (kasusnya di saya), tidak sadar kok kalau ada kumis di bawah hidung kita. Nah, itu berarti kumis super-super tipis yang saya miliki tidak termasuk mengganggu. Saya kadang baru sadar jika ada orang yang bertanya, kok saya ada kumis. &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 102);"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Tapi belakangan ini saya jadi suka perhatikan wajah. Bukan karena teguran mas Pramuniaga itu. Tetapi karena Bulan (keponakan saya) sering mengelus-elus bagian bawah hidung saya. “Hiii… pelempuan ada kumisnya!” begitu godanya dengan suaranya yang cadel. “Kayak bapak-bapak aja, nih!” katanya lagi.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 102);"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Dulu, waktu SD saya pernah mau cukur tuh karena ada temen yang mengungkit-ungkit kumis super-super tipis. Tapi, “Eh, Sri entar tumbuhnya malah tebel-tebel dan kasar lho kayak laki-laki!” teman lain mengingatkan. Waduh, menakutkan banget.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 102);"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Tahun berlalu, sampai SMP dan SMA dan kuliah urusan kumis lupa-pa! Kalau pun pernah ingat, enggak bikin ribet. Bahkan rada terhibur karena ada penyanyi cewek yang punya kumis, dan ternyata lebih tebel dari punya saya, hehehe… &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 102);"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; font-family: trebuchet ms; color: rgb(0, 0, 102);"&gt;Apa pun, saya sangat bersyukur dengan apa yang saya miliki. Saya bisa melihat, bisa membau, bisa mendengar, dan merasakan. Panca indera saya tak kurang. Kalau cuma ada rambut-rambut halus di atas bibir, ya tak masalah. Mungkin akan jadi masalah bagi cowok-cowok yang tak punya kumis. Bahkan ada pepatah Jerman yang berbunyi, &lt;i&gt;Man ohne Schnurr wie die Suppe ohne Salz&lt;/i&gt;. Laki-laki tanpa kumis ibarat sayur tanpa garam. Kata dosen saya dulu, “Laki-laki yang tak punya kumis bisa menempelkan garam di atas bibirnya supaya tak hambar.” HAHAHAAA… Saat itu kami sekelas dalam mata kuliah &lt;i&gt;Idiomatik&lt;/i&gt; tertawa.&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 102);"&gt; &lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; font-style: italic;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Siang hari, 11 Maret 2008&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1578499656739805162-5145509371777870019?l=sehry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehry.blogspot.com/feeds/5145509371777870019/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1578499656739805162&amp;postID=5145509371777870019' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1578499656739805162/posts/default/5145509371777870019'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1578499656739805162/posts/default/5145509371777870019'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehry.blogspot.com/2008/03/kumis.html' title='Kumis'/><author><name>Sri Haryati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15482356378009856181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://2.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/S0VZ7pqwnfI/AAAAAAAAAOk/5mumwR-YU24/S220/flower12a.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1578499656739805162.post-7832475717411632691</id><published>2008-03-10T06:04:00.000-07:00</published><updated>2008-03-10T06:10:23.872-07:00</updated><title type='text'>Satu hari dua akad nikah</title><content type='html'>&lt;p  style="color: rgb(153, 51, 153);font-family:verdana;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Hari Minggu tanggal 9 Maret 08 menjadi hari yang paling sejarah buat Indira Kurniawati atau Ira. Dia teman mengaji sepulang kantor di salah satu masjid di bilangan Menteng. Aku menjadi orang yang termasuk belakangan tahu kabar kalau Ira sudah punya cowok. Maklum, kadang-kadang aku tidak mengaji sekian lama kalau tugas luar kota dan setelahnya suka kecapekan. Suatu hari Elly ngasih tahu kalau Ira sudah ada penjemput tetap sehabis ngaji. Alhamdulillah, kataku. Sampai akhirnya Elly begitu semangat mengenalkan penjemput Ira kepadaku sekelar pengajian.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p  style="color: rgb(153, 51, 153);font-family:verdana;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p  style="color: rgb(153, 51, 153);font-family:verdana;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dalam Islam tak kenal pacaran sebenarnya. Ira dan calonnya langsung punya tujuan sama : hubungan mereka harus diakhiri dengan akad nikah. Jadilah dan jadilah! Tanggal 9 kemarin adalah hari bahagia buat mereka berdua. Teman-teman pengajian banyak yang datang. Elly dan aku datang berdua dengan &lt;i&gt;mio&lt;/i&gt; biru kesayangan Elly, dari pengajian Dhuha langsung ke masjid di kompleks DPR/MPR.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p  style="color: rgb(153, 51, 153);font-family:verdana;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p  style="color: rgb(153, 51, 153);font-family:verdana;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Perjalanan ke resepsi lancar banget, sama lancarnya dengan ritual akad nikah dan perjamuan Ira dan suaminya. Elly yang menyetir &lt;i&gt;mio&lt;/i&gt; serasa ratu jalanan karena sepinya jalan raya Jakarta hari itu. Saya yang memboncengnya senang dan tenang-tenang aja duduk di belakang. Sementara Ira serasa menjadi ratu sehari bersanding di pelaminan dengan orang yang dia sangat kasihi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p  style="color: rgb(153, 51, 153);font-family:verdana;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p  style="color: rgb(153, 51, 153);font-family:verdana;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Acara resepsi kelar juga. Kami sesama teman pengajian ngobrol-ngobrol sambil bertanya-tanya, giliran siapa setelah Ira. Oooh… Een yang menjawab yakin disertai amien ya robbal alamien.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p  style="color: rgb(153, 51, 153);font-family:verdana;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p  style="color: rgb(153, 51, 153);font-family:verdana;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dari acara resepsi Ira, Elly dan aku ke pameran buku di Istora. Suasana padat penuh sesak pengunjung. Sampe desak-desakan, tapi masih lebih hebat desak-desakannya saat thawaf di Masjidil Haram, sih. Di sini desak-desakannya masih lebih sopan, yang cowok tau diri nggak mau menyikut cewek.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p  style="color: rgb(153, 51, 153);font-family:verdana;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p  style="color: rgb(153, 51, 153);font-family:verdana;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Karena padatnya, aku lihat antrian yang mau berwudhu untuk shalat Ashar pun minta ampun banyaknya! Aku ajak Elly shalat di masjid tempat kami biasa mengaji aja, kan sekalian jalan pulang. Elly setuju. Kembali dia jadi ratu jalanan dengan bidadari di belakangnya. Hahaha… Sebenarnya bukan bidadari sih, tepatnya laron karena tubuhku enteng kebawa angin.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p  style="color: rgb(153, 51, 153);font-family:verdana;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p  style="color: rgb(153, 51, 153);font-family:verdana;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Sampai di masjid di Menteng, suasana juga ramai. Owalaaa… sore-sore jam lima-an ada akad nikah. Mendung pula. Aku shalat di pinggiran, enggak jauh dengan ritual akad nikah mempelai yang ternyata kerabatnya seorang menteri. Sebab akadnya dilangsungkan di ruang ibadah utama. Aku berbisik ke Elly, “Hari ini kita dua kali melihat secara langsung pernikahan di masjid. Bayangkan, Ly, dua kali!” Elly tersenyum.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p  style="color: rgb(153, 51, 153);font-family:verdana;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p  style="color: rgb(153, 51, 153);font-family:verdana;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Iya, ya, memangnya kenapa kalau sehari lihat dua kali akad nikah atau resepsi? Padahal sebenarnya dalam satu hari ada ratusan bahkan mungkin ribuan, sepasang mempelai mengikat janji sehidup semati (apa benar sehidup semati?) Jadi dua kali sehari bukan yang aneh. Jangankan pernikahan, perceraian aja angkanya ikut-ikutan bersaing tuh.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p  style="color: rgb(153, 51, 153);font-family:verdana;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;   &lt;h1  style="font-style: italic; color: rgb(153, 51, 153); font-weight: normal;font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Minggu malam, 9 Mar 08&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1578499656739805162-7832475717411632691?l=sehry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehry.blogspot.com/feeds/7832475717411632691/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1578499656739805162&amp;postID=7832475717411632691' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1578499656739805162/posts/default/7832475717411632691'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1578499656739805162/posts/default/7832475717411632691'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehry.blogspot.com/2008/03/satu-hari-dua-akad-nikah.html' title='Satu hari dua akad nikah'/><author><name>Sri Haryati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15482356378009856181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://2.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/S0VZ7pqwnfI/AAAAAAAAAOk/5mumwR-YU24/S220/flower12a.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1578499656739805162.post-6093754340360780030</id><published>2008-03-10T03:18:00.000-07:00</published><updated>2008-03-10T03:25:38.157-07:00</updated><title type='text'>Bacalah....</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; font-family: trebuchet ms; color: rgb(51, 51, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kemarin saya membeli 10 buku di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Islamic Book Fair&lt;/span&gt;. Sesuai temanya, semua buku tentang religi (entah kenapa saya selalu haus tentang ini) Di antara 10 buku yang saya beli, ada tiga buku untuk Bunga dan Bulan, keponakan saya yang centil-centil. Singkat kata, begitu sampai di rumah dua gadis centil itu langsung senang melihat saya pulang dengan membawa tentengan. “Ada sesuatu buat aku, enggak?” itu pertanyaan langganan dari Bulan setiap saya pulang, entah pulang dari kerja atau bepergian. Saya mengeluarkan buku kisah Nabi. Bunga juga menerima Juz’amma cantik. “Eeeh… Budesi dari mana sih? Kok bawa bukunya banyak?” tanya mereka sambil buru-buru membuka plastik bungkus kemasannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;“Budesi, ini buat aku, ya? Ih, aku seneng banget. Ini kan surat-surat yang aku hapalin kemaren,” kata Bunga antusias. Dia langsung membuka Surat Al Fiil karena penasaran. Kebetulan ilustrasi buku itu bergambar gajah, sesuai dengan isi suratnya. Bunga membuka surat-surat berikutnya. Dalam hati saya senang, karena dia mau belajar Juz’amma, sama seperti dulu saya kecil. Juz’amma saya sangat sederhana, dari kertas yang tidak begitu bagus. Boro-boro pakai ilustrasi dan terjemahan. Tetapi saat itu, sudah membuat saya senang bisa memilikinya, dan menjadi buku wajib ke pengajian. Saya ingin Bunga sudah bisa membaca Al Qur’an meski masih duduk di SD. Dulu saya mengikuti khataman Al Qur’an di kelas dua SMP. Agak terlambat sebenarnya. Tapi tak apalah, sebab sampai sekarang pun tajwid saya belum sempurna, masih jauh malah&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 0);" class="MsoBodyTextIndent"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Ngomong-ngomong soal mengaji, saya jadi ingat bagaimana dulu awal-awal ikut mengaji bersama tetangga dekat rumah yang umurnya di atas saya semuanya. Ceritanya, waktu itu saya belum masuk SD. Sangat-sangat pemalu. Ibu punya ide, karena setiap sore melihat anak-anak tetangga pergi mengaji bersama-sama. “Kamu besok ikut ngaji ya, supaya kamu punya banyak teman,” begitu salah satu alasan Ibu memasukkan saya ke pengajian anak-anak di mushalla dekat rumah&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Saya senang waktu itu, berangkat sama-sama teman dengan pakaian putih-ijo dan kerudung putih. Senang sih senang. Tapi di kelas, saya memilih duduk di deretan belakang, dan di belakang teman yang badannya gede. Saya tidak mau ustadz yang mengajar memandang langsung ke wajah saya, karena saya takut. Selalu begitu. Saya tidak bisa menulis waktu itu, juga belum bisa membaca. Saya hanya ngaji nguping. Itu sebutan untuk murid &lt;/span&gt;&lt;i style="font-family: trebuchet ms;"&gt;anak bawang&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; sebenarnya yang artinya hanya bisa mendengarkan saja, tidak membaca tidak pula menulis&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; font-family: trebuchet ms; color: rgb(51, 51, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Hari demi hari saya malu juga kalau cuma jiping. Saya belajar menulis huruf Arab sendiri di rumah dengan cara menebalkan huruf-huruf Arab di buku tetangga saya yang sudah tak terpakai. Sedikit demi sedikit. Alhamdulillah lama-lama bisa juga! Saya senang, sebab begitu kelas 1 SD teman-teman saya belum mengenal huruf Hijjaiyyah, saya sudah bisa meski huruf sambungnya masih pletat-pletot. Lambat laun, seiring bertambahnya umur, tulisan Arab dan Latin saya makin lumayan (kalau orang lain bisa membacanya, tentunya lumayan hehehe)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 0);"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Bunga karena senangnya, dibawanya dua buku sebagai teman tidur, dia letakkan di bawah bantal. Tadi saya dengar dia masih membaca surat-surat pendek yang dia sudah bisa. “Kakak harus baca yang tulisan Arabnya dong, jangan yang huruf latin. Nanti enggak bisa-bisa, lho!” kata ibunya mengingatkan. “Ih, Bunda! Aku kan ngajinya baru sampai Iqro, belum bisa huruf sambung,” alasannya begitu&lt;/span&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; font-family: lucida grande; color: rgb(51, 51, 0);"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 0);"&gt;             &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(51, 51, 0);"&gt;“Nanti lama-lama Bunga juga bisa membaca Juz’amma, kok! Asalkan mau belajar, ya?” hibur saya. Dan sebelum tidur dia minta dibacakan Kisah Kelahiran Nabi Muhammad, buku yang dia bawa ke tempat tidur. Padahal tadi dia mengaku sudah tuntas membacanya, karena bukunya tipis. Tapi namanya anak-anak, dia belum puas kalau keinginannya belum terpenuhi&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 0);"&gt;. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(51, 51, 0);"&gt;Tidak mudah mengajak anak agar mau belajar membaca Juz'amma. Moga-moga saja Bunga tidak termasuk yang begitu, demikian juga keponakan-keponakan saya yang lain&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 0);"&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 0);"&gt;Senin, 9 Maret 08&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1578499656739805162-6093754340360780030?l=sehry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehry.blogspot.com/feeds/6093754340360780030/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1578499656739805162&amp;postID=6093754340360780030' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1578499656739805162/posts/default/6093754340360780030'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1578499656739805162/posts/default/6093754340360780030'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehry.blogspot.com/2008/03/bacalah.html' title='Bacalah....'/><author><name>Sri Haryati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15482356378009856181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://2.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/S0VZ7pqwnfI/AAAAAAAAAOk/5mumwR-YU24/S220/flower12a.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1578499656739805162.post-7521263289440913160</id><published>2008-03-03T19:36:00.000-08:00</published><updated>2008-03-03T19:39:06.664-08:00</updated><title type='text'>Sepenggal Senja di Halte Slipi</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 191); font-family: trebuchet ms;"&gt;Dalam keseharian, saya jg sering menyaksikan ibu-ibu muda (kadang bersama suaminya) mengamen dari bis yang satu ke bis yang lain. Karena saya kemana-mana lebih sering menggunakan transportasi umum, hal-hal yang seperti itu jadi perhatian juga karena terlihat di depan mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah suatu senja menjelang Magrib saat saya menunggu bis di Slipi, ada sepasang suami istri yang badannya jauh dari bugar. Si Istri yang nampaknya lebih muda dari saya (juga badannya lebih kurus, padahal fisik saya tergolong mungil juga), menggendong anaknya yang masih sekitar 7-8 bulan. Sebelumnya saya melihat pasangan itu menikmati buah durian di Pasar Palmerah (tak jauh dari Slipi). Nah, di trotoar Slipi saya melihat pasangan itu lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si Anak yang notabene tidak tahu 'aktivitas' kedua orangtuanya yang selalu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mobile&lt;/span&gt; ke sana kemari, mungkin kecapekan. Dia rewel. Si Ibu menggoyang-goyangkan badannya agar anaknya diam. Si Suami menatap bis yg lalu lalang seolah-olah sedang memilih, bis mana yang akan ditumpangi. Tapi anaknya yang menurut jam biologisnya sudah seharusnya istirahat, tidak mau diam. Meski sudah dihibur, masih rewel. Malah mulai menangis. Ibunya juga seperti kehabisan kesabaran. Dicubitnya paha si anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aoooowww.... Sakiiiitttt!" Itu jeritan yang ada dalam hati saya saat menyaksikan ibu itu menyubit anaknya. Si anak menangis makin keras, bersaing dengan deru suara bus-bus yang melaju di jalan. Tak terasa mata saya berkaca2. Saya enggak tega melihat makhluk mungil tak berdosa menahan sakit cubitan ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingat benar, saat saya kecil ibu saya pun sering mencubit kalau saya nakal. Sakitnya minta ampun, bikin saya meringis dan kadang nangis menahan kesal. Apalagi si bayi yang masih 7-8 bulan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup memang perjuangan, ya?&lt;br /&gt;Jangankan mereka yang termasuk kaum marginal. Orang-orang 'the have' pun kalau mereka sadar, sebenarnya juga sedang berjuang diuji lewat harta yang berlimpah.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 191);"&gt;&lt;br /&gt;Salam manis,&lt;br /&gt;Sri Haryati&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1578499656739805162-7521263289440913160?l=sehry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehry.blogspot.com/feeds/7521263289440913160/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1578499656739805162&amp;postID=7521263289440913160' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1578499656739805162/posts/default/7521263289440913160'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1578499656739805162/posts/default/7521263289440913160'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehry.blogspot.com/2008/03/sepenggal-senja-di-halte-slipi.html' title='Sepenggal Senja di Halte Slipi'/><author><name>Sri Haryati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15482356378009856181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://2.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/S0VZ7pqwnfI/AAAAAAAAAOk/5mumwR-YU24/S220/flower12a.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1578499656739805162.post-5479759533828822103</id><published>2008-03-03T19:06:00.000-08:00</published><updated>2008-03-03T19:31:19.897-08:00</updated><title type='text'>Siapa Suruh Datang (ke) Jakarta?</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 102, 0);"&gt;Siapa suruh datang Jakarta?&lt;/span&gt;&lt;o:p style="color: rgb(204, 102, 0);"&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 102, 0);"&gt;            Siapa suruh datang Jakarta?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 102, 0);"&gt;            Sendiri suka sendiri rasa…&lt;/span&gt;&lt;o:p style="color: rgb(204, 102, 0);"&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 102, 0);"&gt;            Aduhai Sayang….&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; font-family: lucida grande;"&gt;Setiap habis lebaran, hal yang biasa bikin dag-dig-dug pemda DKI adalah arus pendatang yang enggak bisa dicegah. Dari tahun ke tahun gubernur yang menjabat dengan berbagai cara menahan arus pendatang, tetap saja gagal maning-gagal maning. Sampai-sampai orang daerah mengklaim, setiap warga negara berhak datang ke Jakarta sebagai ibu kota negara Indonesia. Pemda pun enggak mau kalah menyikapinya. Langsung saja dibikin peraturan entah mendadak entah sudah direncanakan jauh-jauh hari : Datang ke Jakarta boleh-boleh saja tidak dilarang, asalkan jelas tujuannya, dan disertai surat-surat keterangan seperti KTP, surat pindah, surat keterangan kelakuan baik, dan surat-surat kelengkapan lainnya. Plus syarat lain bagi yang ingin mengadu nasib di kota metropolitan ini : Harus punya keahlian dan jangan cuma bermodal nekad doang.&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; font-family: times new roman;"&gt;Kenapa sih, semakin tahun setiap lebaran banyak orang luar daerah berduyun-duyun membanjiri Jakarta meski nggak punya modal apa-apa. Bahkan ada yang menjawab, “Hanya ikut-ikutan teman,” ketika ditanya alasannya dan yang ditanya enggak tahu jabannya. Dari data yang dilansir berita di televisi, pascalebaran 2006 arus pendatang dari daerah ke Jakarta sebanyak 2,5 persen. Tetapi habis lebaran tahun 2007 ini, meningkat menjadi 2,7 persen. Nah, bukti lagi kan, kalau aroma kota besar Jakarta tetap memikat warga desa atau luar daerah, seperti laron-laron menyerbu lampu neon di musim hujan.&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; font-family: times new roman;"&gt;Padahal, kita-kita yang sudah bertahun-tahun tinggal di Jakarta, makin lama makin stres dengan kondisi yang makin tidak ramah. Terbukti, warganya begitu senang kalau bisa liburan ke luar kota dan menghirup udara yang lebih bersih, dan sapaan orang-orang yang lebih ramah.&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Saya mencoba menggambarkan keadaan kota ini berdasarkan pengalaman pribadi saja, sebagai warga berKTP gambar Tugu Monas yang tinggal dari bayi sampai sedewasa sekarang. Karena diambil dari sudut pribadi saya, boleh jadi tidak sama dengan pandangan Anda-anda yang membacanya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;Kota yang Ramah?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Apa iya Jakarta adalah kota yang ramah? Ramah sama siapa? Lihat deh dalam kasus kecil di bis kota. Saya seringkali melihat ibu muda hamil, ibu bawa anak kecil, atau kakek-kakek yang sudah renta berdiri di bis kota tanpa ada kepedulian dari penumpang yang sedang duduk. Malah banyak yang jadi ngantuk mendadak dan pura-pura tidur dengan memejamkan mata. Masa bodo amat sama ibu hamil atau kakek tua. Saya pernah dengar selorahan penumpang yang enggan memberi tempat ke mereka, “Salah sendiri naik bis umum! Udah tau sempit dan berdiri, masih maksain juga! Naik taksi, kek!”&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Ya ampun! Kalau mereka mampu bayar argo taksi, pastinya mereka sudah berada dalam taksi yang nyaman sampai tujuan. Mereka pilih bis umum justru karena duit di dompet hanya pas-pasan saja. Tahu sendiri, taksi di Jakarta banyak macamnya. Ada yang tarif murah betulan dan jujur, ada juga yang bertuliskan tarif murah tetapi nyatanya malah tarif kuda liar yang angka digital di argonya cepet banget jalannya, bagai tak terkendali.&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Kalau Jakarta kota yang ramah, kenapa warganya pelit amat memberi senyum pada sesama? Terutama di tempat-tempat umum. Kecuali ada maunya, biasanya barulah saling menyapa dan kasih senyum. Masuk bis saling sikut-sikutan. Antri di kasir kadang-kadang menyelak. Kalau mau menolong orang, banyak yang minta pamrih. Asal tahu saja, saya pernah berobat di RSCM dan lama banget enggak dipanggil-panggil nama saya. Yang datang belakangan dari saya malah sudah duluan. Lalu ada seseorang menawarkan diri untuk menolong agar nama saya dipanggil secepatnya. Tapi ada pamrihnya. Saya tolak. Waktu itu memang harus menunggu sampai siang. Tapi saya puas, karena bisa mematahkan celah pungli. Huh!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;h1 style="font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Surga Kriminal&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;   &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Kriminal di Jakarta sudah jadi rahasia umum. Penampilan mereka belum tentu seperti bandit-bandit gondrong penuh tatto di lengannya, kayak film-film tahun 70-80 an. Banyak yang perlente pakai baju ala pegawai negeri atau swasta dengan tas di tangannya. Tetapi tas yang dia bawa cuma kedok atau tameng saat dia menggerayangi mangsanya. Suatu sore di bis Patas AC 11 jurusan Pulo Gadung sepulang kerja, saya sempat &lt;/span&gt;&lt;i style="font-family: times new roman;"&gt;shock&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; dan beku mulut melihat ulah mereka. Sebelumnya kelakuan mereka cuma saya dengar dari cerita teman atau koran saja. Saat itu saya duduk di deretan depan dan heran ada seseorang berpakaian rapi mengutak-atik HP di balik tas yang dibawanya. Saya heran, kalau HP itu miliknya, kenapa harus ngumpet-ngumpet saat&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;mematikan atau menyalakannya? Ternyata dia sedang membuka dan hendak membuang sim card-nya. Herannya, kemudian dia berusaha membuka pelan-pelan tas tangan seorang ibu yang sedang ribet karena bis penuh sesak. Penumpang di sebelah saya mencolek dan memberi isyarat dengan berbisik, “ c-o-p-e-t!” Saya mengangguk. Saya mau teriak, tapi penumpang sebelah saya melarang. “Ati-ati Mbak, nanti kalau Mbak turun dia ngikutin dan Mbak celaka sendiri!” bisiknya lagi. Saya paham. Nurani saya tak terima mendiamkan kemaksiatan terjadi di depan saya. Langsung saya berdiri,&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;dan turun di tengah jalan sementara Arion Mall tempat tujuan saya masih belasan kilometer lagi. Saya enggak tahan melihat kejahatan di depan mata.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Kejadian lain lagi. Ada beberapa lelaki naik ke bis seperti mau mengamen. Tetapi mereka tak bawa alat musik. Malah selembar kertas yang ternyata surat pembebasan dari LP Cipinang yang menyatakan dia pernah ditahan di sana sebagai pelaku tindak pidana. Kalau orang normal kan surat seperti itu akan disimpan dan jadi rahasia hidup. Yang ini malah dipamerkan untuk nakut-nakuti pemumpang agar mereka mau memberikan sedikit uang. “Kami tak akan berbuat jahat kepada Anda, asalkan Anda memaklumi keadaan ekonomi kami. Uang seribu-dua ribu tidak akan membuat Anda miskin bila diberikan pada kami,” mereka mengucapkan itu sambil&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;membentak-bentak dan teman-temannya memlototi para penumpang. Seribu dua ribu memang tidak membuat kami miskin, tapi membikin kami semua penumpang bis sebel campur keki kalau harus ‘beramal’ pada mereka. Bila penumpang bis besar ada 50 orang dikalikan seribu rupiah,&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;sudah berapa? Uang 50 ribu rupiah bisa disumbangkan untuk bayar sekolah anak tak mampu daripada buat preman begajulan berhiaskan tatto&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;selembar surat pembebasan&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;dari &lt;/span&gt;LP.&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Belum lagi di mal yang katanya tempat belanja orang berduit. Pencolengnya juga bergaya, enggak kalah sama calon mangsanya. Dari pelaku laki-laki, wanita, sampai usia muda juga punya gaya demi tidak dicurigai sebagai pelaku kriminal&lt;/span&gt;.&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Lantas apakah lebih enak pakai kendaraan pribadi saja yang di dalamnya tidak ada pencopet? Jangan salah! Di dalam mobil pribadi kita memang aman. Tetapi jika berhenti di persimpangan lampu merah yang rawan, tak akan ada yang menolong jika mobil kita siap ditodong oleh Si Kapak Merah. Bagi pengendara motor juga enggak bisa nyaman karena di jalan-jalan tertentu paku-paku bertebaran siap memancing mangsa. Belum lagi tempat parkir bertiket yang tidak menjamin kendaraan kita aman&lt;/span&gt;.&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Kalau kita butuh tenaga pembantu atau &lt;/span&gt;&lt;i style="font-family: times new roman;"&gt;baby sitter&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; juga harus ekstra hati-hati. Sebab tak sedikit mereka ternyata komplotan penjahat berkedok yayasan atau penyalur. Kalau harta yang digondol masih bagus. Kalau anak kita yang dibawa? Serasa kiamat nih dunia!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Gila, kan? Begitu banyak celah bagi pelaku kajahatan yang merasa Jakarta adalah surga buat mencari mangsa! Jangan heran kalau kami enggan mengadu ke aparat keamanan. Ibaratnya, lapor kehilangan ayam biayanya malah lebih besar dari harga kambing&lt;/span&gt;.&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;h1 style="font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Cari Kerja Gampang?&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt; &lt;h1 style="font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal; font-family: times new roman;font-size:100%;" &gt;Ah, kata siapa di Jakarta gampang mendapak pekerjaan? Cari kerja memang gampang, tapi belum tentu mendapatkannya. Kalau ada ajang &lt;i&gt;Carier Day&lt;/i&gt; atau Bursa Kerja, yang datang sangat bejibun. Bahkan diwarnai dengan aksi dorong-dorongan massa yang membuat beberapa orang pingsan. Boro-boro dapat kerja, yang ada malah celaka dan dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan pertama. Adik saya pernah ikut sekali datang ke acara bursa kerja semacam itu. Tetapi dia jera karena tak tahan mengalami didorong-dorong orang banyak saat mendaftar. Dan seperti lirik lagunya Oma Irama&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-weight: normal;font-size:100%;" &gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;, “Cukup sekali aku merasa kegagalan cintaaaa….&lt;/span&gt;”&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/h1&gt;     &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Bagi mereka yang sudah mendapat kerja, belum menjamin nasibnya akan terangkat lebih baik. Kadang-kadang masa kerja mereka tidak jelas karena setiap tahun harus teken kontrak lagi untuk satu tahun berikutnya. Kalau sudah mencapai dua tahun belum tentu diangkat menjadi karyawan tetap. Yang ada malah kontrak berakhir dengan berbagai alasan dan catatan&lt;/span&gt;. &lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Buat kaum buruh, malah lebih parah. Nasib mereka semakin hari juga tidak semakin baik. Peraturan-peraturan yang ada kebanyakan menguntungkan pihak pengusaha. Nasib buruh? Itu urusan mereka, kenapa salah mau jadi buruh! Mana ada tenggang rasa? Kalau nasib buruh bagus, tentunya di layar kaca tidak ada berita mereka mendemo perusahaan tempat mereka bekerja. Bahkan pabrik pesawat yang berlokasi di Bandung saja didemo berkali-kali oleh mantan karyawannya. Pernah para paramedis juga mendemo manajer rumah sakit yang dianggap tidak adil dan menyia-nyiakan nasib mereka. Apalagi di pabrik sepatu? Pabrik radio? Pabrik garmen? Wah, payah, payah, payah!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;h1 style="font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kota Langganan Banjir&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;   &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Kota semegah Jakarta kebanjiran? Ah, sudah biasa. Katanya, memang sudah langganan banjir sejak zaman Belanda dulu. Walah, Belanda kok dibawa-bawa? Kalau bukan zaman Belanda yang dijadikan kambing hitam, konon Jakarta sudah dari ‘sononya’ kena banjir lima tahunan. Pastinya itu bukan mitos, bukan pula nasib. Tetapi itu cuma slogan pemda yang sudah kehabisan akal mengatasi banjir. &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Kemane aje ahlinye?&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Alhasil, kalau banjir mendera, buru-buru deh secara reaktif bikin posko-posko dan penggalangan dana. Sekolah, masjid, kantor, bisa jadi tempat pengungsian. Begitu saja dan terus menerus setiap banjir. Enggak hanya orang kere yang menderita yang notabene tinggal di pinggir-pinggir kali dan kolong jembatan. Rumah-rumah mewah pun tak luput dari banjir. Apa yang bisa dibanggakan dari kota besar yang tak berdaya setiap banjir?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;h1 style="font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Lingkungan Hidup Tak Nyaman&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;   &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Para pendatang dari desa mungkin silau dengan gemerlap pembangunan Kota Batavia ini. Tetapi, kalau mereka hidup dari tahun ke tahun secara permanen dan mapan, akan terasa tak nyaman. Lahan hijau semakin sempit. Taman-taman dan ruang terbuka sudah jadi bangunan atau SPBU. Udara semakin kotor baik dari kendaraan bermotor atau pabrik-pabrik. Jakarta pernah menduduki peringkat ke-3 kota dengan polusi tertitinggi di dunia setelah New York dan Tokyo.&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Dengan adanya &lt;/span&gt;&lt;i style="font-family: times new roman;"&gt;global warming,&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; kondisinya makin parah. Garis pantai meninggi, dan hawa semakin panas juga terik. Awan Jakarta lebih sering berwarna kelabu daripada biru langit yang cerah&lt;/span&gt;. &lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Jika kita terjebak macet di siang hari dalam cuaca panas, bisa dibayangkan. Yang panas bukan saja jalanan beraspal yang disoraki bunyi klakson totet-toteeettt, hati juga semakin panas lantaran stres dan tak ada pilihan jalan alternatif. Janji dengan relasi untuk &lt;/span&gt;&lt;i style="font-family: times new roman;"&gt;meeting&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt; bisa kacau karena lalu lintas semrawut dan amburadul. Pembangunan &lt;/span&gt;&lt;i style="font-family: times new roman;"&gt;busway &lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;di beberapa koridor mengorbankan banyak pengguna jalan yang katanya merasa tua jalan karena harus menempuh waktu berjam-jam lebih lama dari rumah ke kantor dan sebaliknya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Biasanya saya menggunakan busway di hari libur. Tapi beberapa kali pulang lewat depan halte Indosiar menggunakan koridor Kalideres-Harmoni dengan tujuan Pulo Gadung. Begitu sampai di Harmoni, lagi-lagi yang antri ampun-ampunan. Banyak banget! Saya lebih baik keluar menggunakan bus reguler yang ternyata lebih cepat sampai di tujuan. Pernah juga saat pulang kerja menuju Rawamangun dari Duku Atas. Ketika tiket sudah dibeli dan menuju halte, ya ampuuun… Yang antri berjubel panjangnya sampai tangga. Saya coba untuk melakoni saja ketidakenakan itu. Untuk mendapatkan busnya, saya harus antre 30 menit lamanya berdesak-desakkan dengan penumpang lain. Dengan catatan, berhubung ini Jakarta, ada saja calon penumpang yang egois dan tidak mau antri menyerobot antrian. Jauh deh dibandingkan MRT-nya Singapore. Meski menunggu di bawah tanah tapi udaranya dingin karena AC-nya cukup, dan penggunanya juga tahu diri untuk tertib dan disiplin&lt;/span&gt;.&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Para pendatang yang ingin mengadu nasib mungkin belum tahu ya, kalau tingkat polusi Jakarta sudah tak sehat. Asap dari kendaraan bermotor bisa membuat otak anak-anak kita lemot karena bisa menurunkan kadar IQ. Penyakit-penyakit alergi juga semakin meningkat kualitasnya akibat lingkungan hidup yang kotor. Air di kota ini terbilang mahal, karena abrasi air laut terus saja terjadi. Makanya tidak heran jika naik angkot tertentu tercium bau tak semerbak akibat orang yang jarang mandi&lt;/span&gt;.&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Ah, itu belum seberapa cerita tentang ketidaknyamanan kota yang selalu diserbu pendatang setiap habis lebaran. Pengangguran atau mereka yang gagal mengadu nasib di kota ini selalu saja punya cerita yang kurang mengenakan. Kalau tidak menjadi stres dan gila karena tak tahan, bisa jadi mereka hanya luntang-lantung tak tentu arah. Bagus syukur jika tak tergiur menjadi pencoleng akibat salah pergaulan. Apakah mereka jera? Oh tidak! Kalau jera, tentu jumlahnya akan menurun. Ya meski begitu, bagaimana pun ini kota kita, pintu gerbang Indonesia dan menjadi wajah bangsa kita. Mau sebel mau senang, inilah Jakarta dengan apa adanya!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-family: times new roman; color: rgb(153, 0, 0);"&gt;Suatu Pagi dalam perjalanan Rawamangun - Kebon Jeruk,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-style: italic; font-family: times new roman; color: rgb(153, 0, 0);"&gt;dari Bis sampe mikrolet.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1578499656739805162-5479759533828822103?l=sehry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehry.blogspot.com/feeds/5479759533828822103/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1578499656739805162&amp;postID=5479759533828822103' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1578499656739805162/posts/default/5479759533828822103'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1578499656739805162/posts/default/5479759533828822103'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehry.blogspot.com/2008/03/siapa-suruh-datang-ke-jakarta.html' title='Siapa Suruh Datang (ke) Jakarta?'/><author><name>Sri Haryati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15482356378009856181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://2.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/S0VZ7pqwnfI/AAAAAAAAAOk/5mumwR-YU24/S220/flower12a.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1578499656739805162.post-4042794404142323054</id><published>2008-03-03T18:52:00.000-08:00</published><updated>2008-03-03T18:59:18.354-08:00</updated><title type='text'>Mengapa Harus Lelah Mengumpulkan Harta?</title><content type='html'>&lt;p style="font-family: trebuchet ms;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Sudah menjadi standar umum kalau keberhasilan seseorang dilihat dari seberapa banyak harta yang sudah dia miliki. Rumah, mobil pribadi, penghasilan, menjadi ukuran. Mungkin jarang yang bertanya, “Kamu sudah capek mengumpulkan harta atau belum?” Atau pertanyaan, “Sampai batas mana kepuasan kamu mengejar lambang duniawi?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p style="font-family: lucida grande;" class="MsoBodyTextIndent"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt;&lt;!--[endif]--&gt; &lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;        &lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Problem kita dalam mengumpulkan harta dunia adalah kita mempersiapkan bencana bagi diri kita sendiri. Orang yang berpikir untuk mengumpulkan kekayaan dunia ini, telah melakukan kesalahan besar dan tengah mempersiapkan bencana dan musibah bagi dirinya sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;i style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Pertama&lt;/span&gt;,&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; ia akan bergantung kepada harta dan berpotensi mencintai dunia. &lt;/span&gt;&lt;i style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Kedua&lt;/span&gt;,&lt;/i&gt; kematianlah yang merupakan kepastian : &lt;i style="color: rgb(0, 102, 0); font-family: trebuchet ms;"&gt;Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; (Ali Imran : 185), &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0); font-style: italic; font-family: trebuchet ms;"&gt;Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia sebelum kamu (Muhammad), maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal?&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; (Al-Anbiya : 34), &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 102, 0); font-style: italic; font-family: trebuchet ms;"&gt;Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt; (Al Zumar : 30).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(204, 0, 0); font-family: trebuchet ms;"&gt;Ketiga&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;, orang yang mati akan meninggalkan hartanya dan pergi sendirian. &lt;/span&gt;&lt;i style="color: rgb(204, 0, 0); font-family: trebuchet ms;"&gt;Keempat&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;, ia akan melepaskan dunia dan tidak bergantung padanya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Orang yang bergantung pada dunia dan mencintainya, maka kebergantungan pada harta tidak akan melepaskannya. Bila ia bergantung pada dunia, maka siksaan akan mulai menimpanya. Ia akan merasakan ketidaktenangan bila harta belum banyak, sebab banyak kriteria standar keberhasilan berdasarkan ukuran materi. Sudah punya mobilkah? Sudah punya rumah berapa? Jabatannya sekarang apa? Dan lain-lain. Bila harta banyak sudah dimiliki, ia pun tidak tenang hatinya. Hampir setiap malam sulit tidur nyenyak karena adanya kecemasan akan pencuri yang datang ke rumahnya, atau was-was takut jika kedudukan atau jabatannnya tiba-tiba harus dilepaskan darinya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Jika manusia bersusah payah mengumpulkan harta, namun ia merasa puas atas kenikmatan yang didapatkannya, ia membantu menyelesaikan kesulitan orang lain demi mencapai ridha Allah, maka harta tersebut akan menjadi kekayaan yang baik baginya. Orang seperti ini telah mempersiapkan akhirat dan kematiannya melalui harta yang dimilikinya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Seorang pemalas bukanlah orang yang sedikit bekerja, tapi orang yang banyak mengumpulkan harta namun kurang menginfakkannya. Orang berakal bukan orang yang mengumpulkan harta untuk keturunan berikutnya. Sebab, setelah kematian, hubungan antara ayah dengan anak, orang yang mewariskan dan orang yang menerima warisan, akan terputus.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Benar, ia telah bersusah payah mengumpulkan harta, namun orang lainlah yang akan menikmatinya. Dengan demikian, orang yang berakal tidak akan melakukan hal seperti itu. Memang benar, memperhatikan kesejahteraan anak dan istri merupakan kewajiban (perintah) agama. Namun, manusia harus mengerahkan sebagian besar jerih payahnya untuk mempersiapkan masa depan dirinya dan mencetak anak-anaknya sebagai anak-anak yang saleh dan taat beragama.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: lucida grande;" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-style: italic; font-family: lucida grande; color: rgb(204, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Oktober 2007, sebelum pergi ke Tanah Suci&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;       &lt;p style="font-style: italic; font-family: lucida grande; color: rgb(204, 0, 0);" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; (dikutip dari buku Himah dan Makna Haji&lt;br /&gt;karya Prof Jawad Amuli)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1578499656739805162-4042794404142323054?l=sehry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehry.blogspot.com/feeds/4042794404142323054/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1578499656739805162&amp;postID=4042794404142323054' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1578499656739805162/posts/default/4042794404142323054'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1578499656739805162/posts/default/4042794404142323054'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehry.blogspot.com/2008/03/mengapa-harus-lelah-mengumpulkan-harta.html' title='Mengapa Harus Lelah Mengumpulkan Harta?'/><author><name>Sri Haryati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15482356378009856181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://2.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/S0VZ7pqwnfI/AAAAAAAAAOk/5mumwR-YU24/S220/flower12a.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1578499656739805162.post-8290991874394274322</id><published>2008-02-22T00:10:00.000-08:00</published><updated>2008-02-22T00:15:09.823-08:00</updated><title type='text'>Mengemis pun Perlu Modal</title><content type='html'>&lt;p style="color: rgb(0, 0, 153); font-family: arial;" class="MsoNormal"&gt;Suasana masjid agung di bilangan elite Menteng seperti biasa, ramai sekali di hari Minggu pagi. Sudah beberapa tahun belakangan ini saya mengikuti Pengajian Dhuha yang diselenggarakan setiap Minggu pagi. Mungkin memang sudah menjadi hukum alam di banyak tempat, di mana ada keramaian, di situ ada peluang usaha. Begitu pun dengan masjid. Setiap hari Minggu banyak pedagang mencoba mengumpulkan rejeki dengan menggelar dagangannya. Dari pedagang pakaian muslim, buku-buku, aksesori, dan tak ketinggalan makanan dan jajanan dengan aneka menu pilihan sesuai selera.&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: webdings; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: webdings; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Oh ya, juga banyak pengemis yang berharap mendapat bunga-bunga sosial dari jamaah yang keluar dari masjid yang hendak sarapan pagi atau belanja sesuatu dari pedagang di situ. Para pengemis ini datang dari berbagai tempat yang rata-rata tak jauh lokasi tempat tinggalnya dari masjid tersebut. Misalnya daerah Manggarai. Ada yang sudah sepuh seusia nenek-nenek, ada ibu-ibu yang membawa serta bayi atau anaknya yang masih kecil, ada orang cacat yang kalau berjalan harus dipapah. Banyak juga usia anak-anak TK dan SD.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: webdings; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: webdings; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Berhubung saya setiap berangkat mengaji pagi-pagi sekali dan belum sempat sarapan, seusai pengajian pun perut saya seperti menuntut minta diisi. Pagi itu saya ingin makan ketoprak yang murah meriah. Dengan harga lima ribu rupiah sudah mendapat sepiring makanan khas Betawi yang enak.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: webdings; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: webdings; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;           &lt;span style="font-family: arial;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Ketika sedang asyik menyuap ketupat yang dicampur bumbu kacang, seorang anak perempuan usia sekitar 6 tahun datang mendekat. Dia menyodorkan mangkuk kecil tempat uang receh bagi yang ingin memberinya sedekah. Saya akan mengeluarkan dompet, tetapi seorang ibu di depan saya yang sedang menyantap sate ayam, mengedipkan mata. Dengan bahasa tubuhnya dia meminta agar saya mengurungkan niat memberi uang pada pengemis cilik itu.&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: webdings; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; color: rgb(0, 0, 153); font-family: arial;"&gt;Ibu itu berkata padanya, “Untuk apa uang-uang yang kamu dapat?”&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; color: rgb(0, 0, 153); font-family: arial;"&gt;“Untuk beli makan,” jawab si gadis cilik mantap.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; color: rgb(0, 0, 153); font-family: arial;"&gt;“Oooh, untuk makan? Kalau begitu Ibu pesankan sate, ya? Nanti kamu makan sama Ibu di sini.” Anak kecil itu mengangguk malu-malu.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; color: rgb(0, 0, 153); font-family: arial;"&gt;Sambil menunggu tukang sate menyiapkan porsi untuknya, saya mengajaknya ngobrol ringan.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; color: rgb(0, 0, 153); font-family: arial;"&gt;“Kamu tinggal di mana, Dik?”&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; color: rgb(0, 0, 153); font-family: arial;"&gt;“Di Manggarai,” jawabnya polos.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; color: rgb(0, 0, 153); font-family: arial;"&gt;“Kamu tidak sekolah?” si Ibu gantian yang bertanya. Anak itu menggelengkan kepalanya dengan cepat. “Kenapa?” tanya Ibu itu lagi.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; color: rgb(0, 0, 153); font-family: arial;"&gt;“Saya orang enggak punya,” jawabnya singkat.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; color: rgb(0, 0, 153); font-family: arial;"&gt;“Bapak kamu enggak kerja?” tanya saya.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; color: rgb(0, 0, 153); font-family: arial;"&gt;“Kerja jadi penjaga malam,” jawabnya&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; color: rgb(0, 0, 153); font-family: arial;"&gt;“Kamu kemari sama siapa?” tanya saya lagi.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; color: rgb(0, 0, 153); font-family: arial;"&gt;“Sama Emak, adik-adik, Bibi, dan saudara-saudara.”&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; color: rgb(0, 0, 153); font-family: arial;"&gt;Wah, rombongan cukup besar, pikirku. “Naik apa kemari?” tanyaku. Sebab kalau untuk ukuran anak kecil, jarak Manggarai – Menteng pastinya sangat melelahkan kalau ditempuh jalan kaki.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; font-family: webdings; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; color: rgb(0, 0, 153); font-family: arial;"&gt;“Naik bajaj,” katanya sambil menerima sate ayam yang dipesan untuknya.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; font-family: webdings; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;I&lt;span style="font-family: arial;"&gt;bu di depan saya langsung memandang saya seperti hendak bertanya sesuatu. Mungkin pertanyaan&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family: arial;"&gt;dalam benaknya sama dengan pertanyaan saya&lt;/span&gt;.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; font-family: webdings; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; font-family: webdings; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Sambil mengunyah ketropak, pikiranku mengajak berhitung. Berarti keluarga pengemis itu kemungkinan sama seperti jamaah-jamaah masjid lain yang datang ke situ dengan naik transportasi umum. Sama-sama mengeluarkan uang (baca : modal) uang untuk sampai ke tujuan. Sama seperti saya yang berangkat dan pulang naik bus dari Rawamangun&lt;/span&gt;.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; font-family: webdings; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; font-family: webdings; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Masih ingat dalam benak saya, beberapa waktu lalu ketika harga BBM naik dan ongkos transportasi naik, ibu-ibu jamaah ada yang mengeluh karena harus mengeluarkan uang lebih banyak dibanding sebelumnya. Namun ibu-ibu itu tak kuasa menolak, karena memang sudah peraturan pemerintah kalau tarif harus naik. Mengaji pun tetap jalan terus, meski pun ongkosnya jadi lebih mahal. Ibu-ibu lain pun bisa sama keluhannya setiap ada kenaikan tarif angkutan, karena imbasnya bisa kemana-mana. Yang usaha dagang makanan pun perlu suntikan lebih banyak agar usahanya tetap berjalan&lt;/span&gt;.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; font-family: webdings; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; font-family: webdings; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Begitu pun dengan para pengemis swakarsa yang tidak dikelola oleh seorang koordinator. Mereka secara individu datang dengan ongkos yang mereka tanggung sendiri. Sebelum berangkat mengemis ke masjid, paling tidak mereka harus menyiapkan modal uang untuk ongkos naik bajaj. Entah berapa rupiah yang mereka harus keluarkan. Ongkos 8.000 sampai 10.000 rupiah tentu bukan jumlah yang sedikit untuk ukuran mereka&lt;/span&gt;.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; font-family: webdings; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; font-family: webdings; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Kalau mengemis saja perlu modal, apalagi kalau kita mau dapat rejeki dengan cara yang lebih terhormat? Tak ada usaha yang tidak pakai modal. Berdoa dan bekerja juga bagian dari usaha. Tanpa berniat membenarkan profesi pengemis yang kesannya dipandang sebagai pekerjaan orang-orang malas yang tak mau berusaha mencari nafkah, terbukti memang tak ada rejeki yang datang tiba-tiba tanpa susah payah lebih dulu. Tak ada rejeki yang datang kalau hanya diiringi dengan keluhan, gerutuan, kejengkelan dan ketidaksabaran&lt;/span&gt;.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; font-family: webdings; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; font-family: webdings; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Aku jadi ingat ucapan salah satu Ustadz dalam satu pengajian, usaha apa pun jika kita ikhlas dan sabar mengerjakannya, Insya Allah akan mendapatkan hasil, seperti janji Allah dalam Surat Al Baqarah ayat 153 : “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar&lt;/span&gt;.”&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: webdings; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: webdings; color: rgb(0, 0, 153); font-style: italic;" class="MsoNormal"&gt;Menteng 2007&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: webdings; color: rgb(0, 0, 153); font-style: italic;" class="MsoNormal"&gt;(Sri Haryati)&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1578499656739805162-8290991874394274322?l=sehry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehry.blogspot.com/feeds/8290991874394274322/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1578499656739805162&amp;postID=8290991874394274322' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1578499656739805162/posts/default/8290991874394274322'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1578499656739805162/posts/default/8290991874394274322'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehry.blogspot.com/2008/02/mengemis-pun-perlu-modal.html' title='Mengemis pun Perlu Modal'/><author><name>Sri Haryati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15482356378009856181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://2.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/S0VZ7pqwnfI/AAAAAAAAAOk/5mumwR-YU24/S220/flower12a.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1578499656739805162.post-4629934679214608255</id><published>2008-02-20T22:32:00.000-08:00</published><updated>2008-12-11T09:39:56.855-08:00</updated><title type='text'>Iiih, apa sih manfaatnya merokok?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/R70b4PdPmJI/AAAAAAAAABw/7aKrR-HkRT4/s1600-h/cigarette2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/R70b4PdPmJI/AAAAAAAAABw/7aKrR-HkRT4/s200/cigarette2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5169318600327010450" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/R70btvdPmII/AAAAAAAAABo/CpdeE-vB8-I/s1600-h/cigarette.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/R70btvdPmII/AAAAAAAAABo/CpdeE-vB8-I/s200/cigarette.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5169318419938384002" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:navy;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="color:navy;"&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 51, 0);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Setiap 31 Mei Hari Tanpa Rokok Sedunia diperingati. Sebagai peringatan, betapa bahayanya dampak rokok bagi kesehatan. Sampai kurun 20 tahun mendatang, rokok menjadi pembunuh terbanyak di dunia, bersaing dengan AIDS.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="color:navy;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(153, 102, 51);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Alan Landers, mantan bintang film yang pernah divonis dokter kena kanker paru-paru akibat rokok dan pernah datang ke Indonesia mengatakan, pabrik-pabrik rokok masih mencari mangsa 11.000 perokok pemula setiap harinya. Karenanya, banyak acara sekolah yang disponsori oleh perusahaan rokok. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(153, 102, 51);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(153, 102, 51);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Badan Kesehatan Dunia PBB (WHO) mencanangkan tema Hari Tanpa Rokok Sedunia tahun ini adalah &lt;i&gt;Tobacco Free Film and Fashion&lt;/i&gt;, seruan pada dunia hiburan untuk bebas dari rokok. Salah satu tindakannya adalah, berhenti mempromosikan atau mengiklankan rokok karena bisa membahayakan kesehatan umum. Awalnya, Hari Tanpa Rokok Sedunia diperingati 31 Mei 1987. WHO menyadari perlu adanya kampanye antirokok, karena dampak dari wabah akibat rokok begitu besar, padahal yang mengeruk keuntungan besar adalah para produsen rokok dan pemerintah yang memperoleh cukai rokok. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(153, 102, 51);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(153, 102, 51);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Khusus untuk Indonesia saja, keuntungan pemerintah dari cukai rokok mencapai 17 trilyun rupiah tahun 2001 lalu. Tahun 2002 mencapai 22,3 trilyun rupiah. Diperkirakan, tahun 2005 nanti keuntungan dari cukai rokok bisa 44 trilyun rupiah. Ironinya, di Indonesia setiap hari sekitar 57.000 orang meninggal dunia karena penyakit akibat rokok. Menurut data dari konsultan Bank Dunia, kadar tar dan nikotin yang diizinkan di Indonesia adalah yang paling tinggi diantara 62 negara yang disurvei. Kalau negara-negara maju memperketat peraturan terhadap rokok dan masyarakatnya makin sadar akan bahaya rokok, industri rokok multinasional justru mengalihkan pasarannya ke negara-negara yang peraturan tentang rokok masih lemah, seperti Indonesia yang merupakan surga bagi industri rokok.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(153, 102, 51);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(153, 102, 51);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Betapa bahayanya rokok bagi kesehatan, sehingga dikatakan bahwa merokok akan menjadi pembunuh terbesar di dunia setelah AIDS sampai sekitar kurun waktu 20 tahun ke depan. Diprediksi, setiap 1.000 ton tembakau mengakibatkan kematian 650 orang. Fakta-fakta lain dari dampak tembakau antara lain :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;ul style="margin-top: 0in; font-family: trebuchet ms; color: rgb(153, 102, 51);" type="disc"&gt; &lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Setiap tahun tembakau membunuh 3,5 juta orang di seluruh dunia. Dengan kata lain, sekitar 10.000 orang mati setiap hari akibat rokok. Sebagian besar ada di negara berkembang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Rokok yang mengandung tar rendah bukan jaminan aman bagi kesehatan. Asap rokoknya tetap mengandung karbon monoksida dan tar. Perokok dan orang-orang di sekitarnya (perokok pasif) bisa dibilang sedang menabung zat racun yang menunggu waktu untuk berkembang menjadi penyakit. Racun rokok mengakibatkan kanker saluran napas, bronkhitis, bengek, gangguan jantung, dan stroke. Kanker akibat rokok baru bisa dirasakan setelah 20-30 tahun merokok.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Merokok juga mempengaruhi menstruasi, karena racun nikotin dapat mengecilkan pembuluh darah yang bisa menganggu pembekuan darah. Sel darah beku (trombosit) bisa lengket sehingga memperbesar sumbatan pembuluh darah. Bila sumbatan tersebut terjadi di rahim, menstruasi juga terhambat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ada sekitar 4.000 partikel zat kimia yang merugikan kesehatan pada satu batang rokok. Racun utama rokok adalah nikotin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Asap rokok bisa menimbulkan gangguan saluran pernapasan (pnemonia) dan banyak lendir. Lendir yang berkumpul dapat menjadi media tumbuhnya kuman. Bila keadaan itu terus didiamkan, akan mengakibatkan bronkhitis kronik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt; &lt;/ul&gt;   &lt;span style="font-family: trebuchet ms; color: rgb(153, 102, 51);font-family:&amp;quot;;font-size:100%;color:navy;"   &gt;Perokok pasif ikut kena getahnya, padahal mereka tidak menikmati rokok, hanya kena asapnya. Asap dari ujung rokok yang terbakar banyak mengandung zat racun kimia. Asap dari pembakaran rokok akan naik ke udara, kemudian terisap oleh perokok pasif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 0); font-style: italic;"&gt;catatan :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="color: rgb(255, 102, 0); font-style: italic;"&gt;sudah dimuat di majalah Mombi Mei 2004 dalam rangka hari tanpa rokok sedunia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1578499656739805162-4629934679214608255?l=sehry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehry.blogspot.com/feeds/4629934679214608255/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1578499656739805162&amp;postID=4629934679214608255' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1578499656739805162/posts/default/4629934679214608255'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1578499656739805162/posts/default/4629934679214608255'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehry.blogspot.com/2008/02/iiih-apa-sih-manfaatnya-merokok.html' title='Iiih, apa sih manfaatnya merokok?'/><author><name>Sri Haryati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15482356378009856181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://2.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/S0VZ7pqwnfI/AAAAAAAAAOk/5mumwR-YU24/S220/flower12a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/R70b4PdPmJI/AAAAAAAAABw/7aKrR-HkRT4/s72-c/cigarette2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1578499656739805162.post-4626201539236890345</id><published>2008-02-20T02:18:00.000-08:00</published><updated>2008-12-11T09:39:57.394-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='perjalanan religi'/><title type='text'>Selamat dan salam untukmu, ya Rasul</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/R7v_zfdPmFI/AAAAAAAAABU/43UeuCe2JIs/s1600-h/raudah-repro.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/R7v_zfdPmFI/AAAAAAAAABU/43UeuCe2JIs/s200/raudah-repro.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5169006257420343378" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;         &lt;p style="color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;"&gt;Assalamu’alaikum, ya Rasulullah,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Aku datang menziarahimu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Sekian waktu tak terbilang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Kunantikan saat-saat mengunjungi makammu,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Wahai kekasih Allah….&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;       &lt;p style="color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;"&gt;Dalam kebisuan di ‘rumahmu’,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Aku mendengar shalawat untukmu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Dengan siraman air mata ketulusan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;                    &lt;p style="color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;"&gt;Aku seperti melihat senyummu ‘di balik sana’&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Menyapa dan bertanya dengan suara lembut,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;“Apa kabarmu dari negeri nan jauh?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Aku bisa merasakannya, karena aku merasa sangat tenang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;dan nyaman berada dekat taman surgamu, Raudhah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Aku bermunajat ingin meniru tauladanmu,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Kesabaranmu yang bagai seluas samudera&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Ketulusanmu yang luar biasa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Dan kesantunanmu yang menggugah mata dunia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;         &lt;p style="color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;"&gt;Saat engkau menjadi bahan lelucon,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Dalam secarik gambar komik yang mencemooh,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Tahukah engkau, wahai Rasulku?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Dada dan hatiku tercabik-cabik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;                  &lt;p style="color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;"&gt;Namun kuyakin,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Di alammu kau akan tetap tersenyum&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Penuh kesabaran beriringan dengan ketabahan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Menerima semua perlakuan tak sopan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Seperti hinaan dan cacian yang dulu-dulu kau terima&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Sarat dengan ejekan, fitnah, ditingkahi kata-kata kasar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Namun kau balas dengan uluran tangan keikhlasan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Sampai Allah memanggilmu ke haribaan-Nya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial Narrow&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;Salam sejahtera untukmu, ya Habiballah….&lt;/span&gt;&lt;o:p style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;Raudhah, 22 November 2007&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1578499656739805162-4626201539236890345?l=sehry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehry.blogspot.com/feeds/4626201539236890345/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1578499656739805162&amp;postID=4626201539236890345' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1578499656739805162/posts/default/4626201539236890345'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1578499656739805162/posts/default/4626201539236890345'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehry.blogspot.com/2008/02/selamat-dan-salam-untukmu-ya-rasul.html' title='Selamat dan salam untukmu, ya Rasul'/><author><name>Sri Haryati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15482356378009856181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://2.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/S0VZ7pqwnfI/AAAAAAAAAOk/5mumwR-YU24/S220/flower12a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/R7v_zfdPmFI/AAAAAAAAABU/43UeuCe2JIs/s72-c/raudah-repro.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1578499656739805162.post-1861425027688062486</id><published>2008-02-19T00:40:00.000-08:00</published><updated>2008-12-11T09:39:57.705-08:00</updated><title type='text'>Visit Indonesia Year 2008</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/R7qZGvdPmDI/AAAAAAAAABE/Q5YQcT3u6zM/s1600-h/banjir-Jl+Cip+Jaya+%28samping+LP+Cipinang%29.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/R7qZGvdPmDI/AAAAAAAAABE/Q5YQcT3u6zM/s320/banjir-Jl+Cip+Jaya+%28samping+LP+Cipinang%29.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5168611863458453554" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/R7qYw_dPmCI/AAAAAAAAAA8/rmIdf5erU7k/s1600-h/banjir-pombensin+dekat+polsek+P.Gadung.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/R7qYw_dPmCI/AAAAAAAAAA8/rmIdf5erU7k/s320/banjir-pombensin+dekat+polsek+P.Gadung.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5168611489796298786" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"  style="text-indent: 0.5in;font-family:arial narrow;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ada keluhan seorang remaja putri putus sekolah yang dimuat harian Kompas Minggu (17 Februari 2008). Hati saya masygul membacanya. Sri Mulyati, nama remaja yang putus sejak kelas 1 SMA itu mengutarakan isi hatinya. Ia hidup bersama dua orang adiknya yang duduk di bangku SMA dan SMP, dan ibu yang mencari nafkah menjadi buruh cuci pakaian. Himpitan ekonomi membuat ia sadar diri tidak meneruskan sekolah. Di surat terbuka yang sebenarnya ditujukan kepada Gubernur Fauzi Bowo itu Sri Mulyati mengisahkan perjuangan ibunya untuk menghidupi anak-anaknya dari penghasilan yang boleh dibilang minim. Adiknya sudah sering menangis dan merengek pada sang ibu lantaran sering ditegur guru sekolahnya karena tidak juga melunasi uang sekolah. Saat ibunya meminta keterangan, pihak sekolah menunjukkan serentet peraturan-peraturan tertulis yang membuat ibunya tambah bingung karena tak dapat membaca. Sehari-hari kurang gizi sehingga keluarga itu sering sakit. Masalah lain timbul bila sakit, sulit mendapatkan surat keterangan keluarga miskin, asuransi kesehatan bagi orang mskin, dan keterangan semacam itu yang bila ingin mengurusnya tentu tidak gratis. Sri Mulyati tidak sendirian. Ia masih punya teman senasib di negeri ini umumnya dan kota &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1203410313_1"&gt;Jakarta&lt;/span&gt; khususnya.  Hidup bagai ‘di tepi’ ambang batas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;        &lt;div class="MsoNormal"  style="font-family:arial narrow;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Bukan hanya Sri dan adik-adiknya yang teancam putus sekolah. Anak-anak lain yang sudah menjadi murid sekolah pun menerima pelajaran sekolah dengan tersendat-sendat dengan berbagai alasan. Ada yang rumahnya dibuldozer seperti warga Rawasari, sehingga anak-anak sekolah bingung bagaimana harus tinggal, bagaimana harus ke sekolah dengan persiapan buku-buku dan baju licin tersetrika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;        &lt;div class="MsoNormal"  style="font-family:arial narrow;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Di belahan propinsi lain di negeri ini, banyak yang kocar-kacir diterjang banjir. Rumah hancur, harta benda raib, badan sakit menahan dingin, bahkan ada beberapa yang meninggal dunia hanyut terseret ganasnya arus banjir. Terpaksalah mereka tinggal di tenda-tenda pengungsian tanpa fasilitas memadai. Sudah menjadi pola umum, bila musim banjir tiba, tenda-tenda pengungsian di berbagai daerah menjadi pemandangan yang biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;        &lt;div class="MsoNormal"  style="font-family:arial narrow;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Tetapi selain warga dan remaja yang menghiba pada pemerintah untuk menolong hidup mereka, ada juga remaja-remaja yang pesta pora kelewat batas. Maksud hati mereka ingin menghibur diri dengan menonton konser musik &lt;i&gt;punk&lt;/i&gt;, musik hingar bingar yang jauh sekali dari tujuan menghibur bagi kebanyakan orang yang mencari hiburan. Mereka loncat-loncatan, berteriak-teriak, dan urak-urakan bagai kerasukan syetan. Hasilnya, 11 remaja ‘menyerahkan nyawa’ pada perhelatan hiburan tak karuan itu. Konon berdasarkan liputan investigasi salah satu stasiun televisi, setiap penonton yang hendak masuk ke arena konser itu diberi minuman keras gratis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;         &lt;div class="MsoNormal"  style="font-family:arial narrow;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Lalu sesuai  dengan judul tulisan ini, &lt;i&gt;Visit &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1203410313_2"&gt;Indonesia&lt;/span&gt; Year 2008&lt;/i&gt;, apa yang hendak  dipertunjukkan kepada calon wisatawan? Tentu bukan kemiskinan, bukan? Tetapi  apa daya, Tahun Kunjungan &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1203410313_3"&gt;Indonesia&lt;/span&gt; 2008 dibuka dengan ‘tayangan’ banjir yang merendam rumah-rumah di mana-mana dan meminta korban jiwa, potret para ibu yang antri beras, minyak goreng dan minyak tanah di berbagai daerah, atau kenyataan remaja-remaja yang dijemput maut akibat narkoba dan minuman keras. Inikah pertunjukan yang akan kita suguhkan pada turis mancanegara? Inikah wajah negeri seribu pulau nan indah? Inikah poster kehidupan sebuah bangsa yang kaya raya kekayaan alamnya dengan gemah ripah loh jinawi? Negeri kami adalah negeri yang kaya akan alamnya, di darat dan lautan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;        &lt;div class="MsoNormal"  style="font-family:arial narrow;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Ya Allah, jangan hancurkan negeri kami seperti negeri kaum Saba’ di zaman lalu. Seperti kisah Kaum Saba’ dalam kitab suci Al Qur’an surat 34 ayat 15, &lt;i&gt;“Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada Tanda (Kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua bukan kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan), “Makanlah olehmu dari Rezeki yang (Dianugerahkan) Tuhan-mu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah dan negeri yang baik dan (Tuhan-mu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;        &lt;div class="MsoNormal"  style="text-indent: 0.5in;font-family:arial narrow;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kami sadar kami khilaf, dan bapak-bapak di tampuk pemerintahan mungkin masih lupa dengan janji-janji program saat mereka kampanye. Boleh jadi negeri kami sama kayanya dengan Negeri Saba'. Tapi jangan samakan nasib kami sama hancurnya dengan Kaum Saba' akibat kepongahan dan kemaksiatan mereka. Semoga Visit &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1203410313_4"&gt;Indonesia&lt;/span&gt; Year 2008 yang masih akan berlangsung 10 bulan lagi  tidak hanya  melihat negeri ini sebagai mozaik kesemrawutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sri Haryati&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;        &lt;div  class="MsoNormal" style="font-family:arial narrow;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;        &lt;div  class="MsoNormal" style="font-family:arial narrow;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Rawamangun, Ba’da Subuh 18 Februari 2008&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1578499656739805162-1861425027688062486?l=sehry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehry.blogspot.com/feeds/1861425027688062486/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1578499656739805162&amp;postID=1861425027688062486' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1578499656739805162/posts/default/1861425027688062486'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1578499656739805162/posts/default/1861425027688062486'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehry.blogspot.com/2008/02/visit-indonesia-year-2008.html' title='Visit Indonesia Year 2008'/><author><name>Sri Haryati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15482356378009856181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://2.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/S0VZ7pqwnfI/AAAAAAAAAOk/5mumwR-YU24/S220/flower12a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/R7qZGvdPmDI/AAAAAAAAABE/Q5YQcT3u6zM/s72-c/banjir-Jl+Cip+Jaya+%28samping+LP+Cipinang%29.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1578499656739805162.post-5920834260541597034</id><published>2008-02-15T00:29:00.000-08:00</published><updated>2008-02-15T00:32:07.620-08:00</updated><title type='text'>Keterpaksaan Berbuah Manis</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;Kenangan Ramadhan pastinya tidak gampang dilupakan. Terlebih bila kenangan itu manis. Biasanya masa kanak-kanak juga tak mudah dilupakan. Begitu pun dengan kejadian Ramadhan saat aku masih kelas 5 SD. Karena begitu melekatnya kenangan itu, waktu terjadinya, aku ingat benar.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Suatu ketika aku habis bermain-main dengan teman menghabiskan waktu sore di saat berpuasa, aku pulang ke rumah. Kaget juga, ternyata ada Pak Ustadz guru mengajiku sedang ngobrol sama Bapakku. Ada apa, nih? Tanya hatiku saat itu. Tumben, Pak Ustadz Sanusi ngobrol sama Bapak?&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Aku tersenyum pada mereka seraya melenggang masuk ke rumah. Tetapi keburu dipanggil Bapak. “Kamu tahu tidak, kenapa Pak Ustadz datang kemari?” Tegas Bapakku. Aku menggeleng sambil pikir-pikir, rasa-rasanya aku tidak melakukan kenakalan di pengajian. Apakah Pak Ustadz mengadukan sesuatu yang rahasia ke bapakku? Melihat aku masih diam kebingungan, Bapak bilang, “Kamu ikut lomba membaca Al Qur’an tingkat RW nanti.” &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Hah? Aku kaget. Aku takut. Aku tidak mau.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Tapi belum sempat aku memberi jawaban, Pak Ustadz Sanusi tersenyum dan mengangguk-angguk. “Kamu mewakili pengajian kita di lomba membaca Qur’an dalam rangka Hari Nuzulul Qur’an&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; color: red;"&gt;*&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;.” Aku menjawab lirih, “Tetapi saya tidak bisa baca Al Qur’an dengan bagus. Saya cuma bisa membaca saja, tapi tidak bisa melagukannya,” kataku. &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Nanti saya ajarkan. Sebelum lomba kamu akan saya latih,” jawab Pak Ustadz. Ketika mau mendebat lagi, Bapakku keburu berkomentar, “Aku sudah terlanjur bilang, bahwa kamu bisa ikut. Kalau Pak Ustadz memilih kamu, berarti kamu punya kelebihan. Tidak boleh ada kata takut atau malu-malu.”&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Sebagai anak kandung Bapakku, aku lebih takut sama dia ketimbang pada guru ngajiku. Titah Bapak tidak terbantahkan. Dia sudah biasa mendidikku dengan keras dan disiplin. Tidak ada alasan tidak bisa kalau belum dicoba. Denga terpaksa aku mengangguk. Mungkin saat itu aku sampai tak bisa menangis. Apalagi dari kecil sudah dibiasakan untuk tidak cengeng.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Selanjutnya, setiap sore jam empat sampai menjelang magrib aku berlatih membaca Al Qur’an. Paling tidak, secara hukum Tajwid&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; color: red;"&gt;**&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; aku tidak belepotan. Dengan sabar Pak Ustadz meluruskan caraku membaca panjang-pendek lafaz ayat-ayat suci. Maklum, sampai kelas 5 SD di pengajian aku baru sampai tahap Kitab Juz’amma&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; color: red;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;, belum sampai pada Kitab Al Qur’an.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Sampai tibalah acara lomba membaca Al Qur’an. Aku canggung begitu memasuki arena lomba. Semua peserta terlihat dari wajahnya sudah senior. Kayaknya cuma aku yang masih kecil. Di antara penonton yang hadir, ada Bapakku. Seketika aku ingat kata-katanya sebelum aku berangkat lomba, “Kalau kamu takut dan malu di hadapan orang banyak, anggap saja mereka batu. Kamu tahu kan, batu tidak punya mulut dan mata, jadi tidak ada yang menatap dan mencibiri kamu. Kamu pasti bisa dan tidak gentar.”&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Giliran namaku dipanggil maju ke podium, badanku serasa gemetar. Tapi aku tidak boleh takut, tidak boleh mundur. Kalau sudah maju, harus terus melangkah ke depan. Begitu kira-kira dorongan Bapakku. Aku mengucap salam pada dewan juri, dan mulai membaca. Ayat demi ayat yang kulantunkan seperi berlalu begitu saja. Sampai akhirnya aku selesai menunaikan tugas mewakili pengajian sebagai peserta lomba. Aku lega. Aku tak peduli menang atau kalah. Yang penting aku sudah melakukan kewajiban.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Hari demi hari berlalu. Akhirnya pengumuman siapa pemenang Lomba Membaca Al Qur’an tiba. Aku dapat undangan khusus sebagai peserta. Acaranya diadakan di Gedung Karang Taruna RW kami, dan banyak perwakilan dari &lt;i&gt;mushalla&lt;/i&gt; atau masjid di lingkungan kami yang hadir. Bapakku juga hadir di antara para peserta. Aku datang tanpa beban apa-apa, hanya ikut meramaikan acara, dan tentu dapat sekotak kue hehehe…. Sebagai anak kecil, kue sepertinya sangat berarti.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Ketika nama-nama pemenang dikumandangkan, aku masih sibuk dengan isi kotak kue yang ada di pangkuanku. Tapi aku kaget karena namaku dipanggil. “Sri Haryati sebagai juara ketiga kategori anak-anak perempuan!” Hah? Itu namaku? Apa ada nama Sri Haryati yang lain sebagai peserta lomba? Rasanya tidak. Belum hilang rasa terkejutku, guru ngajiku memberi isyarat agar aku maju ke depan panggung, bergabung dengan peserta lain sebagai pemenang.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Ya, itu memang namaku!” kataku dalam hati. Aku maju. Dengan canggung tentunya, karena aslinya sejak kecil aku sangat pemalu dan canggung berada di antara orang banyak. Dalam hati aku senang juga, dapat hadiah.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Aku pulang dan membuka hadiahnya. Wow! Kitab Suci Al Qur’an dengan &lt;i&gt;cover&lt;/i&gt; warna hijau lumut. Aku senang sekali, karena sebelumnya aku tidak punya Al Qur’an pribadi. Aku hanya punya Juz’amma yang selalu kupakai mengaji. Ketika aku memandangi kitab suci itu, Bapakku mendekat dan berkata, “Benar kan Bapak bilang, kalau guru ngajimu memilih kamu, itu karena dia pandang kamu bisa. Kamu tidak perlu malu.”&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Sampai usia sedewasa ini, semua kata-kata Bapakku yang sering membakar semangatku masih kuingat, dan seakan selalu terngiang-ngiang setiap aku ragu dalam melakukan sesuatu. Bapakku memang keras dalam mendidik anak-anaknya, terutama aku sebagai anak pertama. Dia sangat disiplin, dan tidak boleh ditawar-tawar. Kalau waktunya pergi mengaji, aku tidak boleh masih terlihat santai-santai nonton TV di rumah. Kalau waktunya belajar, tidak boleh main. Mungkin untuk anak-anak zaman sekarang metode mendidik seperti bapakku sudah dianggap kuno dan kejam, karena merampas hak anak untuk bersenang-senang dan bermain. Tetapi sebagai pribadi, aku bisa memetik hasilnya sekarang. &lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;"&gt;Ketika aku diterima sebagai reporter di sebuah media di Jakarta, banyak sekali dorongan-dorongan Bapak yang kuterima sejak kecil yang kupakai. Apalagi profesiku menuntut kemandirian. Terima kasih banyak untuk semua jasa-jasa Bapakku. Kalau bukan karena didikannya, aku tidak akan menjadi diriku yang seperti sekarang ini. Alhamdulillah Ya Allah, Engkau beri aku karunia seorang ayah yang mengantarku sampai  berangkat dewasa.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;(Sri Haryati)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;1 Ramadhan 1428H&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;Sebagai dedikasiku untuk Ayahku&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;u&gt;keterangan :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;*Nuzulul Qur’an&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; = Hari lahirnya Al Qur’an, jatuh tanggal 17 Ramadhan&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;** Tajwid&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; = Hukum (tata cara) membaca Al Qur’an berdasarkan tanda-tanda baca dalam huruf-huruf atau bacaan kitab suci tsb.&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;*** Juz’amma&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; = Bagian dari ayat-ayat suci Al Qur’an yang berisi surat-surat pendek dan dikumpulkan dalam satu buku (kitab)&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1578499656739805162-5920834260541597034?l=sehry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehry.blogspot.com/feeds/5920834260541597034/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1578499656739805162&amp;postID=5920834260541597034' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1578499656739805162/posts/default/5920834260541597034'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1578499656739805162/posts/default/5920834260541597034'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehry.blogspot.com/2008/02/keterpaksaan-berbuah-manis.html' title='Keterpaksaan Berbuah Manis'/><author><name>Sri Haryati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15482356378009856181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://2.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/S0VZ7pqwnfI/AAAAAAAAAOk/5mumwR-YU24/S220/flower12a.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1578499656739805162.post-4060927598956215636</id><published>2008-02-14T23:08:00.000-08:00</published><updated>2008-12-11T09:39:57.903-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='perjalanan religi'/><title type='text'>Kupenuhi PanggilanMu, Ya Allah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/R7qkuvdPmEI/AAAAAAAAABM/Pe8jfYZu8GI/s1600-h/di+depan+baitullah.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/R7qkuvdPmEI/AAAAAAAAABM/Pe8jfYZu8GI/s320/di+depan+baitullah.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5168624645281126466" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Aku memenuhi panggilanMu, ya Allah,&lt;br /&gt;Dengan segala perjuangan,&lt;br /&gt;Bagaikan perjalanan dengan unta yang kurus *)&lt;br /&gt;Aku datang memenuhi panggilanMu, ya Robbi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika suatu masa Engkau membangunkanku&lt;br /&gt;dari mimpi-mimpi duniawi,&lt;br /&gt;Ketika kala itu teguran-teguranMu berlalu begitu saja&lt;br /&gt;dalam hari-hariku yang penuh penat dengan segala urusan,&lt;br /&gt;Ketika TanganMu yang Maha Lembut mengelusku dengan pertanyaan,&lt;br /&gt;“Bagaimana ibadahmu selama ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tersentak dari tidur, terjaga, dan ternganga,&lt;br /&gt;Mata ini berkaca-kaca seraya bertanya pada hati sendiri,&lt;br /&gt;“Kemana saja hari-hariku selama ini?”&lt;br /&gt;“Untuk siapa shalatku selama ini?”&lt;br /&gt;“Aku memang mengerjakan shalat,&lt;br /&gt;tetapi apakah aku sudah mendirikan shalat?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SapaanMu yang Maha Sejuk itu hadir dalam bunga tidurku&lt;br /&gt;Di suatu malam bulan Ramadhan&lt;br /&gt;Menyadarkan aku yang sok sibuk ini,&lt;br /&gt;Bahwa aku belum kaffah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SapaanMu itu membuka jendela mata hatiku&lt;br /&gt;Bahwa selain di dunia&lt;br /&gt;Ada kehidupan lain yang sedang menanti&lt;br /&gt;Dengan jauh lebih indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya….&lt;br /&gt;Aku ingin memenuhi panggilanMu, ya Allah&lt;br /&gt;Ya, Engkau, yang tak ada sekutu Bagi-Mu&lt;br /&gt;Aku ingin memenuhi janjiku padaMu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuatan demi kekuatan aku kumpulkan,&lt;br /&gt;Waktu demi waktu aku nantikan,&lt;br /&gt;Untuk datang ke rumahMu, ya Robbi&lt;br /&gt;Demi janjiku padaMu, wahai Zat Yang Maha Kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah aku, ya Allah…&lt;br /&gt;Yang pernah lengah dariMu&lt;br /&gt;Terimalah aku apa adanya, ya Allah&lt;br /&gt;Dengan segala dosa-dosa dan kelemahanku, ketidakberdayaanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada siapa lagi aku meminta ampun?&lt;br /&gt;Padahal hanya Engkaulah Yang Maha Pengampun.&lt;br /&gt;Kepada siapa lagi kumohonkan taubatku?&lt;br /&gt;Sedangkan cuma Engkau satu-satunya Zat Yang Maha Pemaaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bersujud dengan kepala-lutut-kaki bertumpu pada bumi&lt;br /&gt;Diiringi air mata taubat mengharap ridhoMu&lt;br /&gt;Dan terselip tanya,&lt;br /&gt;“Maka nikmat Tuhanmu manakah yang engkau dustakan?” **)&lt;br /&gt;Terima kasih ya, Allah&lt;br /&gt;Engkau telah memilihku menjadi tamu-Mu kali ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Puisi ini dibuat beberapa saat sebelum azan Subuh di pesawat Garuda yang sudah berada di udara Saudi Arabia, menuju Madinah Al Mukaromah)&lt;br /&gt;21 November 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;keterangan :&lt;br /&gt;*) menurut tafsir Surat Al Hajj, unta yang kurus menggambarkan jauh dan sukarnya jalan yang ditempuh jamaah haji.&lt;br /&gt;**) petikan dari surat Ar-Rahman yang menggambarkan rahmat dan karunia Allah yang tak terkira, tak bisa ditukar dengan apa pun.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1578499656739805162-4060927598956215636?l=sehry.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sehry.blogspot.com/feeds/4060927598956215636/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1578499656739805162&amp;postID=4060927598956215636' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1578499656739805162/posts/default/4060927598956215636'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1578499656739805162/posts/default/4060927598956215636'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sehry.blogspot.com/2008/02/kupenuhi-panggilanmu-ya-allah.html' title='Kupenuhi PanggilanMu, Ya Allah'/><author><name>Sri Haryati</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15482356378009856181</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='http://2.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/S0VZ7pqwnfI/AAAAAAAAAOk/5mumwR-YU24/S220/flower12a.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_D0PzfwNr_E0/R7qkuvdPmEI/AAAAAAAAABM/Pe8jfYZu8GI/s72-c/di+depan+baitullah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
